@Ikadanews - 9 Kota Bergurun Pasir Terbaik di Dunia - Memandang hamparan pasir yang bak bertepi seperti gurun pasir memberikan sensasi yang tak berbeda dengan jika kita memandang hamparan air tak bertepi di samudera. Bagi sebagian orang, pemandangan seperti itu mengerikan, namun bagi sebagian orang yang lain justru mengasyikkan. Apalagi jika pemandangan gurun dinikmati kala senja atau kala fajar.
Di bumi ini terdapat banyak kota yang wilayahnya memiliki gurun pasir, namun demikian berdasarkan hasil survey yang kemudian direferensikan oleh situs thetravelerszone.com, dari seluruh kota tersebut, ada sembilan yang dianggap memiliki pemandangan gurun terbaik di dunia. Kota mana sajakah itu? Ini dia :
1. Scottsdale, Arizona, USA
Salah satu cara terbaik untuk menikmati pemandangan Gurun Sonoran adalah menggunakan balon udara. Scottsdale merupakan tempat yang tepat untuk bermain golf dan dilengkapi dengan beberapa restoran yang mengagumkan. Anda bisa melakukan tur lokal menuju kawasan kilang anggur atau mungkin pabrik minyak setempat. Banyak pula tempat untuk anak-anak seperti museum dan sebuah kebun binatang berstandar internasional.
2. Casablanca, Morocco
Sebuah tempat yang misterius dan romantis yang terletak di selatan Gurun Sahara. Pemandangan Casablanca terkenal dalam film dengan judul sama yang diperankan oleh Humphrey Bogart dan Ingrid Bregman. Anda bisa mengunjungi Ain Diab di dekat pantai, dengan perjalanan dari makam Sidi Bou Abderrahmane menuju El Hank Lighthouse.
3. Dubai
Saat ini Dubai merupakan kota yang terkenal di penjuru dunia akan objek wisatanya. Tempat yang sempurna untuk berbelanja, bermain golf dan berjemur. Jika ingin melakukan wisata air anda bisa mengunjungi Jumeria, sebuah pantai yang mengagumkan. Disini terdapat banyak klub, restoran, bar dan hotel kelas atas.
4. Las Vegas, Nevada, AS
Merupakan kota bergurun yang paling hidup diantara kota lainnya. Kesibukan yang terjadi di sini seakan tak pernah berhenti. Kota ini dilengkapi dengan kasino bertaraf internasional, penginapan, hotel, restoran dan tempat-tempat hiburan. Disini juga merupakan kawasan untuk berbelanja terbaik di dunia dan tempat sempurna untuk bermain golf.
5. Four Corners, AS
Berbeda halnya dengan Las Veggas, disini anda akan memperoleh ketenangan. Kebudayaan tradisional Amerika sangat menonjol disini. Misalnya kebudayaan Navajo yang bisa dilihat melalui upacara, kesenian dan hasil karya seninya. Salah satu penginapan terbaik disini adalah Amangiri, tempat dimana anda bisa melupakan permasalahan anda sejenak dengan pemandangan lembah yang mengagumkan.
6. Tuscon, Arizona, AS
Disini banyak terdapat aktivitas luar ruangan yang akan membuat anda terkesan dengan Tuscon. Termasuk diantaranya bersepeda, mendaki, memasuki gua, mendaki, dan mengendarai kuda. Kunjungi pula Kitt Peak National Observatory, anda akan dikejutkan dengan keindahan langitnya. Observatorium (tempat untuk mengamati bintang) ini memiliki seri teleskop yang bisa digunakan untuk melihat pemandangan bintang yang membanjiri langit. Tempat ini juga terkenal akan masakan dan tequila khas Meksiko.
7. Sharma El Sheikh, Mesir
Tempat penginapannya terletak di Laut Merah, dan merupakan salah satu tempat terbaik di dunia untuk melakukan scuba diving. Banyak terdapat aneka ragam batu karang dan ribuan jenis ikan yang berbeda. Selain seafood terdapat beberapa makanan lokal dengan cita rasa lezat yang harus dicoba, terutama di kawasan Teluk Naama. Jangan lupa untuk mengunjungi naman nasional Ras Mohammed.
8. Palm Springs, California, AS
Palm Spring terletak di dekat pegunungan San Jacinto. Disini bisa dijumpai butik-butik dan bermacam galeri pakaian. Kebudayaan penduduk asli Amerika bisa anda rasakan disini. Kekayaan tradisi dan sejarahnya dikombinasikan dengan kenyamanan ala modern. Salah satu cara terbaik untuk menjelajahi tempat ini bisa menggunakan jalan udara.
9. Santa Fe, New Meksiko, USA
Menawarkan sebuah kombinasi dari sejarah, kebudayaan serta kesenian yang terdapat di kawasan gurun yang terletak di Gunung Sangre de Cristo. Disini juga memiliki museum dan galeri yang menampilkan karya seni kontemporer dan tradisional.
Cari Artikel Disini
Home » pasir
Showing posts with label pasir. Show all posts
Showing posts with label pasir. Show all posts
Gurun Pasir di Mesir Sebenarnya Adalah Samudra
@Ikadanews.info - Gurun Pasir di Mesir Sebenarnya Adalah Samudra - 'Sepetak gurun di Mesir yang dulu adalah samudra menyimpan rahasia tentang salah satu transformasi evolusi yang paling luar biasa.'
Tiga puluh tujuh juta tahun silam di samudra prasejarah Tethys, seekor binatang sepanjang 15 meter yang gerakannya lentur dengan rahang mencangah, dan gigi gergaji mati dan tenggelam ke dasar laut. Lalu selama ribuan milenium selimut sedimen kian menebal, menutupi tulang-tulang si gergasi . Laut kemudian surut dan dasar laut berganti menjadi gurun pasir, angin mulai mengetam batu pasir dan serpihan batu di atas tulang-tulang tersebut. Perlahan dunia berubah. Pergeseran kerak bumi mendorong India ke dalam Asia, mendesak naik Pegunungan Himalaya. Di Afrika, nenek moyang pertama manusia menegakkan tubuh dan berjalan dengan kaki belakang mereka. Kemudian para firaun membangun piramida. Kekaisaran Romawi bangkit, lalu runtuh. Di sepanjang perjalanan waktu tersebut, angin melanjutkan penggaliannya yang sabar. Lalu pada suatu hari Philip Gingerich datang untuk menuntaskan pekerjaan sang angin.
Saat Matahari terbenam di suatu malam bulan November tahun silam, Gingerich yang ahli paleontologi vertebrata University of Michigan merebahkan badan di samping tulang punggung makhluk yang disebut Basilosaurus itu. Kami berada di satu lokasi di Wadi Hitan, sebuah gurun Mesir. Fosil gigi hiu, duri landak laut, dan tulang ikan lele raksasa berserakan di atas pasir di sekeliling Gingerich. 'Aku menghabiskan begitu banyak waktu di antara makhluk-makhluk laut ini sehingga segera saja aku hidup di dunia mereka,' katanya sambil menyodok-nyodok satu ruas tulang belakang sebesar batang kayu dengan kuas. 'Saat aku memandang gurun pasir ini, lautan yang kulihat.' Gingerich sedang mencari bagian penting dari anatomi makhluk itu, dan ia diburu waktu. Hari kian temaram, dia harus kembali ke perkemahan sebelum membuat rekan-rekannya khawatir. Wadi Hitan merupakan tempat yang indah, tetapi tak kenal ampun. Selain tulang-tulang monster laut prasejarah, Gingerich menemukan sisa jasad-jasad manusia yang naas.
Gingerich beringsut ke arah ekor tulang, memeriksa setiap ruas tulang punggung dengan gagang kuas. Lalu, dia berhenti dan meletakkan kuasnya. 'Ini dia harta karunnya,' katanya. Sambil membersihkan pasir dengan jemarinya secara hati-hati, Gingerich menyingkap sebatang tulang ramping, panjangnya tak lebih dari 20 sentimeter. 'Jarang-jarang kita bisa melihat kaki paus,' katanya sambil mengangkat tulang itu dengan kedua tangan secara takzim.
Basilosaurus jelas seekor paus, tetapi paus yang punya dua kaki belakang kecil yang mencuat dari panggulnya, masing-masing sebesar kaki anak perempuan tiga tahun. Kaki kecil nan elok itu—terbentuk sempurna meski tak berguna, setidaknya untuk berjalan—adalah petunjuk penting untuk memahami bagaimana paus modern yang telah begitu sukses beradaptasi sebagai mesin renang diturunkan dari mamalia darat yang pernah berjalan dengan empat kaki. Gingerich telah mengabdikan sebagian besar kariernya untuk menjelaskan metamorfosis yang boleh dibilang merupakan yang terbesar dalam dunia satwa. Dalam perjalanan itu, ia telah menunjukkan bahwa paus, yang dulu diagulkan kaum kreasionis sebagai bukti terbaik yang menentang evolusi, justru mungkin merupakan bukti evolusi yang paling elegan.
'Spesimen lengkap seperti Basilosaurus itu ibarat batu Rosetta,' kata Gingerich saat kami berkendara kembali ke perkemahan lapangannya. 'Spesimen lengkap dapat mengungkap cara hidup suatu hewan jauh lebih banyak daripada jasad sepotong-sepotong.'
Wadi Hitan yang secara harfiah berarti 'lembah paus' ternyata sangat kaya akan “mutiara” semacam itu. Selama 27 tahun terakhir, Gingerich dan rekan-rekannya telah menemukan sisa-sisa dari 1.000 ekor lebih paus di tempat tersebut dan masih banyak lagi yang menunggu untuk ditemukan. Saat kembali ke perkemahan, kami bertemu dengan beberapa anggota tim Gingerich yang juga baru pulang dari kerja lapangan mereka. Tak lama kemudian, kami membahas hasil kerja mereka sambil makan malam berupa daging kambing panggang, ful madammas (kacang dieng tumbuk), dan roti canai. Mohammed Sameh, kepala pengawas kawasan konservasi Wadi Hitan telah mencari paus lebih jauh ke arah timur dan melaporkan beberapa tumpuk tulang yang baru—menjadi petunjuk segar bagi teka-teki terbesar dalam sejarah alam. Mahasiswa pascadoktoral Yordania Iyad Zalmout dan mahasiswa pascasarjana Ryan Bebej tengah menggali moncong paus yang mencuat dari sisi tebing. 'Kami menduga sisa tubuhnya ada di dalam,' kata Zalmout.
