@Ikadanews - Cerita Dewasa : Nina Mahasiswi Bandung Terjebak Permainan Bos ( Khusus Dewasa ) 17+ - Namaku Nina, saat ini aku sedang kuliah semester akhir di salah satu
perguruan tinggi swasta di kota Bandung. Saat kejadian itu menimpaku,
aku sedang duduk di semester dua. Sebenarnya seluruh keluargaku tinggal
di kota Jakarta, dan mereka agak keberatan jika aku harus kuliah di luar
kota, tapi saat itu aku sudah bertekad untuk belajar hidup mandiri
hingga akhirnya mereka mengijinkan aku untuk melanjutkan studi di kota
tersebut.
Di Bandung aku tinggal di sebuah kos putri yang letaknya tidak begitu
jauh dari kampusku. Aku tinggal bersama seorang temanku yang aku kenal
di kampus. Namanya Lenny, dia gadis berdarah Sunda asli. Padahal dia
bisa saja tinggal di rumahnya yang juga berada di kota Bandung, tapi
menurutnya dia ingin lebih bisa berkonsentrasi dengan kuliahnya, jadi
dia memutuskan untuk tinggal di kos bersamaku.
Lenny adalah gadis yang sangat pintar dan juga sopan, begitu sopannya
sampai-sampai dia tidak pernah mengenakan pakaian yang seksi atau
sedikit terbuka saat bepergian atau berangkat kuliah, padahal menurutku
wajah Lenny sangat cantik, rambutnya panjang dan hitam dengan kulit
tubuh yang putih mulus, layaknya gadis gadis Sunda pada umumnya,
sementara postur tubuhnya juga sangat bagus dan proporsional,
pinggangnya ramping didukung oleh kedua belah kakinya yang jenjang,
apalagi Lenny juga memiliki payudara yang besar, mungkin dua kali lebih
besar daripada buah dadaku. Pokoknya, jika saja Lenny mau berdandan dan
sedikit mengubah penampilannya, dia bisa menjadi salah satu gadis
tercantik di tempat kuliahku.
Untuk memenuhi kebutuhanku agar tidak terlalu mengandalkan uang kiriman
dari orang tuaku, aku memutuskan untuk kuliah sambil bekerja paruh waktu
di salah satu club billiard yang cukup besar dan eksklusif di kota
Bandung. Aku bekerja menjadi salah seorang penjaga meja, sekaligus
merangkap pramusaji di club tersebut, kadang kadang aku merasa sangat
lelah dan letih, apalagi jika aku harus terpaksa pulang larut malam dari
tempat kerja. Tapi tidak apalah, yang penting aku bisa mempunyai cukup
uang dan dapat memenuhi kebutuhanku sendiri tanpa harus mengandalkan
kiriman uang dari orang tuaku, lagipula aku sudah bertekad untuk belajar
hidup mandiri.
Singkat cerita, hari itu aku sedang bingung, karena besok adalah hari
terakhir waktu pembayaran uang semester, padahal kiriman dari orang tua
belum juga sampai ke rekeningku, dan saat gajianku masih seminggu lagi,
sementara uang tabunganku sudah habis untuk keperluan dan biaya hidupku
sehari-hari hingga sore itu aku benar benar pusing memikirkannya.
Akhirnya, kuberanikan diri untuk meminjam uang ke club tempat aku
bekerja, tapi perusahaan tidak dapat mengabulkan permohonanku dengan
alasan saat itu tidak ada dana yang tersedia karena seluruh uang yang
ada sudah disetorkan ke pemiliknya.
Malam itu, dengan perasaan sedih dan bingung, aku berkemas untuk pulang
kembali ke kosku. Saat itu jam kerjaku memang telah selesai. Aku
berjalan lunglai dari ruangan karyawan, bingung memikirkan nasibku
besok, saat kulihat Lenny sudah menungguku di ruang tunggu
“Gimana Nin? Dapat pinjaman uangnya?” tanya Lenny.
“Nggak bisa Len.. Nggak apa-apa deh, besok gua minta keringanan aja dari kampus” ujarku dengan nada lemas.
“Elu sendiri, dari mana.? Tumben mampir ke sini?” tambahku sambil
melihat ke arah jam tanganku, saat itu sudah hampir jam sepuluh malam,
tidak biasanya Lenny berani keluar malam-malam, pikirku heran.
“Gua abis dari mall di depan, ngecek ATM, siapa tahu kiriman gua udah
sampai, buat nalangin bayaran elu, tapi ternyata belum sampai..” ujar
Lenny dengan nada menyesal.
“Thanks banget untuk usaha lu Len.” ujarku sambil mengajaknya pulang.
Kami berdua berjalan melewati ruangan billiard. Saat itu di sana masih
ada empat orang tamu yang sedang bermain ditemani oleh manajerku, mereka
adalah teman-teman dari pemilik club tersebut, jadi walaupun club
tersebut sudah tutup, mereka tetap dapat bebas bermain. Aku sempat
berpamitan dengan mereka sebelum aku kembali berjalan menuju pintu
keluar saat tiba-tiba salah seorang dari mereka memanggilku..
“Nin.., Temenin kita main dong..!” serunya.
“Kita taruhan. Berani nggak?” tambah temannya sambil melambaikan tangannya ke arahku.
Aku tertegun sejenak sambil menatap bengong ke arah mereka. Rupanya
mereka sedang berjudi, dan mereka mengajakku untuk bergabung. Wah, boleh
juga nih. Siapa tahu menang.., pikirku.
“Taruhannya apa? Saya lagi tidak bawa uang banyak..!” seruku, sementara kulihat Pak Dicky manajerku, berjalan menghampiriku.
