@Ikadanews - Inilah Dampak Pornografi Dalam Sebuah Perkawinan - Pornografi seperti halnya dua sisi mata uang. Di satu sisi, pornografi bertentangan dengan nilai-nilai agama dan moral. Sementara di lain sisi, pornografi digunakan sebagai bumbu dalam kehidupan seksual.
Seperti juga alkohol, memanfaatkan hal-hal yang berkaitan dengan pornografi secara berlebihan bisa membuat ketagihan.
Psikiater Mark Goulston, MD menjelaskan, pasangan menikah dapat memanfaatkan pornografi selama dalam kadar sewajarnya. Pornografi sebaiknya digunakan sebagai pelengkap hubungan dan tidak akan menggantikan seks nyata. Simak beberapa ciri penggunaan pornografi yang masih sehat seperti dikutip dari laman Shine.
1. Cara tercepat untuk menghilangkan tekanan pekerjaan dan kembali memperoleh konsentrasi dan semangat
2. Acapkali suami hanya ingin perubahan suasana. Dia merasa bersalah saat melakukan adegan seperti di film porno karena mencintai Anda dan tidak ingin menyakiti hati Anda.
3. Dia tetap menginginkan ada bagian kehidupan seksual hanya untuk pribadinya sendiri. Suami bisa melakukan masturbasi seperti fantasinya sama halnya istri yang kadang memiliki kehidupan seksual sendiri.
4. Suami memiliki dorongan seksual lebih tinggi dan inilah cara untuk memuaskannya tanpa mengganggu istri.
Namun, hal-hal berbau porno mulai berubah menjadi masalah apabila:
1. Dia merasa Anda mengabaikannya, sehingga lebih baik menonton video porno daripada berselingkuh.
2. Mengumpulkan dan menonton video porno adalah caranya menyangkal ketidakbahagiaan dalam hubungan Anda berdua.
3. Dia merasa ragu-ragu dapat menyenangkan Anda di tempat tidur, sehingga mengimbanginya dengan mengidentifikasi diri sebagai bintang-bintang porno dalam film
4. Dia hanya memperdulikan dirinya sendiri, Anda tidak masuk dalam hitungan.
5. Dia memiliki masalah kecanduan porno
Goulston menjelaskan, pasangan sebaiknya waspada jika pornografi mulai menimbulkan masalah. Keberadaan pornografi dalam hubungan dianggap mulai mengkhawatirkan apabila mempengaruhi keintiman kalian. Untuk mengatasinya, bicarakan dalam sebuah obrolan ringan tanpa kehilangan rasa humor. Toh, tak ada yang bisa hidup tanpa itu bukan?
Cari Artikel Disini
Home » pornografi
Showing posts with label pornografi. Show all posts
Showing posts with label pornografi. Show all posts
Inilah Pakaian Adat Indonesia Yang Mungkin Akan Dianggap Pornografi
@Ikadanews - Inilah Pakaian Adat Indonesia Yang Mungkin Akan Dianggap Pornografi - Bombastis ya judulnya? Iya dong! Kan supaya kamu penasaran, trus mau
ngebaca artikelnya. Kali ini MBDC akan membahas pakaian adat perempuan
Indonesia yang mungkin di masa depan akan dianggap pornografi, terus
dicekal deh. Eh, tunggu dulu, mungkin begitu pikir kamu. Kenapa cuma
pakaian adat yang perempuan yang dibahas, kenapa nggak pakaian
laki-lakinya juga? Ya karena ini adalah hari Kartini, harinya perempuan
Indonesia. Gimana sih kamu.
Alasan lainnya adalah, karena seringnya sih ya, kalau ada urusan porno-porno begini, pasti perempuan deh yang disalahin. Jadi inget kata-katanya Pak Suryadharma Ali (SA), Menteri Agama kita, mengenai definisi pornografi:
Alasan lainnya adalah, karena seringnya sih ya, kalau ada urusan porno-porno begini, pasti perempuan deh yang disalahin. Jadi inget kata-katanya Pak Suryadharma Ali (SA), Menteri Agama kita, mengenai definisi pornografi:
“Masih belum bisa dipastikan, tapi bisa kita rasakan sesuatu yang rasanya pornografi. Kami berpendapat harus ada kriteria umum. Misalnya untuk rok perempuan harus di bawah dengkul,”
Kurang lebih maksudnya Pak SA yang MBDC tangkep lewat pernyataannya di
atas adalah, kalau kamu bisa merasakan serrserran tak menentu pada
anu-anuanmu, itu artinya sesuatu itu adalah pornografi. Dalam hal ini
kemudian Pak SA mencontohkannya lewat rok mini.