Nenek moyang paus dan semua hewan darat lainnya adalah tetrapoda berkepala pipih, berbentuk seperti salamander yang menyeret tubuhnya keluar dari laut ke pantai berlumpur sekitar 360 juta tahun lampau. Pada keturunannya, paru-paru primitif berangsur-angsur memperbaiki fungsinya, sirip gelambir pun berubah menjadi kaki, dan sendi rahang tersusun agar mampu mendengar di udara, bukan di air. Mamalia lalu menjadi salah satu pencinta daratan yang paling sukses; pada 60 juta tahun yang lalu mamalia telah mendominasi Bumi. Paus termasuk segelintir mamalia yang berevolusi kembali ke laut, merombak pola tubuh daratannya agar dapat mengindra, makan, bergerak, dan kawin di dalam air.
Cara paus menuntaskan transformasi besar seperti itu membuat bingung ilmuwan yang paling genius sekalipun. Karena sadar bahwa teka-teki tersebut merupakan salah satu tantangan besar bagi teorinya tentang evolusi oleh seleksi alam, Charles Darwin mencoba menjelaskan teka-teki paus dalam Origin of Species edisi pertama. Ia mencatat bahwa beruang hitam pernah terlihat berenang di permukaan danau dengan mulut terbuka selama berjam-jam, melahap serangga yang mengapung. 'Saya melihat, tidak ada sulitnya ras beruang diubah oleh seleksi alam, sehingga struktur dan kebiasaannya semakin sesuai dengan kehidupan air, dengan mulut yang kian besar,' tulis Darwin menyimpulkan, 'sampai terbentuk makhluk sebesar paus.' Namun, para pengkritiknya mengolok-olok gambaran itu dengan lantang dan geli, sehingga pada akhirnya Darwin menghapus bagian tersebut dari edisi-edisi bukunya yang berikut.
Hampir seabad kemudian, ahli paleontologi terkemuka di abad ke-20 George Gaylord Simpson masih juga bingung dalam menentukan letak yang tepat bagi paus dalam pohon evolusi mamalianya yang tertata. 'Secara keseluruhan, cetacea adalah mamalia yang paling aneh dan menyimpang,' komentar simpson dengan kesal. 'Tidak ada tempat yang tepat bagi mereka dalam scala naturae. Seolah-olah mereka menjauh ke dimensi yang berbeda dengan ordo atau bangsa yang mirip dengannya.'
Adapun para penganut paham antievolusi berpendapat, jika ilmu pengetahuan tidak dapat menjelaskan transformasi paus, mungkin karena transformasi tersebut memang tidak pernah terjadi. Mereka berpendapat bahwa hewan daratan yang mulai beradaptasi dengan kehidupan air akan segera menjadi hewan yang setengah-setengah, tak mampu bertahan hidup di air maupun daratan. Dan jika paus benar-benar pernah menempuh transisi besar ini, di mana bukti fosilnya? 'Perbedaan anatomi antara paus dan mamalia daratan begitu besar, sehingga tentunya ada banyak tahap antara di mana makhluk itu pernah mengayuh dan berenang di laut purba sebelum paus seperti yang kita kenal muncul,' tulis para penulis Of Pandas and People, buku teks kreasionis populer yang pertama diterbitkan pada 1989. 'Sejauh ini bentuk peralihan ini belum ditemukan.'
Tanpa disasari, Philip Gingerich menerima tantangan tersebut pada pertengahan 1970-an. Setelah meraih gelar Ph.D di Yale, dia memulai penggalian di Daerah Aliran Sungai Clarks Fork di Wyoming untuk mendokumentasikan lonjakan populasi mamalia pada awal kala Eosen, setelah kepunahan dinosaurus sepuluh juta tahun sebelumnya. Pada 1975 dengan harapan dapat melacak migrasi mamalia dari Asia ke Amerika Utara, Gingerich memulai kerja lapangan di daerah formasi fosil Eosen tengah di Provinsi Punjab dan North-West Frontier (sekarang disebut Provinsi Khyber Pakhtunkhwa) Pakistan. Dia kecewa saat menemukan bahwa sedimen berusia 50 juta tahun yang diincarnya bukanlah daratan kering melainkan dasar laut dari tepi timur Samudra Tethys. Ketika timnya menemukan beberapa tulang panggul pada 1977, dengan bercanda mereka menyebutnya dengan 'paus berjalan'—gagasan yang tidak masuk akal. Pada saat itu fosil paus yang paling terkenal pun dianggap mirip dengan paus modern, dengan mekanisme yang canggih untuk mendengar di dalam air, ekor kuat dengan sirip lebar, dan tanpa kaki belakang yang keluar dari tubuh.
Lalu pada 1979, seorang anggota tim Gingerich di Pakistan menemukan tengkorak sebesar tengkorak serigala, tetapi memiliki tulang mirip layar yang menonjol—dan sangat tidak mirip serigala—di bagian atas dan samping untuk mendukung otot leher dan rahang yang kuat. Lebih aneh lagi, rongga otaknya sedikit lebih besar dari kenari. Kemudian pada bulan yang sama, Gingerich menemukan beberapa spesimen paus purba dalam sejumlah museum di Lucknow dan Kolkata, India. 'Saat itulah rongga otak yang kecil itu mulai masuk akal karena paus awal memiliki tengkorak besar dan otak relatif kecil,' kata Gingerich mengenang. 'Aku mulai berpikir bahwa satwa berotak kecil ini mungkin paus yang sangat awal.'
Ketika Gingerich membebaskan tengkorak itu dari bungkusnya yang berupa batu merah nan keras di laboratoriumnya di Michigan, ia menemukan segumpal tulang padat sebesar buah anggur di dasarnya yang disebut bula pendengaran, dengan tulang puncak berbentuk S yang disebut cuaran sigmoid—dua fitur anatomi yang khas pada paus dan membantunya mendengar di dalam air. Namun, tengkorak tersebut tidak memiliki beberapa adaptasi lain yang digunakan paus modern untuk mendengar secara terarah di bawah gelombang. Ia menyimpulkan bahwa binatang tersebut mungkin semiakuatik, menghabiskan waktu cukup lama di perairan dangkal, tetapi kembali ke darat untuk beristirahat dan berbiak.
enemuan paus yang sepanjang diketahui paling primitif tersebut—Gingerich menamainya Pakicetus, membuat Gingerich melihat paus dengan cara baru. 'Aku mulai semakin memikirkan transisi lingkungan besar-besaran yang dialami paus,' katanya mengenang. 'Makhluk ini berawal sebagai hewan darat dan berubah menjadi hewan air. Sejak itu, aku tenggelam dalam mencari berbagai bentuk transisi pada lompatan besar ini, dari daratan kembali lautani. Aku ingin menemukan semuanya.'
Pada 1980-an Gingerich mengalihkan perhatian ke Wadi Hitan. Bersama istrinya B. Holly Smith yang juga ahli paleontologi dan rekan mereka dari Michigan, William Sanders, dia mulai mencari paus dalam formasi fosil yang berusia sekitar 10 juta tahun lebih muda dari dasar laut tempat dia menemukan Pakicetus. Trio itu menggali kerangka parsial dari paus yang sepenuhnya akuatik seperti Basilosaurus dan Dorudon yang lebih kecil, panjangnya lima meter. Kedua jenis tersebut punya bula pendengaran yang besar dan adaptasi lain untuk pendengaran bawah air; tubuh panjang dan strimlain dengan tulang punggung yang panjang; juga ekor berotot untuk menggerakkan tubuh di air dengan ayunan vertikal yang kuat. Kawasan itu penuh dengan tengkorak kedua jenis paus itu. 'Setelah berada di Wadi Hitan sebentar saja, orang tentu merasa melihat paus di mana-mana,' kata Smith. 'Dan tak lama setelahnya, orang menyadari bahwa memang begitu adanya. Kami segera memahami bahwa kami tidak mungkin mampu mengumpulkan semuanya, jadi kami mulai memetakannya dan hanya menggali spesimen-spesimen yang paling menjanjikan.'
Namun demikian, baru pada 1989 tim tersebut menemukan mata rantai yang mereka cari untuk menghubungkan paus ke nenek-moyang daratannya, penemuan yang hampir tak sengaja. Menjelang akhir ekspedisi, Gingerich sedang menggarap kerangka Basilosaurus ketika menemukan lutut paus—yang pertama diketemukan dan diketahui—pada kaki yang terletak di tulang punggung binatang itu pada posisi yang jauh lebih ke bawah daripada yang ia duga. Karena kini para peneliti sudah tahu letak kaki itu, mereka memeriksa lagi sejumlah paus yang “sudah dipetakan” dan segera menemukan tulang paha, tulang kering, dan tulang betis, serta benjolan tulang yang membentuk kaki dan pergelangan kaki paus. Pada hari terakhir ekspedisi, Smith menemukan satu set lengkap jari kaki nan ramping sepanjang 2,5 sentimeter. Melihat tulang-tulang kecil membuat air matanya berlinang. 'Mengetahui bahwa hewan air yang begitu besar itu masih memiliki tungkai, kaki, dan jari kaki yang berfungsi, menyadari apa makna hal ini bagi evolusi paus—itu luar biasa,' ia mengenang.
Meskipun tak mampu menopang bobot tubuh Basilosaurus di darat, kaki-kaki itu masih ada fungsinya. Kaki itu dapat ditempeli otot yang kuat, juga memiliki sendi pergelangan yang berfungsi dan mekanisme penguncian yang rumit di lutut. Gingerich berspekulasi bahwa kaki paus berperan sebagai perangsang atau pemandu saat kopulasi. 'Pasti sulit mengendalikan apa yang terjadi di bawah, pada tubuh panjang mirip ular itu, begitu jauh dari otak,' katanya.