“Gampang.., kalau kamu bisa menang, satu game kami bayar lima ratus
ribu, tapi kalau kamu kalah, nggak perlu bayar, kamu cuma harus buka
baju aja, kita main sepuluh game.. Setuju?” seru salah seorang dari
mereka.
Aku terkesiap mendengar tantangannya, kulirik Lenny yang saat itu sudah
berada di depan pintu keluar, dia tampak menggelengkan kepalanya, sambil
memberi tanda kepadaku, agar aku cepat-cepat meninggalkan club
tersebut.
“Brengsek! Nggak mau..!” ujarku sambil membalikkan tubuhku. Bisa-bisa
aku telanjang kalau dalam sepuluh game itu aku kalah terus, pikirku
dengan sebal. Tapi tiba-tiba langkahku terhenti saat tangan manajerku
menahan pundakku.
“Terima aja Nin, kamu kan lagi butuh uang, lagipula mereka nggak begitu jago kok..!” ujar manajerku berusaha membujuk.
“Tapi Pak..!” jawabku dengan nada bingung, sebenarnya aku mulai tertarik
untuk memenuhi tantangan mereka, dengan harapan aku bisa memenangkan
seluruh game, lagipula aku benar benar membutuhkan uang tersebut.
“Sudahlah.! Kalau kamu bersedia nanti saya kasih tambahan uang, lagipula
nggak enak menolak tamu-tamu bos..” ujarnya sambil terus membujukku.
“Oke.. Tapi kalau saya kalah terus gimana?” tanyaku kepada mereka.
“Tenang aja, kamu hanya lepas baju aja kok! Kami janji nggak akan
berbuat macam macam..!” seru orang yang berada paling dekat denganku.
“Baik.. Tapi janji.. Tidak akan macam macam!” jawabku memastikan
perkataan mereka, sementara Lenny langsung berjalan menghampiriku.
“Lu udah gila apa Nin..! Gua ngga setuju!” serunya dengan nada marah.
“Tenang aja Len, elu duduk aja di sana, nungguin gua..! Oke?” ujarku sambil menunjuk ke arah sofa yang berada di pojok ruangan.
“Tapi Nin?” ujar Lenny dengan wajah ketakutan.
“Udah, nggak apa-apa, elu nggak perlu takut..” sanggahku sambil
tersenyum menenangkan hatinya, akhirnya Lenny pun berjalan dan duduk di
sofa tersebut.
Sudah lima game berjalan, aku menang dua kali dan kalah tiga kali,
membuat aku harus menanggalkan jaket, blouse dan celana panjang yang
kukenakan hingga saat itu hanya tersisa bra dan celana dalam saja yang
masih melekat di tubuhku. Jangan sampai kalah lagi, ujarku dalam hati,
dua kali lagi aku kalah, maka aku akan benar-benar bugil. Pikiranku
mulai panik, sementara di pojok ruangan, Lenny sudah tampak mulai resah
melihat keadaanku.
Tapi naas. Udara dingin dari AC di ruangan tersebut membuat aku sulit
untuk berkonsentrasi sehingga aku kembali kalah pada game keenam,
membuat mereka langsung bersorak riuh, memintaku untuk segera
menanggalkan bra yang kukenakan. Aku sudah hampir menangis saat itu,
tapi mereka terus memaksaku, maka dengan perasaan berat dan malu,
akhirnya kulepaskan juga bra yang melekat di tubuhku, membuat buah
dadaku langsung mencuat dan terbuka di hadapan mata mereka yang tampak
melotot saat memandang tubuh telanjangku.
“Sudah.. Sudah, kita berhenti saja, saya menyerah!” seruku memelas
sambil berusaha menutupi tubuh bagian atasku, saat itu aku sudah merasa
sangat malu dan tidak lagi berminat untuk meneruskan taruhan itu.
“Nggak bisa..! Perjanjiannya kan sampai kamu telanjang, baru
permainannya selesai..!” protes lawan mainku, akhirnya aku hanya bisa
menuruti kemauannya.
“Buka.. Buka..!” sorak mereka saat pada game berikutnya aku kembali kalah dan harus melepas celana dalamku.
“Sudah.. Kita batalkan saja taruhannya..!” jeritku sambil meraih
pakaianku dan berlari menjauhi mereka, tapi salah seorang dari mereka
dengan sigap menubrukku dari belakang, membuatku terhempas di atas meja
billiard dengan posisi menelungkup dan laki-laki itu menindihku dari
atas.
“Lepaskan..!” teriakku kaget sambil meronta dengan sekuat tenaga, tapi
laki laki itu terus menindihku dengan kuat, membuat aku benar benar
tidak bisa bergerak sama sekali, akhirnya aku terkulai lemah tak berdaya
sambil terus menangis.
“Pak dicky..! Tolong saya Pak..!” jeritku sambil menyapukan pandangan mencari manajerku.
Betapa terkejutnya aku saat kulihat Pak Dicky sedang mendekap tubuh
Lenny sambil tangannya berusaha melucuti pakaian yang melekat di
tubuhnya dibantu oleh tiga orang temannya. Bersamaan dengan itu
kurasakan sesuatu mendesak masuk ke dalam liang kemaluanku. Rupanya saat
itu laki-laki yang berada di atas tubuhku, sudah akan memperkosaku. Dia
menyelipkan batang penisnya dari sela-sela celana dalam yang kukenakan
dan terus menekannya dengan keras, membuat batang kemaluannya makin
terhunjam masuk melewati bibir vaginaku.