Nah, jadi kalo menurut Pak SA perempuan gak boleh lagi pake rok mini,
bolehnya pake apa dong? Apakah perempuan Indonesia kemana-mana sekarang
harus pake pakaian adat karena dianggap sebagai jenis pakaian yang
paling mencerminkan “adat ketimuran”? Weits tunggu dulu. Menurut MBDC,
kalau kita berpijak pada definisi Pak SA tentang pornografi barusan,
pakaian adat pun gak aman! Ini contohnya:
1. Kebaya
1. Kebaya
Kebaya sangat rentan membuat orang yang melihatnya “merasakan
sesuatu”, seperti kata Pak SA. Potongannya yang feminin dan mengikuti
lekuk tubuh, ditambah dengan bahannya yang transparan, membuat kebaya
sungguhlah bikin serrserran!
2. Kemben Tradisional
2. Kemben Tradisional
Ini termasuk pakaian tradisional kita yang paling umum dijumpai di
pelosok nusantara loh! Terutama di jajaran adat Jawa atau pun Bali.
Seksi dan semlohey, memaparkan bahu dan leher perempuan Indonesia yang
memang indah-indah!
3. Bulang
Bulang adalah nama pakaian adat Dayak. Bentuknya manis banget. Rok selutut (kadang sedikit di atas lutut) dan atasan yang tak berlengan. Kenapa bisa bikin serrserran? Yah setidaknya kita tahu Ken Arok sih pasti tergoda ya melihat betis mulus tersingkap dengan indahnya!
3. Bulang
Bulang adalah nama pakaian adat Dayak. Bentuknya manis banget. Rok selutut (kadang sedikit di atas lutut) dan atasan yang tak berlengan. Kenapa bisa bikin serrserran? Yah setidaknya kita tahu Ken Arok sih pasti tergoda ya melihat betis mulus tersingkap dengan indahnya!
4. Pakaian Adat Papua
Pakaian adat perempuan di Papua namanya bermacam-macam, tergantung suku dan bahasanya. Yang satu ini juga sangat tidak aman kalau dilihat dari definisi pornonya Pak SA, soalnya buka-bukaan banget nih!
Pakaian adat perempuan di Papua namanya bermacam-macam, tergantung suku dan bahasanya. Yang satu ini juga sangat tidak aman kalau dilihat dari definisi pornonya Pak SA, soalnya buka-bukaan banget nih!
5. Baju Bodo
Baju adat Makassar ini sebenarnya selain cantik, juga tertutup.
Banyak juga baju adat Indonesia lain yang modelnya tertutup seperti ini,
contohnya baju kurung, baju adat Minahasa, Ulee Balang dan lain
sebagainya. Terus, aman dong? Eh sapa bilang? Tetep aja bisa dituding
pornografi kalau definisinya adalah yang bisa dirasa-rasain gitu. Justru
banyak orang yang makin serrserran sama jenis pakaian yang tertutup
gitu, makin misterius makin sip katanya!
Nah terus gimana dong? Dari segitu beragamnya pakaian adat perempuan Indonesia, masa semuanya gak aman? Yahh.. abis mau gimana lagi? Intinya, memang semua jenis pakaian perempuan bisa dianggap pornografi, tergantung siapa yang melihat dan merasakannya. Toh rasa itu kan sangat subjektif. Lantas, bukan berarti semuanya harus dicekal kan? Jadi ya sudahlah, MBDC sih sepakat, terserah aja perempuan memilih baju apa pun yang ingin dia kenakan. Gak mau pake baju juga gak pa pa. Palingan kita di sini senyam senyum doang. Iyalah, emangnya mau ngapain? Mau merkosa? Kita sih yakin, sebagai manusia yang beradab, pikiran kita masih waras dan bisa dikendalikan. Gak tau deh kalo Pak SA gimana.
Nah terus gimana dong? Dari segitu beragamnya pakaian adat perempuan Indonesia, masa semuanya gak aman? Yahh.. abis mau gimana lagi? Intinya, memang semua jenis pakaian perempuan bisa dianggap pornografi, tergantung siapa yang melihat dan merasakannya. Toh rasa itu kan sangat subjektif. Lantas, bukan berarti semuanya harus dicekal kan? Jadi ya sudahlah, MBDC sih sepakat, terserah aja perempuan memilih baju apa pun yang ingin dia kenakan. Gak mau pake baju juga gak pa pa. Palingan kita di sini senyam senyum doang. Iyalah, emangnya mau ngapain? Mau merkosa? Kita sih yakin, sebagai manusia yang beradab, pikiran kita masih waras dan bisa dikendalikan. Gak tau deh kalo Pak SA gimana.