Apa pun kegunaan kaki kecil itu bagi Basilosaurus, penemuannya menegaskan bahwa leluhur paus pernah berjalan, berjingkik, dan berlari di darat. Namun, identitas leluhur tersebut tetap belum jelas. Beberapa fitur kerangka paus purba, terutama gigi pipinya yang besar dan berbentuk segi tiga tampak sangat mirip dengan gigi mesonychia, sekelompok karnivora berkuku dari kala Eosen. (Andrewsarchus yang besar dan mirip dubuk, yang mungkin mamalia karnivora terbesar yang pernah hidup di darat, mungkin termasuk golongan mesonychia.) Pada 1950-an para ahli imunologi menemukan ciri-ciri pada darah paus yang menyiratkan bahwa paus adalah keturunan artiodaktil, yaitu ordo mamalia yang mencakup babi, rusa, unta, dan binatang berkuku genap lainnya. Pada 1990-an para ahli biologi molekuler yang mempelajari kode genetis cetacea telah menyimpulkan bahwa kerabat modern yang paling dekat dengan paus adalah satu binatang ungulate tertentu, yaitu kuda nil.
Gingerich dan banyak ahli paleontologi lainnya lebih yakin pada bukti nyata di tulang daripada perbandingan molekul satwa modern. Mereka percaya paus adalah keturunan mesonychia. Namun untuk menguji teori tersebut, Gingerich perlu menemukan satu tulang tertentu. Tulang pergelangan kaki atau astragalus adalah unsur paling khas pada kerangka artiodaktil karena berbentuk katrol-ganda yang tidak lazim dengan galur yang jelas di bagian atas dan bawah tulang, seperti galur pada roda katrol yang menyangga tali. Dengan bentuk seperti itu, artiodaktil memiliki daya pegas dan kelenturan yang lebih besar daripada bentuk katrol tunggal yang ditemukan pada satwa berkaki empat lainnya (paus modern tentu saja tidak membantu karena sama sekali tidak punya tulang pergelangan kaki).
Kembali ke Pakistan pada 2000, Gingerich akhirnya melihat pergelangan kaki paus untuk pertama kalinya. Mahasiswa pascasarjana di timnya Iyad Zalmout menemukan sebuah tulang bergalur di tengah sisa-sisa seekor paus berumur 47 juta tahun yang baru ditemukan, yang kemudian dinamai Artiocetus. Beberapa menit kemudian ahli geologi Pakistan Munir ul-Haq menemukan tulang yang serupa di situs yang sama. Pada mulanya Gingerich mengira kedua tulang itu adalah astragalus katrol tunggal dari kaki kanan dan kiri si paus—bukti bahwa dia benar tentang asal-usul paus. Namun ketika tulang itu dipegangnya berdampingan, dia bingung karena bentuknya sedikit asimetris. Saat ia merenungkan hal itu sambil memutar-mutar kedua tulang itu ibarat pemain teka-teki memosisikan dua keping teka-teki yang bermasalah, tiba-tiba kedua tulang itu terpasang dengan cocok, membentuk astragalus katrol ganda yang sempurna. Ternyata para ilmuwan laboratorium memang benar.
Sambil berjalan kembali ke perkemahan malam itu, Gingerich dan timnya melewati sekelompok anak desa yang bermain dadu dengan astragalus kambing. (Sudah beribu-ribu tahun orang di berbagai budaya menggunakan tulang pergelangan kaki artiodaktil domestik dalam permainan dan ilmu ramal.) Zalmout meminjam satu dan memberikannya kepada Gingerich, lalu menyaksikan dengan geli sementara profesornya itu menghabiskan sisa malam itu menatap pergelangan kaki paus di satu tangan dan pergelangan kaki kambing di tangan lain secara bergantian, memperhatikan kemiripan yang tak bisa disangkal. 'Itu temuan besar, tetapi pemikiran saya jadi dijungkirbalikkan,' kata Gingerich sambil tersenyum kecut. 'Namun, kini kita tahu pasti dari mana asal-usul paus dan bahwa teori kuda nil tidak seluruhnya khayalan belaka.'
Sejak itu Gingerich dan sejumlah ahli paleontologi yang lain melengkapi kisah paus awal itu, gigi demi gigi, jari kaki demi jari kaki. Gingerich yakin bahwa cetacea pertama mungkin mirip antrakoteres, binatang perambah ramping mirip kuda nil yang menghuni dataran rendah berawa-rawa pada kala Eosen. (Ada teori alternatif yang diajukan ahli paleontologi Hans Thewissen, yaitu paus adalah keturunan dari hewan yang mirip dengan Indohyus, yaitu artiodaktil prasejarah yang mirip rusa, sebesar rakun yang hidup sebagian di air.) Apa pun bentuk dan ukurannya, paus paling awal muncul sekitar 55 juta tahun lalu, seperti semua ordo mamalia modern yang lain, selama lonjakan suhu dunia pada awal kala Eosen. Berbagai mamalia itu tinggal di sepanjang pantai timur Samudra Tethys yang perairannya memiliki daya tarik evolusi yang kuat: hangat, asin, kaya kehidupan laut, bebas dari dinosaurus air yang telah punah sepuluh juta tahun lebih dulu. Dengan masuk ke perairan semakin dalam untuk mengejar berbagai jenis sumber makanan baru, para perandai awal ini perlahan berkembang dengan moncong lebih panjang dan gigi lebih tajam yang lebih cocok untuk menyambar ikan. Pada 50 juta tahun lalu, mereka telah mencapai tahap yang dicontohkan oleh Pakicetus: perenang berkaki empat yang mahir, yang masih berkeliaran di daratan.
Lewat adaptasi dengan air, paus awal memperoleh akses ke lingkungan yang tak terjangkau oleh sebagian besar mamalia lain, lingkungan yang kaya pakan dan tempat tinggal, serta sedikit pesaing dan pemangsa—kondisi yang sempurna untuk ledakan evolusi. Yang terjadi selanjutnya adalah ledakan berbagai eksperimen aneh untuk menjadi paus, yang sebagian besar berakhir pada kepunahan jauh sebelum zaman modern. Ada Ambulocetus raksasa seberat 725 kilogram, pemburu penyergap dengan kaki pendek dan rahang pelahap raksasa yang mirip buaya air asin yang berbulu; Dalanistes, dengan leher jenjang dan kepala seperti burung bangau; dan Makaracetus yang berbelalai pendek, melengkung, dan berotot, yang mungkin digunakan untuk makan moluska.
Sekitar 45 juta tahun lalu, lingkungan air yang menguntungkan akhirnya menarik paus semakin jauh ke laut, lehernya menjadi mampat dan kaku agar dapat menyeruak di air dengan lebih efisien, sementara wajah memanjang dan menajam seperti haluan kapal. Kaki belakang menebal menjadi piston; kuku merenggang dan memiliki selaput sehingga mirip kaki bebek raksasa dengan ujung berupa kuku kecil yang diwarisi dari leluhur binatang berkaki. Metode berenangnya pun semakin baik:?Ekor yang tebal dan kuat berkembang pada sebagian paus yang melesat maju dengan gerakan tubuh mengombak naik-turun dengan kuat. Tekanan seleksi alam untuk gaya gerak yang efisien tersebut lebih cocok bagi tulang punggung yang lebih panjang dan lentur. Hidung meluncur mundur dari moncong ke arah ubun-ubun kepala, menjadi lubang sembur. Seiring waktu, seiring dengan kemampuan paus menyelam lebih dalam, mata pun mulai berpindah dari atas ke sisi kepala agar dapat lebih baik melihat dalam air secara lateral. Telinga paus juga semakin peka terhadap suara di bawah air, dibantu oleh bantalan lemak yang mengalir di saluran di sepanjang rahang, guna mengumpulkan getaran bagai antena bawah air dan menyalurkannya ke telinga bagian tengah.
Meski sudah sesuai dengan air, paus berumur 45 juta tahun itu masih harus terseok-seok ke pantai dengan jari dan kaki berselaputnya, mencari air tawar untuk minum, untuk kawin, atau tempat yang aman untuk beranak. Namun dalam tempo beberapa juta tahun, paus tidak dapat berbalik lagi: Basilosaurus, Dorudon, dan kerabat-kerabatnya tak pernah menginjakkan kaki di darat, berenang dengan mantap di laut lepas dan bahkan menyeberangi Samudra Atlantik sampai ke pesisir yang kini menjadi Peru dan Amerika Serikat selatan. Tubuh satwa-satwa itu sudah sepenuhnya beradaptasi dengan gaya hidup di air, kaki depan memendek dan menjadi kaku sehingga menjadi sirip untuk meluncur, ekor melebar di ujungnya menjadi candit horizontal dan membentuk hidrofoil. Panggul terpisahkan dengan tulang belakang, sehingga ekor memiliki kisaran gerakan vertikal yang lebih luas. Namun, bagaikan jimat dari kehidupan darat yang sudah lama terlupakan, kaki belakangnya tetap ada, lengkap dengan lutut, telapak kaki, pergelangan kaki, dan jari yang semuanya mungil, yang tidak lagi berguna untuk berjalan tetapi mungkin bermanfaat untuk kawin.
Transisi terakhir dari Basilosaurus ke paus modern dimulai 34 juta tahun lalu, pada fase iklim dingin yang mendadak, yang mengakhiri kala Eosen. Penurunan suhu air di dekat kedua kutub bumi, pergeseran arus laut, dan pembalikan massa air laut yang kaya gizi di sepanjang pantai barat Afrika dan Eropa menarik paus ke dalam ceruk lingkungan yang benar-benar baru dan memacu adaptasi yang lain—otak besar, ekolokasi, lemak penyekat, dan pada beberapa spesies, tulang penyaring alih-alih gigi untuk meregangkan krill—yang ada pada cetacea zaman sekarang.
Terutama berkat Philip Gingerich, catatan fosil paus kini menyajikan salah satu peragaan evolusi Darwin yang paling menakjubkan, bukan menentangnya. Ironis, Gingerich sendiri tumbuh dalam lingkungan Kristen yang berprinsip tegas, dalam keluarga Mennonite Amish di Iowa timur. (Kakeknya petani dan pengkhotbah awam.) Namun, pada saat itu, ia tidak merasa bahwa agama dan sains bertentangan. 'Kakekku berpikiran terbuka tentang umur bumi,' katanya, 'dan tidak pernah menyebut-nyebut evolusi. Jangan lupa, orang-orang ini sangat rendah hati, hanya mengungkapkan pendapat tentang hal-hal yang mereka kuasai.'