“Jangan.. Ouh..!!” jeritku sambil berusaha menahan pahanya dengan kedua
tanganku, tapi batang kemaluannya terus melesak masuk, sehingga akhirnya
benar-benar terbenam seluruhnya di dalam liang vaginaku.
“Jangan keluar di dalam, Pak..!” gumamku pelan sambil menahan tubuhku yang berguncang saat laki-laki itu mulai memompaku.
“Oke.. Uh.. Ssh.. Kamu cantik Nina..!” ceracau laki laki itu saat mulai bergerak di dalam tubuhku.
“Ouh.. Hh..!” desahku lirih.
Aku memejamkan mataku, merasakan getaran yang mulai menjalari seluruh
tubuhku, saat pemerkosaku menghentakkan tubuhnya dengan makin cepat,
membuat aku mulai terangsang saat itu, dan tanpa sadar aku pun ikut
menggerakkan pinggulku, berusaha mengimbangi gerakannya.
Aku memang sudah sering melakukan hubungan badan dengan pacarku sejak
aku masih duduk di bangku SMU, malah kegadisanku telah terenggut oleh
pacarku saat aku masih di kelas satu SMA, dan sejak saat itu kami rutin
melakukan aktifitas seks, sampai akhirnya aku pergi melanjutkan studi di
Bandung, dan sekarang aku kembali merasakan kenikmatan itu setelah
selama satu tahun aku tidak pernah lagi bersetubuh.
“Ouh.. Shh. Ah.” desahku sambil terus menggoyangkan pinggulku.
Sementara di pojok ruangan, kulihat Lenny sedang berjuang dengan sekuat
tenaga untuk melepaskan diri dari keempat orang yang sedang
menggumulinya. Saat itu keadaan Lenny benar benar sudah sangat
berantakan, kemeja lengan panjang yang di kenakannya sudah terbuka lebar
dan hampir lepas dari tubuhnya, sementara bra yang dikenakannya sudah
tampak setengah terbuka hingga membuat satu payudaranya menyembul
keluar.
“Jangan.. Jangan.. Lepaskan.. Tolong..!” jeritnya keras sambil berusaha
meronta dan melawan dengan gigih saat seseorang dari mereka mulai
mengangkat rok panjang yang dikenakan oleh Lenny.
“Jangan..! Toloong..!” jerit Lenny makin keras sambil
menendang-nendangkan kedua belah kakinya saat mereka mulai menggerayangi
tubuh bagian bawahnya dengan buas.
“Hentikann..! Hentikan.!” teriak Lenny putus asa sambil menangis
sejadi-jadinya sementara tangannya berusaha menggapai ke arah bawah,
mencoba menahan tangan-tangan yang sedang melolosi celana dalamnya, tapi
gerakannya tertahan oleh tangan Pak Dicky yang saat itu terus mendekap
tubuh Lenny dari belakang.
Manajerku itu terus memaksanya untuk tetap berada di dalam pangkuannya,
sambil sesekali meremas dan mempermainkan puting buah dada Lenny.
Beberapa saat kemudian, dua orang dari mereka mengangkat tubuh Lenny
sambil merenggangkan kedua belah kakinya, sementara Pak Dicky tetap
mendekap tubuh Lenny sambil mulai mengarahkan batang kemaluannya ke
sela-sela bibir kemaluan temanku itu.
Saat itu keadaan Lenny sungguh sangat mengenaskan, pakaian bagian
atasnya sudah terbuka dengan lebar, sementara roknya pun telah
tersingkap sampai sebatas perutnya, dan aku dapat melihat jelas, saat
tubuh Lenny tampak menggeliat hebat ketika kedua orang yang mengangkat
tubuhnya itu mulai menurunkannya dengan perlahan, membuat batang
kemaluan Pak Dicky melesak masuk ke dalam liang vaginanya.
“Ough..! Jangaan..!” jerit Lenny parau sambil meringis kesakitan ketika vaginanya mulai dijejali oleh kemaluan Pak Dicky.
Perlahan, kulihat batang kemaluan itu terus melesak masuk sampai
akhirnya lenyap dan terbenam seluruhnya di dalam liang rahim Lenny, saat
itu tubuh Lenny benar-benar telah menyatu dengan tubuh Pak Dicky. Dan
Lenny tampak mengerang kesakitan sambil menggeliatkan tubuhnya.
“Arghh.. Sakitt.., perihh, lepaskan itu dari tubuhku..!” jerit Lenny
dengan nafas yang tersengal-sengal, dia masih berusaha meronta, ketika
Pak Dicky mulai bergerak di dalam tubuhnya, membuat Lenny makin
menjerit-jerit kesakitan, sampai akhirnya tubuhnya terkulai lemas tak
sadarkan diri di dalam dekapan Pak Dicky.
Pak Dicky masih terus memompa tubuh Lenny yang pingsan itu dengan kasar,
begitu kasarnya hingga membuat tubuh temanku itu ikut berguncang dengan
hebat. Buah dadanya yang besar tampak menggeletar dan terlempar kesana
kemari saat tubuhnya bergerak naik turun, sementara saat itu aku pun
masih terus digarap oleh laki-laki yang sedang memperkosaku, sampai
akhirnya tubuhku menegang dengan keras.
“Ohh..!” aku mendesah keras saat telah mencapai orgasme, seluruh sumsum
di tulangku serasa ditarik keluar ketika aku benar-benar telah mencapai
puncak kenikmatan, tapi tiba-tiba aku menjadi panik luar biasa saat
kurasakan penis laki-laki itu berdenyut keras di dalam liang rahimku.