Sejarah Pornografi, Jaman Purba sampai Modern
@Ikadanews - Sejarah Pornografi, Jaman Purba sampai Modern - Pornografi sering digambarkan sebagai penyakit masyarakat masa kini, sebuah bukti dari kemerosotan moral di era modern.
Namun, eksistensi pornografi ada jauh sebelum teknologi video maupun foto.
Para ilmuwan berpendapat, proses evolusi memang membuat kecenderungan manusia pada rangsangan visual.
Bagaimanapun pembagian periodesasi sejarah, keberagaman materi pornografi secara historis menunjukkan bahwa manusia akan selalu tertarik pada gambaran seksual.
"Seks memainkan peran super-penting dalam kehidupan manusia dan pola relasi mereka," kata Seth Prosterman, ahli seksologi klinis dari San Francisco, seperti dimuat situs LiveScience.
"Apapun yang terkait atau dilakukan manusia soal seks selalu menimbulkan rasa ingin tahu dan ketertarikan."
Representasi erotisme yang kali pertama dikenal manusia -- meski mungkin tidak porno -- ada sejak 30.000 tahun lalu. Di masa Paleolitikum, manusia memahat ukiran buah dada besar atau perempuan hamil dari kayu atau batu.
Para arkeolog meragukan itu adalah 'figur Venus' yang berkaitan dengan seksualitas. Diduga kuat, pahatan itu adalah ikon religius atau simbol kesuburan.
Kemudian, pada masa Yunani dan Romawi kuno, sudah ada patung-patung bertema homoseksualitas, juga termasuk patung-patung yang menaggambarkan hubungan seksual tak wajar.
Di India, pada abad ke-2 terbitlah buku panduan tentang hubungan seksual yang tetap tenar hingga saat ini, Kama Sutra. Sementara masyarakat kuno Perum Moche, menorehkan imej seksual dalam kerajinan keramik. Beda lagi dengan kaum aristokrat Jepang di abad ke-16. Mereka biasa membaca bacaan erotis yang ditulis di lembaran kayu tipis.
Di dunia Barat masa lalu, beberapa material erotis lebih bersifat politis, dari pada pornografi. Demikian menurut Joseph Slade, profesor di Ohio University.
Di masa revolusi Perancis, kerap dijumpai satir menyindir para aristokrat dengan pamflet seksual. "Lebih mengarah pada caci maki politis yang dikamuflasekan menjadi pornografi," kata Slade.
Kelahiran pornografi
Gagasan porno mulai menyebar pada tahun 1800-an. Namun, Penerbitan novel erotis justru lebih cepat, pada pertengahan 1600-an di Prancis.
Sementara, novel porno berbahasa Inggris pertama diketahui berjudul "Memoirs of a Woman of Pleasure" dipublikasikan pada 1748.
Teknologi menjadi pendorong pornografi. Pada 1839, Louis Daguerre menemukan daguerreotype -- versi primitif dari fotografi. Media ini juga dimanfaatkan untuk pornografi. Karya 'jorok' pertama daguerreotype yang selamat dari jamannya bertahun 1846.
Pornografi kemudian memanfaatkan teknologi video. Pada 1896, para pembuat film di Prancis membuat klip bisu erotis berjudul "Le Coucher de la Marie."
Sementara versi pornografi yang lebih keras 'hard core' mulai ada setelah tahun 1900. "Versi itu biasanya dipertunjukkan dalam pertemuan laki-laki," kata Slade.
Dalam waktu yang lama, konten dalam film porno relatif stagnan, baik dalam isi maupun kualitas. Perubahan terjadi pada tahun 1970-an -- saat kultur masyarakat mulai membuka ruang untuk film-film yang lebih 'eksplisit'.
Internet dan penemuan kamera digital membuat pornografi makin meraja lela. Makin mudah untuk membuat film atau klip porno. Dan banyak situs web yang ditujukan khusus untuk para pembuat film porno non-profesional alias amatiran.
Pergeseran dari menonton ramai-ramai ke individual -- dengan cara menyewa film atau download video mengubah tipe adegan yang ditampilkan di layar.