Gingerich masih heran bahwa banyak orang masih merasa bahwa agama dan sains bertentangan. Pada malam terakhir saya di Wadi Hitan, kami berjalan agak jauh dari perkemahan di bawah kubah bintang yang cemerlang. 'Mungkin aku memang tidak pernah terlalu taat beragama,' katanya. 'Tetapi, aku menganggap pekerjaanku sangat spiritual. Bayangkanlah paus-paus itu berenang di sekitar ini, bagaimana mereka hidup dan mati, bagaimana dunia telah berubah—semua ini membuatku merasa menyentuh sesuatu yang jauh lebih besar dari diriku sendiri, komunitasku, atau keberadaanku sehari-hari.' Dia membentangkan kedua tangannya, menyertakan cakrawala yang gelap dan gurun pasir serta batu pasir yang terukir angin dan paus bisu yang tak terhitung jumlahnya. 'Di sini ada tempat untuk agama sebanyak yang kauinginkan.'
Tiga puluh tujuh juta tahun silam di samudra prasejarah Tethys, seekor binatang sepanjang 15 meter yang gerakannya lentur dengan rahang mencangah, dan gigi gergaji mati dan tenggelam ke dasar laut. Lalu selama ribuan milenium selimut sedimen kian menebal, menutupi tulang-tulang si gergasi . Laut kemudian surut dan dasar laut berganti menjadi gurun pasir, angin mulai mengetam batu pasir dan serpihan batu di atas tulang-tulang tersebut. Perlahan dunia berubah. Pergeseran kerak bumi mendorong India ke dalam Asia, mendesak naik Pegunungan Himalaya. Di Afrika, nenek moyang pertama manusia menegakkan tubuh dan berjalan dengan kaki belakang mereka. Kemudian para firaun membangun piramida. Kekaisaran Romawi bangkit, lalu runtuh. Di sepanjang perjalanan waktu tersebut, angin melanjutkan penggaliannya yang sabar. Lalu pada suatu hari Philip Gingerich datang untuk menuntaskan pekerjaan sang angin.
Saat Matahari terbenam di suatu malam bulan November tahun silam, Gingerich yang ahli paleontologi vertebrata University of Michigan merebahkan badan di samping tulang punggung makhluk yang disebut Basilosaurus itu. Kami berada di satu lokasi di Wadi Hitan, sebuah gurun Mesir. Fosil gigi hiu, duri landak laut, dan tulang ikan lele raksasa berserakan di atas pasir di sekeliling Gingerich. 'Aku menghabiskan begitu banyak waktu di antara makhluk-makhluk laut ini sehingga segera saja aku hidup di dunia mereka,' katanya sambil menyodok-nyodok satu ruas tulang belakang sebesar batang kayu dengan kuas. 'Saat aku memandang gurun pasir ini, lautan yang kulihat.' Gingerich sedang mencari bagian penting dari anatomi makhluk itu, dan ia diburu waktu. Hari kian temaram, dia harus kembali ke perkemahan sebelum membuat rekan-rekannya khawatir. Wadi Hitan merupakan tempat yang indah, tetapi tak kenal ampun. Selain tulang-tulang monster laut prasejarah, Gingerich menemukan sisa jasad-jasad manusia yang naas.
Gingerich beringsut ke arah ekor tulang, memeriksa setiap ruas tulang punggung dengan gagang kuas. Lalu, dia berhenti dan meletakkan kuasnya. 'Ini dia harta karunnya,' katanya. Sambil membersihkan pasir dengan jemarinya secara hati-hati, Gingerich menyingkap sebatang tulang ramping, panjangnya tak lebih dari 20 sentimeter. 'Jarang-jarang kita bisa melihat kaki paus,' katanya sambil mengangkat tulang itu dengan kedua tangan secara takzim.
Basilosaurus jelas seekor paus, tetapi paus yang punya dua kaki belakang kecil yang mencuat dari panggulnya, masing-masing sebesar kaki anak perempuan tiga tahun. Kaki kecil nan elok itu—terbentuk sempurna meski tak berguna, setidaknya untuk berjalan—adalah petunjuk penting untuk memahami bagaimana paus modern yang telah begitu sukses beradaptasi sebagai mesin renang diturunkan dari mamalia darat yang pernah berjalan dengan empat kaki. Gingerich telah mengabdikan sebagian besar kariernya untuk menjelaskan metamorfosis yang boleh dibilang merupakan yang terbesar dalam dunia satwa. Dalam perjalanan itu, ia telah menunjukkan bahwa paus, yang dulu diagulkan kaum kreasionis sebagai bukti terbaik yang menentang evolusi, justru mungkin merupakan bukti evolusi yang paling elegan.
'Spesimen lengkap seperti Basilosaurus itu ibarat batu Rosetta,' kata Gingerich saat kami berkendara kembali ke perkemahan lapangannya. 'Spesimen lengkap dapat mengungkap cara hidup suatu hewan jauh lebih banyak daripada jasad sepotong-sepotong.'
Wadi Hitan yang secara harfiah berarti 'lembah paus' ternyata sangat kaya akan “mutiara” semacam itu. Selama 27 tahun terakhir, Gingerich dan rekan-rekannya telah menemukan sisa-sisa dari 1.000 ekor lebih paus di tempat tersebut dan masih banyak lagi yang menunggu untuk ditemukan. Saat kembali ke perkemahan, kami bertemu dengan beberapa anggota tim Gingerich yang juga baru pulang dari kerja lapangan mereka. Tak lama kemudian, kami membahas hasil kerja mereka sambil makan malam berupa daging kambing panggang, ful madammas (kacang dieng tumbuk), dan roti canai. Mohammed Sameh, kepala pengawas kawasan konservasi Wadi Hitan telah mencari paus lebih jauh ke arah timur dan melaporkan beberapa tumpuk tulang yang baru—menjadi petunjuk segar bagi teka-teki terbesar dalam sejarah alam. Mahasiswa pascadoktoral Yordania Iyad Zalmout dan mahasiswa pascasarjana Ryan Bebej tengah menggali moncong paus yang mencuat dari sisi tebing. 'Kami menduga sisa tubuhnya ada di dalam,' kata Zalmout.
Nenek moyang paus dan semua hewan darat lainnya adalah tetrapoda berkepala pipih, berbentuk seperti salamander yang menyeret tubuhnya keluar dari laut ke pantai berlumpur sekitar 360 juta tahun lampau. Pada keturunannya, paru-paru primitif berangsur-angsur memperbaiki fungsinya, sirip gelambir pun berubah menjadi kaki, dan sendi rahang tersusun agar mampu mendengar di udara, bukan di air. Mamalia lalu menjadi salah satu pencinta daratan yang paling sukses; pada 60 juta tahun yang lalu mamalia telah mendominasi Bumi. Paus termasuk segelintir mamalia yang berevolusi kembali ke laut, merombak pola tubuh daratannya agar dapat mengindra, makan, bergerak, dan kawin di dalam air.
Cara paus menuntaskan transformasi besar seperti itu membuat bingung ilmuwan yang paling genius sekalipun. Karena sadar bahwa teka-teki tersebut merupakan salah satu tantangan besar bagi teorinya tentang evolusi oleh seleksi alam, Charles Darwin mencoba menjelaskan teka-teki paus dalam Origin of Species edisi pertama. Ia mencatat bahwa beruang hitam pernah terlihat berenang di permukaan danau dengan mulut terbuka selama berjam-jam, melahap serangga yang mengapung. 'Saya melihat, tidak ada sulitnya ras beruang diubah oleh seleksi alam, sehingga struktur dan kebiasaannya semakin sesuai dengan kehidupan air, dengan mulut yang kian besar,' tulis Darwin menyimpulkan, 'sampai terbentuk makhluk sebesar paus.' Namun, para pengkritiknya mengolok-olok gambaran itu dengan lantang dan geli, sehingga pada akhirnya Darwin menghapus bagian tersebut dari edisi-edisi bukunya yang berikut.
Hampir seabad kemudian, ahli paleontologi terkemuka di abad ke-20 George Gaylord Simpson masih juga bingung dalam menentukan letak yang tepat bagi paus dalam pohon evolusi mamalianya yang tertata. 'Secara keseluruhan, cetacea adalah mamalia yang paling aneh dan menyimpang,' komentar simpson dengan kesal. 'Tidak ada tempat yang tepat bagi mereka dalam scala naturae. Seolah-olah mereka menjauh ke dimensi yang berbeda dengan ordo atau bangsa yang mirip dengannya.'
Adapun para penganut paham antievolusi berpendapat, jika ilmu pengetahuan tidak dapat menjelaskan transformasi paus, mungkin karena transformasi tersebut memang tidak pernah terjadi. Mereka berpendapat bahwa hewan daratan yang mulai beradaptasi dengan kehidupan air akan segera menjadi hewan yang setengah-setengah, tak mampu bertahan hidup di air maupun daratan. Dan jika paus benar-benar pernah menempuh transisi besar ini, di mana bukti fosilnya? 'Perbedaan anatomi antara paus dan mamalia daratan begitu besar, sehingga tentunya ada banyak tahap antara di mana makhluk itu pernah mengayuh dan berenang di laut purba sebelum paus seperti yang kita kenal muncul,' tulis para penulis Of Pandas and People, buku teks kreasionis populer yang pertama diterbitkan pada 1989. 'Sejauh ini bentuk peralihan ini belum ditemukan.'
Tanpa disasari, Philip Gingerich menerima tantangan tersebut pada pertengahan 1970-an. Setelah meraih gelar Ph.D di Yale, dia memulai penggalian di Daerah Aliran Sungai Clarks Fork di Wyoming untuk mendokumentasikan lonjakan populasi mamalia pada awal kala Eosen, setelah kepunahan dinosaurus sepuluh juta tahun sebelumnya. Pada 1975 dengan harapan dapat melacak migrasi mamalia dari Asia ke Amerika Utara, Gingerich memulai kerja lapangan di daerah formasi fosil Eosen tengah di Provinsi Punjab dan North-West Frontier (sekarang disebut Provinsi Khyber Pakhtunkhwa) Pakistan. Dia kecewa saat menemukan bahwa sedimen berusia 50 juta tahun yang diincarnya bukanlah daratan kering melainkan dasar laut dari tepi timur Samudra Tethys. Ketika timnya menemukan beberapa tulang panggul pada 1977, dengan bercanda mereka menyebutnya dengan 'paus berjalan'—gagasan yang tidak masuk akal. Pada saat itu fosil paus yang paling terkenal pun dianggap mirip dengan paus modern, dengan mekanisme yang canggih untuk mendengar di dalam air, ekor kuat dengan sirip lebar, dan tanpa kaki belakang yang keluar dari tubuh.