“Jangan.. Jangan di dalam..! Lepaskan.. Bajingan..!” jeritku putus asa
saat kurasakan cairan hangat membanjiri rongga kemaluanku. Laki-laki itu
telah menyemburkan cairan spermanya di dalam liang rahimku.
Sesaat kemudian posisinya sudah digantikan oleh temannya, dan aku
kembali diperkosa. Sementara di pojok ruangan, Lenny pun masih terus
digarap oleh mereka, kulihat darah keperawanannya meleleh keluar dari
sela-sela bibir vaginanya, bercampur dengan cairan sperma, saat seorang
dari mereka mulai kembali melesakkan liang vagina Lenny dengan batang
penisnya.
Malam itu, Aku dan Lenny menjadi piala bergilir, tubuh kami berdua
dikerjai dan diperkosa habis-habisan oleh mereka. Siksaan itu baru
berakhir saat waktu sudah menunjukkan jam empat subuh. Kulihat di
depanku tertumpuk sejumlah uang pecahan seratus ribu. Kuraih uang
tersebut sambil berusaha bangkit dan mengenakan seluruh pakaianku,
setelah itu aku berjalan mendekati tubuh Lenny yang masih meringkuk di
sudut ruangan. Saat itu dia sudah siuman dari pingsannya, dia mengerang
kesakitan sambil menangis meratapi kegadisannya yang telah terenggut
paksa pada malam itu. Kurangkul tubuhnya dan membantunya berjalan
pulang…
Cari Artikel Disini
Home » bos
Showing posts with label bos. Show all posts
Showing posts with label bos. Show all posts
Koleksi Foto Sekretaris seksi Dambaan Para Bos
@Ikadanews - Koleksi Foto Sekretaris seksi Dambaan Para Bos - berikut ini adalah koleksi foto-foto skretaris seksi dambaan para bos , oke gan tanpa panjang lebar silahkan lihat sendiri fotonya :
Cerita Dewasa : Puteri Bosku Yang Berumur 18 Tahun ' Khusus Dewasa '
@Ikadanews.info - Cerita Dewasa : Puteri Bosku Yang Berumur 18 Tahun ' Khusus Dewasa ' - Cerita dewasa ini dimulai dari seseorang bernama Irwan,ciri-ciriku adalah muka tampan,.tubuh ramping,kulit sawo matang,dan agak tinggi,umurku adalah 18 tahun.
Hubungan Seks
Tapi aku tak kuliah dan memilih untuk mencari pekerjaan untuk mengjhidupi keluargaku,saat SMA dulu banyak wanita yang menyukaiku karena aku memang tampan,tetapi jujur tak ada yang dapat meluluhkan hatiku.Aku baru saja lulus dari SMA dan akan mencari pekerjaan.
Akupun melihat lowongan pekerjaan di Koran,yang menarik perhatianku adalah sebuah toko pakaian yang baru buka,mereka mencari seorang pegawai,aku berangkat ke toko itu dengan segera menggunaka sepeda motorku.
Setelah 30 menit akhirnya aku melihat sebuah toko baju,menurutku toko itu lumayan besar,akupun masuk ke sana,tak ada seorangpun kecuali seorang tante yang kira-kira berumur 50 tahunan di tempat kasir,akupun menghampirinya,aku tersenyum padanya dan dia membalas senyumanku,
“Eh,nyonya,saya mencari pekerjaan”Kataku membuka percakapan
“Oh,iya,pegawai kami baru saja keluar,kamu boleh bekerja di sini”
Setelah itu nyonya itu menjelaskan padaku mulai dari peraturan,cara menyapa,cara melayani,dan lain – lain.
“Wah,kamu cepat tangkap,ya?”Kata nyonya itu sambil tersenyum
Akupun tersenyum kecil saja.Belakangan kuketahui nyonya itu bernama nyonya Leni,kulitnya berwarna putih,rambut panjang,dan wajahnya agak cantik menurutku.
Dia juga baru saja mengetahui namaku.
“Dengar Irwan,aku mau pergi sebentar,kamu tolong awasi toko ini”
“Wah,tapi saya baru bekerja nyonya”
“Tak apa-apa,nanti akan kusuruh putriku turun menemanimu”
“Hmmmm,oke,deh”Jawabku tersenyum.
Nyonya Leni pun memanggil nama “Livia,Livia”,dari belakang pintu di sebelah kasir terdengar suara seorang gadis.
Lalu gadis itu pun keluar,sungguh aku terpesona padanya,gadis bernama Livia itu sungguh cantik,tubuhnya mungil dan agak montok,payudaranya lumayan besar,pantatnya montok berisi,kulitnya putih,rambut hitam panjang,dan senyumannya adalah senyuman termanis yang pernah kulihat,kuakui aku jatuh cinta pada pandangan pertama padanya.Setelah nyonya Leni pergi,kuberanikan diri untuk menyapanya
“Hai”
“Hai,pegawai baru,ya?”
“Iya”Jawabku tersenyum
Kamipun berbincang – bincang sebentar,dapat kuketahui Livia sekarang berumur 18 tahun,ibunya adalah seorang wanita sibuk,begitu juga dengan ayahnya,jadi dia sering membantu menjaga toko,tak lama kemudian seorang pelanggan datang,akupun melayaninya secepatnya agar bisa berbincang – bincang dengan Livia,setelah pelanggan itu mendapat barang yang dia inginkan dan membayar,akupun kembali ke dekat kasir.
“Kalo jam sekarang masih sepi,Wan,nanti sekitar jam 3 baru ramai”
“Ohhh,akupun mengangguk
Harus kuakui Livia sangat asyik,semua omongan jadi nyambung,baru pertama kali ini aku menemui gadis seperti ini.