Pada tahun 1994 Carnegie Mellon meneliti soal pornografi dalam komputer Bulletin Board Systems -- pendahulu World Wide Web (www). Ia menemukan 48 persen konten pornografi yang diunduh dari komputer jauh dari 'seks normal' -- melainkan kebrutalan, incest, bahkan pedofilia.
Saat ini, pornografi makin marak di internet, namun seberapa besar industri pornografi tak bisa diukur. Tak ada catatan resmi.
Pada tahun 2007, menurut editor senior Adult Video News, Mark Kernes, penjualan ritel pornografi mencapai US$ 6 miliar per tahun.
Namun, angka itu banyak diperdebatkan. Sebab, angka itu belum menghitung video amatir yang diunggah ke internet.
Terlepas dari berapa banyak uang yang dihasilkan, pornografi memang menarik. Sebuah studi yang dilakukan di AS pada 2008, dengan responden 813 mahasiswa, menunjukkan 87 persen pria dan 31 persen wanita adalah pengguna pornografi.
Penelitian ini dipublikasikan dalam Journal of Adolescent Research.
Dampak pornografi
Apa akibat pornografi pada kita? Ini pertanyaan kontroversial. Sejumlah kritikus berpendapat, persaingan dalam industri pornografi meningkatkan dominasi dan pelecehan terhadap perempuan -- terutama untuk film yang ditujukan untuk pria bukan penyuka sesama jenis.
"Para pembuat pornografi selalu merasa perlu untuk membuat sesuatu yang baru, yang menarik," kata Chyng Sun, profesor telaah media pada New York University.
Dengan menganalisis film porno laris, Sun telah menemukan bahwa agresi fisik dan verbal hadir di 90 persen dari mainstream adegan porno. Film disutradarai oleh perempuan kemungkinan mengandung agresi dari pada film yang disutradarai oleh laki-laki. Ia menuliskan laporan ini dalam jurnal Psychology of Women Quarterly.
Sun mengatakan, gambaran agresif ini berbahaya bagi kehidupan seksual masyarakat dan mengarah pada stereotip negatif tentang perempuan.
Namun tak semua ahli setuju. Seksolog dari San Francisco, Prosteman berpendapat, para peneliti gagal menarik hubungan langsung antara pornografi dan perilaku seksual kriminal.
Kata dia, pornografi adalah salah satu cara bagi orang untuk mengeksplorasi hasrat seksual mereka sendiri.
Adu pendapat soal pornografi bukan hanya di masa kini. Perdebatan telah berlangsung setidaknya sejak era Victoria.
Namun, eksistensi pornografi ada jauh sebelum teknologi video maupun foto.
Para ilmuwan berpendapat, proses evolusi memang membuat kecenderungan manusia pada rangsangan visual.
Bagaimanapun pembagian periodesasi sejarah, keberagaman materi pornografi secara historis menunjukkan bahwa manusia akan selalu tertarik pada gambaran seksual.
"Seks memainkan peran super-penting dalam kehidupan manusia dan pola relasi mereka," kata Seth Prosterman, ahli seksologi klinis dari San Francisco, seperti dimuat situs LiveScience.
"Apapun yang terkait atau dilakukan manusia soal seks selalu menimbulkan rasa ingin tahu dan ketertarikan."
Representasi erotisme yang kali pertama dikenal manusia -- meski mungkin tidak porno -- ada sejak 30.000 tahun lalu. Di masa Paleolitikum, manusia memahat ukiran buah dada besar atau perempuan hamil dari kayu atau batu.
Para arkeolog meragukan itu adalah 'figur Venus' yang berkaitan dengan seksualitas. Diduga kuat, pahatan itu adalah ikon religius atau simbol kesuburan.
Kemudian, pada masa Yunani dan Romawi kuno, sudah ada patung-patung bertema homoseksualitas, juga termasuk patung-patung yang menaggambarkan hubungan seksual tak wajar.
Di India, pada abad ke-2 terbitlah buku panduan tentang hubungan seksual yang tetap tenar hingga saat ini, Kama Sutra. Sementara masyarakat kuno Perum Moche, menorehkan imej seksual dalam kerajinan keramik. Beda lagi dengan kaum aristokrat Jepang di abad ke-16. Mereka biasa membaca bacaan erotis yang ditulis di lembaran kayu tipis.
Di dunia Barat masa lalu, beberapa material erotis lebih bersifat politis, dari pada pornografi. Demikian menurut Joseph Slade, profesor di Ohio University.