Lalu pada 1979, seorang anggota tim Gingerich di Pakistan menemukan tengkorak sebesar tengkorak serigala, tetapi memiliki tulang mirip layar yang menonjol—dan sangat tidak mirip serigala—di bagian atas dan samping untuk mendukung otot leher dan rahang yang kuat. Lebih aneh lagi, rongga otaknya sedikit lebih besar dari kenari. Kemudian pada bulan yang sama, Gingerich menemukan beberapa spesimen paus purba dalam sejumlah museum di Lucknow dan Kolkata, India. 'Saat itulah rongga otak yang kecil itu mulai masuk akal karena paus awal memiliki tengkorak besar dan otak relatif kecil,' kata Gingerich mengenang. 'Aku mulai berpikir bahwa satwa berotak kecil ini mungkin paus yang sangat awal.'
Ketika Gingerich membebaskan tengkorak itu dari bungkusnya yang berupa batu merah nan keras di laboratoriumnya di Michigan, ia menemukan segumpal tulang padat sebesar buah anggur di dasarnya yang disebut bula pendengaran, dengan tulang puncak berbentuk S yang disebut cuaran sigmoid—dua fitur anatomi yang khas pada paus dan membantunya mendengar di dalam air. Namun, tengkorak tersebut tidak memiliki beberapa adaptasi lain yang digunakan paus modern untuk mendengar secara terarah di bawah gelombang. Ia menyimpulkan bahwa binatang tersebut mungkin semiakuatik, menghabiskan waktu cukup lama di perairan dangkal, tetapi kembali ke darat untuk beristirahat dan berbiak.
enemuan paus yang sepanjang diketahui paling primitif tersebut—Gingerich menamainya Pakicetus, membuat Gingerich melihat paus dengan cara baru. 'Aku mulai semakin memikirkan transisi lingkungan besar-besaran yang dialami paus,' katanya mengenang. 'Makhluk ini berawal sebagai hewan darat dan berubah menjadi hewan air. Sejak itu, aku tenggelam dalam mencari berbagai bentuk transisi pada lompatan besar ini, dari daratan kembali lautani. Aku ingin menemukan semuanya.'
Pada 1980-an Gingerich mengalihkan perhatian ke Wadi Hitan. Bersama istrinya B. Holly Smith yang juga ahli paleontologi dan rekan mereka dari Michigan, William Sanders, dia mulai mencari paus dalam formasi fosil yang berusia sekitar 10 juta tahun lebih muda dari dasar laut tempat dia menemukan Pakicetus. Trio itu menggali kerangka parsial dari paus yang sepenuhnya akuatik seperti Basilosaurus dan Dorudon yang lebih kecil, panjangnya lima meter. Kedua jenis tersebut punya bula pendengaran yang besar dan adaptasi lain untuk pendengaran bawah air; tubuh panjang dan strimlain dengan tulang punggung yang panjang; juga ekor berotot untuk menggerakkan tubuh di air dengan ayunan vertikal yang kuat. Kawasan itu penuh dengan tengkorak kedua jenis paus itu. 'Setelah berada di Wadi Hitan sebentar saja, orang tentu merasa melihat paus di mana-mana,' kata Smith. 'Dan tak lama setelahnya, orang menyadari bahwa memang begitu adanya. Kami segera memahami bahwa kami tidak mungkin mampu mengumpulkan semuanya, jadi kami mulai memetakannya dan hanya menggali spesimen-spesimen yang paling menjanjikan.'
Namun demikian, baru pada 1989 tim tersebut menemukan mata rantai yang mereka cari untuk menghubungkan paus ke nenek-moyang daratannya, penemuan yang hampir tak sengaja. Menjelang akhir ekspedisi, Gingerich sedang menggarap kerangka Basilosaurus ketika menemukan lutut paus—yang pertama diketemukan dan diketahui—pada kaki yang terletak di tulang punggung binatang itu pada posisi yang jauh lebih ke bawah daripada yang ia duga. Karena kini para peneliti sudah tahu letak kaki itu, mereka memeriksa lagi sejumlah paus yang “sudah dipetakan” dan segera menemukan tulang paha, tulang kering, dan tulang betis, serta benjolan tulang yang membentuk kaki dan pergelangan kaki paus. Pada hari terakhir ekspedisi, Smith menemukan satu set lengkap jari kaki nan ramping sepanjang 2,5 sentimeter. Melihat tulang-tulang kecil membuat air matanya berlinang. 'Mengetahui bahwa hewan air yang begitu besar itu masih memiliki tungkai, kaki, dan jari kaki yang berfungsi, menyadari apa makna hal ini bagi evolusi paus—itu luar biasa,' ia mengenang.
Meskipun tak mampu menopang bobot tubuh Basilosaurus di darat, kaki-kaki itu masih ada fungsinya. Kaki itu dapat ditempeli otot yang kuat, juga memiliki sendi pergelangan yang berfungsi dan mekanisme penguncian yang rumit di lutut. Gingerich berspekulasi bahwa kaki paus berperan sebagai perangsang atau pemandu saat kopulasi. 'Pasti sulit mengendalikan apa yang terjadi di bawah, pada tubuh panjang mirip ular itu, begitu jauh dari otak,' katanya.
Apa pun kegunaan kaki kecil itu bagi Basilosaurus, penemuannya menegaskan bahwa leluhur paus pernah berjalan, berjingkik, dan berlari di darat. Namun, identitas leluhur tersebut tetap belum jelas. Beberapa fitur kerangka paus purba, terutama gigi pipinya yang besar dan berbentuk segi tiga tampak sangat mirip dengan gigi mesonychia, sekelompok karnivora berkuku dari kala Eosen. (Andrewsarchus yang besar dan mirip dubuk, yang mungkin mamalia karnivora terbesar yang pernah hidup di darat, mungkin termasuk golongan mesonychia.) Pada 1950-an para ahli imunologi menemukan ciri-ciri pada darah paus yang menyiratkan bahwa paus adalah keturunan artiodaktil, yaitu ordo mamalia yang mencakup babi, rusa, unta, dan binatang berkuku genap lainnya. Pada 1990-an para ahli biologi molekuler yang mempelajari kode genetis cetacea telah menyimpulkan bahwa kerabat modern yang paling dekat dengan paus adalah satu binatang ungulate tertentu, yaitu kuda nil.
Gingerich dan banyak ahli paleontologi lainnya lebih yakin pada bukti nyata di tulang daripada perbandingan molekul satwa modern. Mereka percaya paus adalah keturunan mesonychia. Namun untuk menguji teori tersebut, Gingerich perlu menemukan satu tulang tertentu. Tulang pergelangan kaki atau astragalus adalah unsur paling khas pada kerangka artiodaktil karena berbentuk katrol-ganda yang tidak lazim dengan galur yang jelas di bagian atas dan bawah tulang, seperti galur pada roda katrol yang menyangga tali. Dengan bentuk seperti itu, artiodaktil memiliki daya pegas dan kelenturan yang lebih besar daripada bentuk katrol tunggal yang ditemukan pada satwa berkaki empat lainnya (paus modern tentu saja tidak membantu karena sama sekali tidak punya tulang pergelangan kaki).
Kembali ke Pakistan pada 2000, Gingerich akhirnya melihat pergelangan kaki paus untuk pertama kalinya. Mahasiswa pascasarjana di timnya Iyad Zalmout menemukan sebuah tulang bergalur di tengah sisa-sisa seekor paus berumur 47 juta tahun yang baru ditemukan, yang kemudian dinamai Artiocetus. Beberapa menit kemudian ahli geologi Pakistan Munir ul-Haq menemukan tulang yang serupa di situs yang sama. Pada mulanya Gingerich mengira kedua tulang itu adalah astragalus katrol tunggal dari kaki kanan dan kiri si paus—bukti bahwa dia benar tentang asal-usul paus. Namun ketika tulang itu dipegangnya berdampingan, dia bingung karena bentuknya sedikit asimetris. Saat ia merenungkan hal itu sambil memutar-mutar kedua tulang itu ibarat pemain teka-teki memosisikan dua keping teka-teki yang bermasalah, tiba-tiba kedua tulang itu terpasang dengan cocok, membentuk astragalus katrol ganda yang sempurna. Ternyata para ilmuwan laboratorium memang benar.
Sambil berjalan kembali ke perkemahan malam itu, Gingerich dan timnya melewati sekelompok anak desa yang bermain dadu dengan astragalus kambing. (Sudah beribu-ribu tahun orang di berbagai budaya menggunakan tulang pergelangan kaki artiodaktil domestik dalam permainan dan ilmu ramal.) Zalmout meminjam satu dan memberikannya kepada Gingerich, lalu menyaksikan dengan geli sementara profesornya itu menghabiskan sisa malam itu menatap pergelangan kaki paus di satu tangan dan pergelangan kaki kambing di tangan lain secara bergantian, memperhatikan kemiripan yang tak bisa disangkal. 'Itu temuan besar, tetapi pemikiran saya jadi dijungkirbalikkan,' kata Gingerich sambil tersenyum kecut. 'Namun, kini kita tahu pasti dari mana asal-usul paus dan bahwa teori kuda nil tidak seluruhnya khayalan belaka.'
Sejak itu Gingerich dan sejumlah ahli paleontologi yang lain melengkapi kisah paus awal itu, gigi demi gigi, jari kaki demi jari kaki. Gingerich yakin bahwa cetacea pertama mungkin mirip antrakoteres, binatang perambah ramping mirip kuda nil yang menghuni dataran rendah berawa-rawa pada kala Eosen. (Ada teori alternatif yang diajukan ahli paleontologi Hans Thewissen, yaitu paus adalah keturunan dari hewan yang mirip dengan Indohyus, yaitu artiodaktil prasejarah yang mirip rusa, sebesar rakun yang hidup sebagian di air.) Apa pun bentuk dan ukurannya, paus paling awal muncul sekitar 55 juta tahun lalu, seperti semua ordo mamalia modern yang lain, selama lonjakan suhu dunia pada awal kala Eosen. Berbagai mamalia itu tinggal di sepanjang pantai timur Samudra Tethys yang perairannya memiliki daya tarik evolusi yang kuat: hangat, asin, kaya kehidupan laut, bebas dari dinosaurus air yang telah punah sepuluh juta tahun lebih dulu. Dengan masuk ke perairan semakin dalam untuk mengejar berbagai jenis sumber makanan baru, para perandai awal ini perlahan berkembang dengan moncong lebih panjang dan gigi lebih tajam yang lebih cocok untuk menyambar ikan. Pada 50 juta tahun lalu, mereka telah mencapai tahap yang dicontohkan oleh Pakicetus: perenang berkaki empat yang mahir, yang masih berkeliaran di daratan.