“Liv,kamu sudah punya pacar?”Tanyaku penasaran
“Belum,kalo kamu?”
“Aku juga belum”
“Oh,kita sama-sama single,dong”Katanya sambil tersenyum
Akupun tersenyum,rasanya aku ingin membalas “Kamu mau tidak sama aku?”Tapi aku tidak berani mengatakannya,jujur pertama ini aku bisa mengobrol lama dengan seorang gadis.Keringatku tak berhenti bercucuran pertanda aku gugup.
“Panas,ya?”Tanya Livia
“Hmmm,tidak,kok”Jawabku
“Hehehe,kamu keringatan,ya?”
“Iya,anggukku membalas candanya
Setelah lima menit seorang pelanggan masuk lagi,akupun melayaninya dan kembali ke Livia
“Wan,kamu asyik,ya,orangnya?”
Aku terkejut mendengarnya,ternyata leluconku yang dari tadi kuluncurkan dapat meluluhkan hatinya
“Ah,kamu juga asyik,kok”Jawabku dengan tersenyum
Wajah cantiknya tersenyum manis, kontolku terasa tak dapat diturunkan,sangat tegang.Kami berpandangan sebentar,lalu kuberanikan diri untuk menciumnya,jantungku serasa berdegup kencang,Livia agak terkejut,tapi dia tak memberontak, kukulum bibirnya dengan mesra,kami berciuman ala French Kiss,ini adalah ciuman pertamaku.
Suasana semakin memanas,kuberanikan diriku untuk mnyentuh payudara 34 B nya,Livia agak terkejut,tapi karena terlanjur nafsu dia membiarkan tanganku bermain sambil mulutku mencumbui mulutnya,sejenak Livia memberhentikan permainanku.
“Wan, kamu kunci pintu dulu, deh, malu kalau diliat orang nanti”
Akupun melangkah dengan cepat ke pintu depan, segera kukunci pintu itu dan kuganti tanda di pintu menjadi “CLOSE”
Lalu aku segera berjalan kea rah Livia, Livia mengajakku masuk ke dalam tokonya dan dia mengajakku ke kamarnya, setelah sampai ke kamarnya di lantai 2, kuberanikan diri untuk menciumnya lagi, Livia membalas ciumanku dengan mesra.
Sementara tanganku kembali meremas payudara Livia yang sudah mengeras, setelah lima menit kuberanikan diri untuk membuka pakaianku satu persatu, saat kontolku yang besar terpampang, Livia cukup kaget dan agak jijik, ini mungkin adalah pertama kalinya dia melihat sebuah *****, sementara selama ini aku tak pernah berhubungan badan, aku hanya mendapatkan ilmu dari film biru yang selalu kutonton.
Livia tak tahu harus berbuat apa dengan kontolku yang dari tadi sudah menegang, dia hanya memandanginya sambil kadang menyentuhnya dengan jarinya, kutuntun dia agar menunduk dan menjilat kontolku
“Ah, jijik, Wan, gak mau ah”tolaknya
“Ayo deh, Liv, entar kamu bakal merasakan kenikmatan”kataku meyakinkan
Livia akhirnya menyetujuinya entah karena dia sudah bernafsu atau terpancing kata – kataku, dia memasukkan kontolku ke dalam mulutnya, lalu dia mengulumnya dengan lembut, pertama terasa agak kaku, tapi setelah terbiasa, kulumannya terasa nikmat, membuatku merasakan kenikmatan yang belum pernah kurasakan.
Setelah puas bermain dengan kontolku Livia kembali berdiri dan tersenyum manis padaku yang semakin membuat nafsuku meningkat, kubuka bajunya dengan perlahan, dia tak menolak, malah tersenyum
Pasti dia sudah nafsu pikirku, sampai Livia telanjang bulat, kulihat pemandangan yang sungguh indah di depanku, payudaranya yang montok dengan puting berwarna pink yang sudah mengeras, sedangkan vaginanya masih berwarna merah muda, ditumbuhi bulu – bulu halus.
Akupun menjilat payudaranya dan memainkan putingnya, Livia agak kegelian, tetapi dia menikmatinya, terdengar dari desahan kecilnya dan rontaan pelannya, setelah puas dengan payudaranya, aku melakukan French kiss dengannya sbentar sambil tanganku menelusuri vagina perawannya.
Vaginanya masih mulus dan halus pertanda Livia sering merawatnya, setelah puas, akupun menuntun Livia ke tempat tidurnya, lalu kubaringkan di sana
“Apa yang akan kamu lakukan, Wan?”Tanyanya heran
“Aku akan menusukkan kontolku pada vaginamu, agak sakit sebentar, tapi nanti akan sangat nikmat deh”Kataku padanya
“Jangan, Wan, aku masih perawan”
Tak kudengarkan lagi kata-katanya karena terlalu nafsu, kuarahkan kontolku pada vagina Livia yang sudah basah, sementara Livia hanya bisa berkata “Jangan, Wan”, sebenarnya aku agak kasihan, tetaapi aku sudah terlanjur nafsu, kumasukkan kontolku perlahan pada vaginanya yang basah.
Livia berteriak dengan keras saat kupaksakan masuk kontolku, kontolku sulit masuk karena vagina Nia masih sempit, saat kumasukkan perlaha, wajah cantik Livia mengeluarkan air mata dan Livia mendesah kesakitan.