Di masa revolusi Perancis, kerap dijumpai satir menyindir para aristokrat dengan pamflet seksual. "Lebih mengarah pada caci maki politis yang dikamuflasekan menjadi pornografi," kata Slade.
Kelahiran pornografi
Gagasan porno mulai menyebar pada tahun 1800-an. Namun, Penerbitan novel erotis justru lebih cepat, pada pertengahan 1600-an di Prancis.
Sementara, novel porno berbahasa Inggris pertama diketahui berjudul "Memoirs of a Woman of Pleasure" dipublikasikan pada 1748.
Teknologi menjadi pendorong pornografi. Pada 1839, Louis Daguerre menemukan daguerreotype -- versi primitif dari fotografi. Media ini juga dimanfaatkan untuk pornografi. Karya 'jorok' pertama daguerreotype yang selamat dari jamannya bertahun 1846.
Pornografi kemudian memanfaatkan teknologi video. Pada 1896, para pembuat film di Prancis membuat klip bisu erotis berjudul "Le Coucher de la Marie."
Sementara versi pornografi yang lebih keras 'hard core' mulai ada setelah tahun 1900. "Versi itu biasanya dipertunjukkan dalam pertemuan laki-laki," kata Slade.
Dalam waktu yang lama, konten dalam film porno relatif stagnan, baik dalam isi maupun kualitas. Perubahan terjadi pada tahun 1970-an -- saat kultur masyarakat mulai membuka ruang untuk film-film yang lebih 'eksplisit'.
Internet dan penemuan kamera digital membuat pornografi makin meraja lela. Makin mudah untuk membuat film atau klip porno. Dan banyak situs web yang ditujukan khusus untuk para pembuat film porno non-profesional alias amatiran.
Pergeseran dari menonton ramai-ramai ke individual -- dengan cara menyewa film atau download video mengubah tipe adegan yang ditampilkan di layar.
Pada tahun 1994 Carnegie Mellon meneliti soal pornografi dalam komputer Bulletin Board Systems -- pendahulu World Wide Web (www). Ia menemukan 48 persen konten pornografi yang diunduh dari komputer jauh dari 'seks normal' -- melainkan kebrutalan, incest, bahkan pedofilia.
Saat ini, pornografi makin marak di internet, namun seberapa besar industri pornografi tak bisa diukur. Tak ada catatan resmi.
Pada tahun 2007, menurut editor senior Adult Video News, Mark Kernes, penjualan ritel pornografi mencapai US$ 6 miliar per tahun.
Namun, angka itu banyak diperdebatkan. Sebab, angka itu belum menghitung video amatir yang diunggah ke internet.
Terlepas dari berapa banyak uang yang dihasilkan, pornografi memang menarik. Sebuah studi yang dilakukan di AS pada 2008, dengan responden 813 mahasiswa, menunjukkan 87 persen pria dan 31 persen wanita adalah pengguna pornografi.
Penelitian ini dipublikasikan dalam Journal of Adolescent Research.
Dampak pornografi
Apa akibat pornografi pada kita? Ini pertanyaan kontroversial. Sejumlah kritikus berpendapat, persaingan dalam industri pornografi meningkatkan dominasi dan pelecehan terhadap perempuan -- terutama untuk film yang ditujukan untuk pria bukan penyuka sesama jenis.
"Para pembuat pornografi selalu merasa perlu untuk membuat sesuatu yang baru, yang menarik," kata Chyng Sun, profesor telaah media pada New York University.
Dengan menganalisis film porno laris, Sun telah menemukan bahwa agresi fisik dan verbal hadir di 90 persen dari mainstream adegan porno. Film disutradarai oleh perempuan kemungkinan mengandung agresi dari pada film yang disutradarai oleh laki-laki. Ia menuliskan laporan ini dalam jurnal Psychology of Women Quarterly.
Sun mengatakan, gambaran agresif ini berbahaya bagi kehidupan seksual masyarakat dan mengarah pada stereotip negatif tentang perempuan.
Namun tak semua ahli setuju. Seksolog dari San Francisco, Prosteman berpendapat, para peneliti gagal menarik hubungan langsung antara pornografi dan perilaku seksual kriminal.
Kata dia, pornografi adalah salah satu cara bagi orang untuk mengeksplorasi hasrat seksual mereka sendiri.
Adu pendapat soal pornografi bukan hanya di masa kini. Perdebatan telah berlangsung setidaknya sejak era Victoria.
Subscribe to:
Posts (Atom)