Lewat adaptasi dengan air, paus awal memperoleh akses ke lingkungan yang tak terjangkau oleh sebagian besar mamalia lain, lingkungan yang kaya pakan dan tempat tinggal, serta sedikit pesaing dan pemangsa—kondisi yang sempurna untuk ledakan evolusi. Yang terjadi selanjutnya adalah ledakan berbagai eksperimen aneh untuk menjadi paus, yang sebagian besar berakhir pada kepunahan jauh sebelum zaman modern. Ada Ambulocetus raksasa seberat 725 kilogram, pemburu penyergap dengan kaki pendek dan rahang pelahap raksasa yang mirip buaya air asin yang berbulu; Dalanistes, dengan leher jenjang dan kepala seperti burung bangau; dan Makaracetus yang berbelalai pendek, melengkung, dan berotot, yang mungkin digunakan untuk makan moluska.
Sekitar 45 juta tahun lalu, lingkungan air yang menguntungkan akhirnya menarik paus semakin jauh ke laut, lehernya menjadi mampat dan kaku agar dapat menyeruak di air dengan lebih efisien, sementara wajah memanjang dan menajam seperti haluan kapal. Kaki belakang menebal menjadi piston; kuku merenggang dan memiliki selaput sehingga mirip kaki bebek raksasa dengan ujung berupa kuku kecil yang diwarisi dari leluhur binatang berkaki. Metode berenangnya pun semakin baik:?Ekor yang tebal dan kuat berkembang pada sebagian paus yang melesat maju dengan gerakan tubuh mengombak naik-turun dengan kuat. Tekanan seleksi alam untuk gaya gerak yang efisien tersebut lebih cocok bagi tulang punggung yang lebih panjang dan lentur. Hidung meluncur mundur dari moncong ke arah ubun-ubun kepala, menjadi lubang sembur. Seiring waktu, seiring dengan kemampuan paus menyelam lebih dalam, mata pun mulai berpindah dari atas ke sisi kepala agar dapat lebih baik melihat dalam air secara lateral. Telinga paus juga semakin peka terhadap suara di bawah air, dibantu oleh bantalan lemak yang mengalir di saluran di sepanjang rahang, guna mengumpulkan getaran bagai antena bawah air dan menyalurkannya ke telinga bagian tengah.
Meski sudah sesuai dengan air, paus berumur 45 juta tahun itu masih harus terseok-seok ke pantai dengan jari dan kaki berselaputnya, mencari air tawar untuk minum, untuk kawin, atau tempat yang aman untuk beranak. Namun dalam tempo beberapa juta tahun, paus tidak dapat berbalik lagi: Basilosaurus, Dorudon, dan kerabat-kerabatnya tak pernah menginjakkan kaki di darat, berenang dengan mantap di laut lepas dan bahkan menyeberangi Samudra Atlantik sampai ke pesisir yang kini menjadi Peru dan Amerika Serikat selatan. Tubuh satwa-satwa itu sudah sepenuhnya beradaptasi dengan gaya hidup di air, kaki depan memendek dan menjadi kaku sehingga menjadi sirip untuk meluncur, ekor melebar di ujungnya menjadi candit horizontal dan membentuk hidrofoil. Panggul terpisahkan dengan tulang belakang, sehingga ekor memiliki kisaran gerakan vertikal yang lebih luas. Namun, bagaikan jimat dari kehidupan darat yang sudah lama terlupakan, kaki belakangnya tetap ada, lengkap dengan lutut, telapak kaki, pergelangan kaki, dan jari yang semuanya mungil, yang tidak lagi berguna untuk berjalan tetapi mungkin bermanfaat untuk kawin.
Transisi terakhir dari Basilosaurus ke paus modern dimulai 34 juta tahun lalu, pada fase iklim dingin yang mendadak, yang mengakhiri kala Eosen. Penurunan suhu air di dekat kedua kutub bumi, pergeseran arus laut, dan pembalikan massa air laut yang kaya gizi di sepanjang pantai barat Afrika dan Eropa menarik paus ke dalam ceruk lingkungan yang benar-benar baru dan memacu adaptasi yang lain—otak besar, ekolokasi, lemak penyekat, dan pada beberapa spesies, tulang penyaring alih-alih gigi untuk meregangkan krill—yang ada pada cetacea zaman sekarang.
Terutama berkat Philip Gingerich, catatan fosil paus kini menyajikan salah satu peragaan evolusi Darwin yang paling menakjubkan, bukan menentangnya. Ironis, Gingerich sendiri tumbuh dalam lingkungan Kristen yang berprinsip tegas, dalam keluarga Mennonite Amish di Iowa timur. (Kakeknya petani dan pengkhotbah awam.) Namun, pada saat itu, ia tidak merasa bahwa agama dan sains bertentangan. 'Kakekku berpikiran terbuka tentang umur bumi,' katanya, 'dan tidak pernah menyebut-nyebut evolusi. Jangan lupa, orang-orang ini sangat rendah hati, hanya mengungkapkan pendapat tentang hal-hal yang mereka kuasai.'
Gingerich masih heran bahwa banyak orang masih merasa bahwa agama dan sains bertentangan. Pada malam terakhir saya di Wadi Hitan, kami berjalan agak jauh dari perkemahan di bawah kubah bintang yang cemerlang. 'Mungkin aku memang tidak pernah terlalu taat beragama,' katanya. 'Tetapi, aku menganggap pekerjaanku sangat spiritual. Bayangkanlah paus-paus itu berenang di sekitar ini, bagaimana mereka hidup dan mati, bagaimana dunia telah berubah—semua ini membuatku merasa menyentuh sesuatu yang jauh lebih besar dari diriku sendiri, komunitasku, atau keberadaanku sehari-hari.' Dia membentangkan kedua tangannya, menyertakan cakrawala yang gelap dan gurun pasir serta batu pasir yang terukir angin dan paus bisu yang tak terhitung jumlahnya. 'Di sini ada tempat untuk agama sebanyak yang kauinginkan.'
Ternyata Eh... Ternyata Indonesia Punya Pantai Berpasir Pink
@Ikadanews.info - Ternyata Eh... Ternyata Indonesia Punya Pantai Berpasir Pink - Anda pernah bayangkan Komodo, hewan purba satu-satunya di dunia yang tinggal di pulau Komodo, sedang berjemur di pantai berpasir pink?
Hal tersebut memang bisa terjadi sebab di Pulau Komodo memang terdapat sebuah pantai yang unik, sebab pasirnya tidak putih, coklat atau hitam, melainkan berwarna pink alias merah muda.
Asal warna pink yang ada di sepanjang pantai di pulau yang menjadi salah satu keajaiban dunia ini adalah dari spons, hewan porifera yang hidup di sekitar laut Pulau Komodo.
Hewan ini berwarna merah muda, dan saat mati terhanyut di sepanjang pantai yang berpasir bersih ini. Hasilnya, perpaduan warna tersebut memberi siluet pink yang indah sekali di pandang mata.
Dan karena masih belum banyak pengunjung serta wisatawan yang mengetahui perihal Pantai Pink ini, maka keadaannya masih bersih dan nampak alami.
Laut yang ada di sekitarnya juga kaya akan varian ikan dan juga terumbu karang. Banyak wisatawan yang melakukan kegiatan snorkeling demi menyaksikan keindahan taman bawah laut di sekitar pantai ini.
Tapi, memang agak sedikit butuh perjuangan jika ingin sampai ke sini. Sebab jika lewat jalur darat membutuhkan waktu 4 jam lebih melewati hutan bakau. Sedangkan lewat jalur laut, butuh setengah jam perjalanan.
Belum lagi jika bertemu dengan Komodo yang sedang berjemur atau berenang. Harus hati-hati dan waspada selalu.
Hal tersebut memang bisa terjadi sebab di Pulau Komodo memang terdapat sebuah pantai yang unik, sebab pasirnya tidak putih, coklat atau hitam, melainkan berwarna pink alias merah muda.
Asal warna pink yang ada di sepanjang pantai di pulau yang menjadi salah satu keajaiban dunia ini adalah dari spons, hewan porifera yang hidup di sekitar laut Pulau Komodo.
Hewan ini berwarna merah muda, dan saat mati terhanyut di sepanjang pantai yang berpasir bersih ini. Hasilnya, perpaduan warna tersebut memberi siluet pink yang indah sekali di pandang mata.
Dan karena masih belum banyak pengunjung serta wisatawan yang mengetahui perihal Pantai Pink ini, maka keadaannya masih bersih dan nampak alami.
Laut yang ada di sekitarnya juga kaya akan varian ikan dan juga terumbu karang. Banyak wisatawan yang melakukan kegiatan snorkeling demi menyaksikan keindahan taman bawah laut di sekitar pantai ini.
Tapi, memang agak sedikit butuh perjuangan jika ingin sampai ke sini. Sebab jika lewat jalur darat membutuhkan waktu 4 jam lebih melewati hutan bakau. Sedangkan lewat jalur laut, butuh setengah jam perjalanan.
Belum lagi jika bertemu dengan Komodo yang sedang berjemur atau berenang. Harus hati-hati dan waspada selalu.
Inilah Misteri Pasir Pemangsa atau Pasir Hisap
@Ikadanews.info - Inilah Misteri Pasir Pemangsa atau Pasir Hisap - Pasir hidup adalah mekanisme paling unik alam semesta, ia mungkin terpendam di pantai tepi sungai atau bahkan mungkin di halaman belakang sekitarnya, dengan tenang menunggu orang-orang mendekat, membuat orang sulit maju ataupun mundur.
Pada tahun 1692, di pelabuhan Jamaika, pernah terjadi pasir hidup yang terbentuk dari larutan tanah akibat gempa, belakangan menyebabkan 1/3 kota hilang, dan tragedi yang menewaskan 2000 jiwa manusia.
Danau yang tampak tenang di selatan Inggris, fyord atau teluk sempit di Alaska yang indah tapi berbahaya dan daerah lainnya pernah terjadi peristiwa manusia terperangkap ke dalam pasir hidup.