Akhirnya setelah lima menit, seluruh kontolku masuk dalam vaginanya, seperti yang kuduga, Livia merasakan kenikmatan luar biasa, saat semula dia meronta, dia kini sudah tenang dan menikmati permainanku, kutusukkan secara perlahan lalu semakin cepat,
“Ahhh, Wan, enak, Wan, ahhh, terusin, Wan, Akkkhh”
Kurasakan kontolku seperti dipijit oleh vaginanya, sangat nikmat terasa sehingga aku memejamkan mataku menikmati kenikmatan itu, kuteruskan memajumundurkan kontolku pada vaginanya yang sempit, Livia mendesah kecil sambil memejamkan mata, air mata masih mengalir di pipinya sementara tubuhnya berkeringat.
Saat kulihat wajahnya yang berkeringat, entah kenapa aku semakin nafsu, sehingga kucepatkan tusukanku yang membuat Livia mendesah semakin keras, sementara kontolku dipijat dengan lebih keras oleh vaginanya.
“Akkkhh, Ssssst, ahhhhh, Wan, enak, Wan, Ahhhh”Begitulah kata yang muncul dari mulut Livia pertanda dia suka dengan permainanku
Stelah 20 menit kurasakan kenikmatan itu, Livia mengalami orgasme hebat, cairan hangat keluar dari vaginanya, akupun mencabut kontolku, lalu kukocokkan dengan cepat di depan wajahnya, spermaku berceceran di wajahnya
Livia pun terbaring lemas, semula aku kasihan karena dia sudah capek, tapi setelah melihat tubuhnya yang dipenuhi keringat yang memancing nafsuku, akupun berniat melanjutkannya.
Aku segera duduk di tempat tidur, lalu kutuntun tubuhnya agar vaginanya pas di atas kontolku, setelah mencapai posisi ideal, akupun memasukkan kontolku ke dalam vaginanya yang masih basah, kudengar Livia mendesah kecil saat kontolku berhasil masuk lagi ke dalam vaginanya.
Lalu kunaikturumkan tubuh mungilnya semakin cepat sehingga desahan Livia semakin keras, rambut panjangnya kadang menyentuh wajahku, kurasakan kontolku dipijat oleh vaginanya lebih keras dari tadi, itu malah membuatku merasa semakin nikmat,
“Ahhh, Wan, terusin, Wan, Ahhh, lebih cepat lagi, Wan”
“Oke, sayang”
Kucepatkan frekuensi tusukanku yang menambah kenikmatan pada Livia, dia mendesah dengan kenikmatan
“Ahhh, Wan, nikmat banget, Wan, Ahhhh, Ssssst”
Sementara aku baru kali ini merasakan kenikmatan seperti ini, pijatan pada kontolku sangat nikmat, membuatku mendesah kecil sementara tubuhku tak berhenti mengeluarkan keringat, setelah 20 menit kunaikturunkan kontolku pada vaginanya.
Vagina Livia kembali mengeluarkan cairan hangat, kubaringkan tubuhnya yang sudah lemas lalu kukeluarkan spermaku di dadanya, kamipun terbaring lemas dan berpelukan dalam keadaan telanjang.
“Gimana, Liv?Enak, gak?”Tanyaku
“Wah, enak banget, Wan, baru kali ini aku merasakan kenikmatan seperti ini, terima kasih, ya?”Dia berkata sambil tersenyum padaku
“Aku yang berterima kasih, Liv”Kataku membalas senyumannya
Kamipun segera membersihkan diri, kulap bekas darah perawan Livia, lalu kami mandi bersama dan kembali menjaga toko, di depan toko sudah berjejer beberapa pelanggan.
Akupun segera membuka pintu dan mmpersilahkan mereka masuk, aku dan Livia melayani mereka, sampai jam 05.00 Nyonya Leny pulang, dia suka dengan cara kerjaku, dan dia menerimaku menjadi pegawai tetap.
Aku masih meneruskan bercinta dengan Livia pada saat jam sepi dan seperti tak terjadi apa – apa, aku sungguh beruntung bekerja di toko ini, dan Livia adalah wanita tercantik dan terhebat yang pernah kutemui.
Hubungan Seks
Tapi aku tak kuliah dan memilih untuk mencari pekerjaan untuk mengjhidupi keluargaku,saat SMA dulu banyak wanita yang menyukaiku karena aku memang tampan,tetapi jujur tak ada yang dapat meluluhkan hatiku.Aku baru saja lulus dari SMA dan akan mencari pekerjaan.
Akupun melihat lowongan pekerjaan di Koran,yang menarik perhatianku adalah sebuah toko pakaian yang baru buka,mereka mencari seorang pegawai,aku berangkat ke toko itu dengan segera menggunaka sepeda motorku.
Setelah 30 menit akhirnya aku melihat sebuah toko baju,menurutku toko itu lumayan besar,akupun masuk ke sana,tak ada seorangpun kecuali seorang tante yang kira-kira berumur 50 tahunan di tempat kasir,akupun menghampirinya,aku tersenyum padanya dan dia membalas senyumanku,
“Eh,nyonya,saya mencari pekerjaan”Kataku membuka percakapan
“Oh,iya,pegawai kami baru saja keluar,kamu boleh bekerja di sini”
Setelah itu nyonya itu menjelaskan padaku mulai dari peraturan,cara menyapa,cara melayani,dan lain – lain.
“Wah,kamu cepat tangkap,ya?”Kata nyonya itu sambil tersenyum
Akupun tersenyum kecil saja.Belakangan kuketahui nyonya itu bernama nyonya Leni,kulitnya berwarna putih,rambut panjang,dan wajahnya agak cantik menurutku.
Dia juga baru saja mengetahui namaku.
“Dengar Irwan,aku mau pergi sebentar,kamu tolong awasi toko ini”
“Wah,tapi saya baru bekerja nyonya”
“Tak apa-apa,nanti akan kusuruh putriku turun menemanimu”
“Hmmmm,oke,deh”Jawabku tersenyum.
Nyonya Leni pun memanggil nama “Livia,Livia”,dari belakang pintu di sebelah kasir terdengar suara seorang gadis.
Lalu gadis itu pun keluar,sungguh aku terpesona padanya,gadis bernama Livia itu sungguh cantik,tubuhnya mungil dan agak montok,payudaranya lumayan besar,pantatnya montok berisi,kulitnya putih,rambut hitam panjang,dan senyumannya adalah senyuman termanis yang pernah kulihat,kuakui aku jatuh cinta pada pandangan pertama padanya.Setelah nyonya Leni pergi,kuberanikan diri untuk menyapanya
“Hai”
“Hai,pegawai baru,ya?”
“Iya”Jawabku tersenyum
Kamipun berbincang – bincang sebentar,dapat kuketahui Livia sekarang berumur 18 tahun,ibunya adalah seorang wanita sibuk,begitu juga dengan ayahnya,jadi dia sering membantu menjaga toko,tak lama kemudian seorang pelanggan datang,akupun melayaninya secepatnya agar bisa berbincang – bincang dengan Livia,setelah pelanggan itu mendapat barang yang dia inginkan dan membayar,akupun kembali ke dekat kasir.
“Kalo jam sekarang masih sepi,Wan,nanti sekitar jam 3 baru ramai”
“Ohhh,akupun mengangguk
Harus kuakui Livia sangat asyik,semua omongan jadi nyambung,baru pertama kali ini aku menemui gadis seperti ini.
“Liv,kamu sudah punya pacar?”Tanyaku penasaran
“Belum,kalo kamu?”
“Aku juga belum”
“Oh,kita sama-sama single,dong”Katanya sambil tersenyum
Akupun tersenyum,rasanya aku ingin membalas “Kamu mau tidak sama aku?”Tapi aku tidak berani mengatakannya,jujur pertama ini aku bisa mengobrol lama dengan seorang gadis.Keringatku tak berhenti bercucuran pertanda aku gugup.
“Panas,ya?”Tanya Livia
“Hmmm,tidak,kok”Jawabku
“Hehehe,kamu keringatan,ya?”
“Iya,anggukku membalas candanya
Setelah lima menit seorang pelanggan masuk lagi,akupun melayaninya dan kembali ke Livia
“Wan,kamu asyik,ya,orangnya?”
Aku terkejut mendengarnya,ternyata leluconku yang dari tadi kuluncurkan dapat meluluhkan hatinya
“Ah,kamu juga asyik,kok”Jawabku dengan tersenyum
Wajah cantiknya tersenyum manis, kontolku terasa tak dapat diturunkan,sangat tegang.Kami berpandangan sebentar,lalu kuberanikan diri untuk menciumnya,jantungku serasa berdegup kencang,Livia agak terkejut,tapi dia tak memberontak, kukulum bibirnya dengan mesra,kami berciuman ala French Kiss,ini adalah ciuman pertamaku.
Suasana semakin memanas,kuberanikan diriku untuk mnyentuh payudara 34 B nya,Livia agak terkejut,tapi karena terlanjur nafsu dia membiarkan tanganku bermain sambil mulutku mencumbui mulutnya,sejenak Livia memberhentikan permainanku.
“Wan, kamu kunci pintu dulu, deh, malu kalau diliat orang nanti”
Akupun melangkah dengan cepat ke pintu depan, segera kukunci pintu itu dan kuganti tanda di pintu menjadi “CLOSE”
Lalu aku segera berjalan kea rah Livia, Livia mengajakku masuk ke dalam tokonya dan dia mengajakku ke kamarnya, setelah sampai ke kamarnya di lantai 2, kuberanikan diri untuk menciumnya lagi, Livia membalas ciumanku dengan mesra.
Sementara tanganku kembali meremas payudara Livia yang sudah mengeras, setelah lima menit kuberanikan diri untuk membuka pakaianku satu persatu, saat kontolku yang besar terpampang, Livia cukup kaget dan agak jijik, ini mungkin adalah pertama kalinya dia melihat sebuah *****, sementara selama ini aku tak pernah berhubungan badan, aku hanya mendapatkan ilmu dari film biru yang selalu kutonton.
Livia tak tahu harus berbuat apa dengan kontolku yang dari tadi sudah menegang, dia hanya memandanginya sambil kadang menyentuhnya dengan jarinya, kutuntun dia agar menunduk dan menjilat kontolku
“Ah, jijik, Wan, gak mau ah”tolaknya
“Ayo deh, Liv, entar kamu bakal merasakan kenikmatan”kataku meyakinkan
Livia akhirnya menyetujuinya entah karena dia sudah bernafsu atau terpancing kata – kataku, dia memasukkan kontolku ke dalam mulutnya, lalu dia mengulumnya dengan lembut, pertama terasa agak kaku, tapi setelah terbiasa, kulumannya terasa nikmat, membuatku merasakan kenikmatan yang belum pernah kurasakan.
Setelah puas bermain dengan kontolku Livia kembali berdiri dan tersenyum manis padaku yang semakin membuat nafsuku meningkat, kubuka bajunya dengan perlahan, dia tak menolak, malah tersenyum
Pasti dia sudah nafsu pikirku, sampai Livia telanjang bulat, kulihat pemandangan yang sungguh indah di depanku, payudaranya yang montok dengan puting berwarna pink yang sudah mengeras, sedangkan vaginanya masih berwarna merah muda, ditumbuhi bulu – bulu halus.