Namun, sebagian besar orang kerap tidak pernah menjumpai pasir hidup, apalagi menyaksikan sendiri orang terperosok ke dalam pasir hidup atau mengalaminya sendiri. Kesan orang-orang terhadap pasir hidup terutama berdasarkan berbagai film yang ditontonnya. Suasana atau pemandangan yang diciptakan dalam film melukiskan pasir hidup adalah suatu momok yang dapat menghisap manusia ke lubang tak berdasar.
Akan larut jika permukan pasir hisap terganggu
Seorang ilmuwan dari Universitas Amsterdam, Belanda yakni Daniel Bonn pernah menemui seorang gembala setempat. Sang gembala menunjuk pasir hisap sambil berkata pada Bonn, bahwa pernah ada unta terperosok ke dalam kemudian lenyap tak berbekas.
Lalu segera ia melakukan penyelidikan terkait setelah kembai ke negaranya. Ia membawa sampel pasir ke Belanda dan menganalisis komposisinya. Setelah menemukan bahwa campuran tersebut terdiri atas pasir berkualitas tinggi, tanah liat, dan air garam, Bonn bersama timnya membuat tiruan pasir hisap dalam jumlah besar.
Ia mengamati dan menganalisa dengan cermat puluhan film yang melukiskan pemandangan pasir hisap yang menelan manusia itu, dan mendapati bahwa gambaran yang dilukiskan film-film ini sepenuhnya salah dan keliru.
Kemudian, di dalam laboratoriumnya, Bonn mencampurkan pasir, tanah liat dan air garam, membentuk sebuah maket pasir hidup dalam ruangan kecil untuk diteliti. Setelah percobaan secara berulang-ulang, personel peneliti yang dipimpin Bonn mendapati, bahwa perlu waktu beberapa hari untuk membuat pasir menjadi lengket.
Sebaliknya sangat mudah kalau hendak menghilangkan viskositasnya (sifat merekat), yakni cukup diberi tekanan yang pas di permukaannya. Permukaannya akan segera “larut” dengan cepat jika mendapat gangguan gerak, pasir di permukaan akan menjadi gembur (lembek), dan pasir di lapisan yang dangkal juga akan merosot ke bawah dengan cepat.
Gerakan perpindahan ini membuat benda yang bergerak di permukaan pasir tenggelam ke bawah, kemudian seiring dengan meningkatnya kedalaman penenggelaman tersebut, pasir yang jatuh ke bawah melalui gerakan perpindahan dari lapisan atas perlahan-lahan akan menyatu, lalu akan menciptakan endapan yang tebal, sehingga viskositas atau sifat merekat pasir bertambah cepat, mencegah obyek terperosok lebih jauh.
Butuh kekuatan mengangkat sebuah mobil
Menurut hasil penelitian, bahwa orang yang terperosok ke dalam pasir hisap umumnya tidak bisa bergerak, densitas pasir yang meningkat kemudian merekat di bagian anggota badan bawah yang terperosok dalam pasir hisap tersebut, membentuk tekanan yang sangat besas pada tubuh, membuat kita sangat sulit mengeluarkan tenaga.
Orang yang sangat besar tenaganya sekalipun juga sulit dalam waktu singkat bisa mengeluarkan korban yang terperangkap dalam pasir hisap tersebut. Setelah di kalkulasi peneliti terkait, bahwa untuk mengeluarkan satu kaki korban yang terperangkap dengan kecepatan 1 cm/ detik saja butuh kekuatan 100 ribu Newton, atau kurang lebih setara dengan kekuatan mengangkat sebuah mobil ukuran sedang.
Kecuali dibantu dengan mobil Derek, jika tidak sulit sekali mengeluarkan korban yang terperangkap dalam pasir hisap tersebut dalam waktu singkat. Hasil penelitian terkait juga menunjukan, menurut hitungan kekuatan ini, jika secara paksa menyeret korban, maka sebelum pasir hisap “melepaskan” korban yang terperangkap, tubuh korban sudah putus tertarik oleh kekuatan yang besar itu.
Resiko yang diakibatkan tindakan demikian jauh lebih berbahaya dibanding membiarkan korban tetap berada dalam pasir hisap tersebut untuk sementara waktu.
Bagaimana menyelamatkan diri dari perangkap
Sebenarnya sebagian besar pasir hisap tidak jauh berbeda dengan pasir pada umumnya, tidak menyeramkan sebagaimana yang dilukiskan dalam film. Secara prinsipal, ia hanya pasir yang telah diresapi air, karena friksi (gaya gesek) antar butiran pasir berkurang, sehingga menjadi campuran pasir dan air setengah cair yang sulit mendukung. Pasir hidup biasanya dijumpai di sekitar pantai.
Menurut Benn, bahwa hanya ada satu keadaan pasir hisap dapat menenggelamkan manusia (mati tenggelam), yaitu ketika bagian kepala lebih dulu masuk ke dalam, namun kemungkinan terperosok dengan cara demikian sangat kecil. Orang yang terperosok ke dalam pasir hisap hanya merasakan sedikit tekanan pada bagian dada, agak sulit bernapas, tidak akan mengancam jiwa. Air pasang di dekat pasir hidup barulah musuh yang menakutkan bagi korban yang terperangkap.
Orang-orang keliru menafsirkan bahwa dengan menggoyangkan kaki bisa melonggarkan pasir di sekitar badan, sehingga dengan demikian dapat membantu anggota badan untuk keluar dari dalam pasir. Ilmuwan terkait menuturkan, sebetulnya bukan begitu, gerakan demikian hanya akan mempercepat endapan tanah liat, memperkuat viskositas (sifat merekat) pasir hisap, meronta membabi buta hanya akan membuat korban terperosok lebih dalam.
Benn mengatakan, “cara untuk terlepas dari pasir hisap tetap ada, yaitu korban yang terperangkap harus menggerakkan secara perlahan kedua kakinya, agar air dan pasir semaksimal merembes masuk ke daerah hampa, dengan begitu akan dapat mengurangi tekanan badan si korban, sekaligus membuat pasir agar perlahan-lahan menggembur.
Selain itu, sang korban juga harus berusaha agar anggota badannya terpisah, sebab jika area permukaan pasir yang disentuh badan semakin besar, maka daya apung yang didapat akan semakin besar. Asalkan korban memiliki kesabaran yang cukup, dengan gerakan yang cukup tenang dan santai, maka secara perlahan pasti akan terbebas dari perangkap pasir hisap.
Selain itu hasil penelitian juga mendapati, saat suatu obyek terperosok ke dalam pasir hisap, kecepatan terbenamnya ditentukan oleh densitas obyek tersebut. Densitas pasir hidup umumnya 2 g/milliliter, sedangkan densitas manusia adalah 1g/milliliter. Di bawah densitas demikian, tubuh manusia yang terbenam ke pasir hidup tidak akan mati tenggelam, kerap akan berhenti sampai sebatas pinggang.
Selain itu peneliti juga mendapati, bahwa meskipun sejumlah obyek yang berdensitas lebih besar dari pasir hidup, tapi tetap bisa mengapung di atas pasir hidup. Dalam percobaan terkait, mereka kemudian meletakkan bola aluminium yang berdensitas 2.7g/mililiter di atas permukaan pasir hisap.
Dan meskipun densitasnya lebih besar dari pasir hidup. Namun karena mendapat pengaruh daya apung pasir hisap dan tegangan pasir, maka bola aluminium tetap bisa dengan tenang berada di permukaan pasir hidup. Bola tersebut tidak tenggelam hingga para peneliti menggetarkan pasir hisap dan membuat gerakan yang menyebabkan campuran lebih cair. Ketika melakukan hal ini, bola aluminium benar-benar seluruhnya tenggelam.
Namun saat menggunakan bola aluminium yang memiliki kerapatan sama dengan manusia yang berarti lebih rendah daripada kerapatan pasir hisap, bola tersebut tidak pernah tenggelam walaupun campuran diperlakukan dengan kasar.
Jatuhnya objek ke pasir hisap menyebabkan pastikel pasir bercampur air kehilangan kestabilan. Jika terus diberi tekanan, campuran tersebut akan berubah menjadi lebih cair di permukaan dan sangat padat di dasarnya.
“Semakin besar tekanannya, semakin banyak cairan yang terbentuk di pasir hisap sehingga gerakan korban membuatnya terperosok semakin dalam,” kata Daniel Bonn, pemimpin penelitian dari University of Amsterdam sebagaimana ditulis dalam jurnal Nature.
Berdasarkan pengukuran terhadap peralatan aluminium ini, meningkatkan tekanan fisik ke partikel sebesar 1 persen menyebabkan kecepatan tenggelamnya naik sejuta kali. Bonn menambahkan bahwa menarik benda dari pasir pada tahap ini membutuhkan kekuatan setara mengangkat mobil berukuran menengah.
Sabar dan tenang
“Yang paling berbahaya adalah apabila pasir hisap cenderung menarik dengan cepat,” katanya. Tapi, kesabaran dapat menyelamatkan Anda. Jika ditunggu dengan sabar, partikel pasir lambat laun akan stabil sehingga daya apung campuran tersebut akan mengangkat Anda ke atas.
Kami mengetahui bahwa lapisan pasir di bawahnya lebih rapat sedangkan air lebih banyak di lapisan atas. Lapisan pasir yang sangat pekat di bawah sangat sedikit mengandung air sehingga sulit melepas kaki yang terperosok ke dalamnya,” lanjut Bonn.
Sarannya, tetaplah tenang dan biasanya Anda akan terapung. Luruskan punggung Anda untuk memperluas area yang bebas dan tunggu hingga kaki bebas dari pasir. Bonn juga menyarankan agar kaki bergerak untuk mengendalikan air sehingga Anda terapung. “Anda harus memasukkan air ke dalam pasir dan cara yang paling mudah adalah memutar-mutar sekitar kaki di dalam pasir hisap,” tambahnya.
Saran tersebut kemungkinan besar benar. Buktinya, bola aluminium kedua dalam percobaan ini tidak tenggelam lebih dari setengah bagian. Meskipun bola tersebut hanya empat milimeter diameternya, kerapatannya sama dengan manusia sehingga bisa digunakan sebagai model manusia.