Akupun menjilat payudaranya dan memainkan putingnya, Livia agak kegelian, tetapi dia menikmatinya, terdengar dari desahan kecilnya dan rontaan pelannya, setelah puas dengan payudaranya, aku melakukan French kiss dengannya sbentar sambil tanganku menelusuri vagina perawannya.
Vaginanya masih mulus dan halus pertanda Livia sering merawatnya, setelah puas, akupun menuntun Livia ke tempat tidurnya, lalu kubaringkan di sana
“Apa yang akan kamu lakukan, Wan?”Tanyanya heran
“Aku akan menusukkan kontolku pada vaginamu, agak sakit sebentar, tapi nanti akan sangat nikmat deh”Kataku padanya
“Jangan, Wan, aku masih perawan”
Tak kudengarkan lagi kata-katanya karena terlalu nafsu, kuarahkan kontolku pada vagina Livia yang sudah basah, sementara Livia hanya bisa berkata “Jangan, Wan”, sebenarnya aku agak kasihan, tetaapi aku sudah terlanjur nafsu, kumasukkan kontolku perlahan pada vaginanya yang basah.
Livia berteriak dengan keras saat kupaksakan masuk kontolku, kontolku sulit masuk karena vagina Nia masih sempit, saat kumasukkan perlaha, wajah cantik Livia mengeluarkan air mata dan Livia mendesah kesakitan.
Akhirnya setelah lima menit, seluruh kontolku masuk dalam vaginanya, seperti yang kuduga, Livia merasakan kenikmatan luar biasa, saat semula dia meronta, dia kini sudah tenang dan menikmati permainanku, kutusukkan secara perlahan lalu semakin cepat,
“Ahhh, Wan, enak, Wan, ahhh, terusin, Wan, Akkkhh”
Kurasakan kontolku seperti dipijit oleh vaginanya, sangat nikmat terasa sehingga aku memejamkan mataku menikmati kenikmatan itu, kuteruskan memajumundurkan kontolku pada vaginanya yang sempit, Livia mendesah kecil sambil memejamkan mata, air mata masih mengalir di pipinya sementara tubuhnya berkeringat.
Saat kulihat wajahnya yang berkeringat, entah kenapa aku semakin nafsu, sehingga kucepatkan tusukanku yang membuat Livia mendesah semakin keras, sementara kontolku dipijat dengan lebih keras oleh vaginanya.
“Akkkhh, Ssssst, ahhhhh, Wan, enak, Wan, Ahhhh”Begitulah kata yang muncul dari mulut Livia pertanda dia suka dengan permainanku
Stelah 20 menit kurasakan kenikmatan itu, Livia mengalami orgasme hebat, cairan hangat keluar dari vaginanya, akupun mencabut kontolku, lalu kukocokkan dengan cepat di depan wajahnya, spermaku berceceran di wajahnya
Livia pun terbaring lemas, semula aku kasihan karena dia sudah capek, tapi setelah melihat tubuhnya yang dipenuhi keringat yang memancing nafsuku, akupun berniat melanjutkannya.
Aku segera duduk di tempat tidur, lalu kutuntun tubuhnya agar vaginanya pas di atas kontolku, setelah mencapai posisi ideal, akupun memasukkan kontolku ke dalam vaginanya yang masih basah, kudengar Livia mendesah kecil saat kontolku berhasil masuk lagi ke dalam vaginanya.
Lalu kunaikturumkan tubuh mungilnya semakin cepat sehingga desahan Livia semakin keras, rambut panjangnya kadang menyentuh wajahku, kurasakan kontolku dipijat oleh vaginanya lebih keras dari tadi, itu malah membuatku merasa semakin nikmat,
“Ahhh, Wan, terusin, Wan, Ahhh, lebih cepat lagi, Wan”
“Oke, sayang”
Kucepatkan frekuensi tusukanku yang menambah kenikmatan pada Livia, dia mendesah dengan kenikmatan
“Ahhh, Wan, nikmat banget, Wan, Ahhhh, Ssssst”
Sementara aku baru kali ini merasakan kenikmatan seperti ini, pijatan pada kontolku sangat nikmat, membuatku mendesah kecil sementara tubuhku tak berhenti mengeluarkan keringat, setelah 20 menit kunaikturunkan kontolku pada vaginanya.
Vagina Livia kembali mengeluarkan cairan hangat, kubaringkan tubuhnya yang sudah lemas lalu kukeluarkan spermaku di dadanya, kamipun terbaring lemas dan berpelukan dalam keadaan telanjang.
“Gimana, Liv?Enak, gak?”Tanyaku
“Wah, enak banget, Wan, baru kali ini aku merasakan kenikmatan seperti ini, terima kasih, ya?”Dia berkata sambil tersenyum padaku
“Aku yang berterima kasih, Liv”Kataku membalas senyumannya
Kamipun segera membersihkan diri, kulap bekas darah perawan Livia, lalu kami mandi bersama dan kembali menjaga toko, di depan toko sudah berjejer beberapa pelanggan.
Akupun segera membuka pintu dan mmpersilahkan mereka masuk, aku dan Livia melayani mereka, sampai jam 05.00 Nyonya Leny pulang, dia suka dengan cara kerjaku, dan dia menerimaku menjadi pegawai tetap.
Aku masih meneruskan bercinta dengan Livia pada saat jam sepi dan seperti tak terjadi apa – apa, aku sungguh beruntung bekerja di toko ini, dan Livia adalah wanita tercantik dan terhebat yang pernah kutemui.
Subscribe to:
Posts (Atom)