Pada tahun 1692, di pelabuhan Jamaika, pernah terjadi pasir hidup yang terbentuk dari larutan tanah akibat gempa, belakangan menyebabkan 1/3 kota hilang, dan tragedi yang menewaskan 2000 jiwa manusia.
Danau yang tampak tenang di selatan Inggris, fyord atau teluk sempit di Alaska yang indah tapi berbahaya dan daerah lainnya pernah terjadi peristiwa manusia terperangkap ke dalam pasir hidup.
Namun, sebagian besar orang kerap tidak pernah menjumpai pasir hidup, apalagi menyaksikan sendiri orang terperosok ke dalam pasir hidup atau mengalaminya sendiri. Kesan orang-orang terhadap pasir hidup terutama berdasarkan berbagai film yang ditontonnya. Suasana atau pemandangan yang diciptakan dalam film melukiskan pasir hidup adalah suatu momok yang dapat menghisap manusia ke lubang tak berdasar.
Akan larut jika permukan pasir hisap terganggu
Seorang ilmuwan dari Universitas Amsterdam, Belanda yakni Daniel Bonn pernah menemui seorang gembala setempat. Sang gembala menunjuk pasir hisap sambil berkata pada Bonn, bahwa pernah ada unta terperosok ke dalam kemudian lenyap tak berbekas.
Lalu segera ia melakukan penyelidikan terkait setelah kembai ke negaranya. Ia membawa sampel pasir ke Belanda dan menganalisis komposisinya. Setelah menemukan bahwa campuran tersebut terdiri atas pasir berkualitas tinggi, tanah liat, dan air garam, Bonn bersama timnya membuat tiruan pasir hisap dalam jumlah besar.
Ia mengamati dan menganalisa dengan cermat puluhan film yang melukiskan pemandangan pasir hisap yang menelan manusia itu, dan mendapati bahwa gambaran yang dilukiskan film-film ini sepenuhnya salah dan keliru.
Kemudian, di dalam laboratoriumnya, Bonn mencampurkan pasir, tanah liat dan air garam, membentuk sebuah maket pasir hidup dalam ruangan kecil untuk diteliti. Setelah percobaan secara berulang-ulang, personel peneliti yang dipimpin Bonn mendapati, bahwa perlu waktu beberapa hari untuk membuat pasir menjadi lengket.
Sebaliknya sangat mudah kalau hendak menghilangkan viskositasnya (sifat merekat), yakni cukup diberi tekanan yang pas di permukaannya. Permukaannya akan segera “larut” dengan cepat jika mendapat gangguan gerak, pasir di permukaan akan menjadi gembur (lembek), dan pasir di lapisan yang dangkal juga akan merosot ke bawah dengan cepat.
Gerakan perpindahan ini membuat benda yang bergerak di permukaan pasir tenggelam ke bawah, kemudian seiring dengan meningkatnya kedalaman penenggelaman tersebut, pasir yang jatuh ke bawah melalui gerakan perpindahan dari lapisan atas perlahan-lahan akan menyatu, lalu akan menciptakan endapan yang tebal, sehingga viskositas atau sifat merekat pasir bertambah cepat, mencegah obyek terperosok lebih jauh.
Butuh kekuatan mengangkat sebuah mobil
Menurut hasil penelitian, bahwa orang yang terperosok ke dalam pasir hisap umumnya tidak bisa bergerak, densitas pasir yang meningkat kemudian merekat di bagian anggota badan bawah yang terperosok dalam pasir hisap tersebut, membentuk tekanan yang sangat besas pada tubuh, membuat kita sangat sulit mengeluarkan tenaga.
Orang yang sangat besar tenaganya sekalipun juga sulit dalam waktu singkat bisa mengeluarkan korban yang terperangkap dalam pasir hisap tersebut. Setelah di kalkulasi peneliti terkait, bahwa untuk mengeluarkan satu kaki korban yang terperangkap dengan kecepatan 1 cm/ detik saja butuh kekuatan 100 ribu Newton, atau kurang lebih setara dengan kekuatan mengangkat sebuah mobil ukuran sedang.
Kecuali dibantu dengan mobil Derek, jika tidak sulit sekali mengeluarkan korban yang terperangkap dalam pasir hisap tersebut dalam waktu singkat. Hasil penelitian terkait juga menunjukan, menurut hitungan kekuatan ini, jika secara paksa menyeret korban, maka sebelum pasir hisap “melepaskan” korban yang terperangkap, tubuh korban sudah putus tertarik oleh kekuatan yang besar itu.
Resiko yang diakibatkan tindakan demikian jauh lebih berbahaya dibanding membiarkan korban tetap berada dalam pasir hisap tersebut untuk sementara waktu.
Bagaimana menyelamatkan diri dari perangkap
Sebenarnya sebagian besar pasir hisap tidak jauh berbeda dengan pasir pada umumnya, tidak menyeramkan sebagaimana yang dilukiskan dalam film. Secara prinsipal, ia hanya pasir yang telah diresapi air, karena friksi (gaya gesek) antar butiran pasir berkurang, sehingga menjadi campuran pasir dan air setengah cair yang sulit mendukung. Pasir hidup biasanya dijumpai di sekitar pantai.
Menurut Benn, bahwa hanya ada satu keadaan pasir hisap dapat menenggelamkan manusia (mati tenggelam), yaitu ketika bagian kepala lebih dulu masuk ke dalam, namun kemungkinan terperosok dengan cara demikian sangat kecil. Orang yang terperosok ke dalam pasir hisap hanya merasakan sedikit tekanan pada bagian dada, agak sulit bernapas, tidak akan mengancam jiwa. Air pasang di dekat pasir hidup barulah musuh yang menakutkan bagi korban yang terperangkap.
Orang-orang keliru menafsirkan bahwa dengan menggoyangkan kaki bisa melonggarkan pasir di sekitar badan, sehingga dengan demikian dapat membantu anggota badan untuk keluar dari dalam pasir. Ilmuwan terkait menuturkan, sebetulnya bukan begitu, gerakan demikian hanya akan mempercepat endapan tanah liat, memperkuat viskositas (sifat merekat) pasir hisap, meronta membabi buta hanya akan membuat korban terperosok lebih dalam.
Benn mengatakan, “cara untuk terlepas dari pasir hisap tetap ada, yaitu korban yang terperangkap harus menggerakkan secara perlahan kedua kakinya, agar air dan pasir semaksimal merembes masuk ke daerah hampa, dengan begitu akan dapat mengurangi tekanan badan si korban, sekaligus membuat pasir agar perlahan-lahan menggembur.
Selain itu, sang korban juga harus berusaha agar anggota badannya terpisah, sebab jika area permukaan pasir yang disentuh badan semakin besar, maka daya apung yang didapat akan semakin besar. Asalkan korban memiliki kesabaran yang cukup, dengan gerakan yang cukup tenang dan santai, maka secara perlahan pasti akan terbebas dari perangkap pasir hisap.
Selain itu hasil penelitian juga mendapati, saat suatu obyek terperosok ke dalam pasir hisap, kecepatan terbenamnya ditentukan oleh densitas obyek tersebut. Densitas pasir hidup umumnya 2 g/milliliter, sedangkan densitas manusia adalah 1g/milliliter. Di bawah densitas demikian, tubuh manusia yang terbenam ke pasir hidup tidak akan mati tenggelam, kerap akan berhenti sampai sebatas pinggang.
Selain itu peneliti juga mendapati, bahwa meskipun sejumlah obyek yang berdensitas lebih besar dari pasir hidup, tapi tetap bisa mengapung di atas pasir hidup. Dalam percobaan terkait, mereka kemudian meletakkan bola aluminium yang berdensitas 2.7g/mililiter di atas permukaan pasir hisap.
Dan meskipun densitasnya lebih besar dari pasir hidup. Namun karena mendapat pengaruh daya apung pasir hisap dan tegangan pasir, maka bola aluminium tetap bisa dengan tenang berada di permukaan pasir hidup. Bola tersebut tidak tenggelam hingga para peneliti menggetarkan pasir hisap dan membuat gerakan yang menyebabkan campuran lebih cair. Ketika melakukan hal ini, bola aluminium benar-benar seluruhnya tenggelam.
Namun saat menggunakan bola aluminium yang memiliki kerapatan sama dengan manusia yang berarti lebih rendah daripada kerapatan pasir hisap, bola tersebut tidak pernah tenggelam walaupun campuran diperlakukan dengan kasar.
Jatuhnya objek ke pasir hisap menyebabkan pastikel pasir bercampur air kehilangan kestabilan. Jika terus diberi tekanan, campuran tersebut akan berubah menjadi lebih cair di permukaan dan sangat padat di dasarnya.
“Semakin besar tekanannya, semakin banyak cairan yang terbentuk di pasir hisap sehingga gerakan korban membuatnya terperosok semakin dalam,” kata Daniel Bonn, pemimpin penelitian dari University of Amsterdam sebagaimana ditulis dalam jurnal Nature.
Berdasarkan pengukuran terhadap peralatan aluminium ini, meningkatkan tekanan fisik ke partikel sebesar 1 persen menyebabkan kecepatan tenggelamnya naik sejuta kali. Bonn menambahkan bahwa menarik benda dari pasir pada tahap ini membutuhkan kekuatan setara mengangkat mobil berukuran menengah.
Sabar dan tenang
“Yang paling berbahaya adalah apabila pasir hisap cenderung menarik dengan cepat,” katanya. Tapi, kesabaran dapat menyelamatkan Anda. Jika ditunggu dengan sabar, partikel pasir lambat laun akan stabil sehingga daya apung campuran tersebut akan mengangkat Anda ke atas.
Kami mengetahui bahwa lapisan pasir di bawahnya lebih rapat sedangkan air lebih banyak di lapisan atas. Lapisan pasir yang sangat pekat di bawah sangat sedikit mengandung air sehingga sulit melepas kaki yang terperosok ke dalamnya,” lanjut Bonn.
Sarannya, tetaplah tenang dan biasanya Anda akan terapung. Luruskan punggung Anda untuk memperluas area yang bebas dan tunggu hingga kaki bebas dari pasir. Bonn juga menyarankan agar kaki bergerak untuk mengendalikan air sehingga Anda terapung. “Anda harus memasukkan air ke dalam pasir dan cara yang paling mudah adalah memutar-mutar sekitar kaki di dalam pasir hisap,” tambahnya.
Saran tersebut kemungkinan besar benar. Buktinya, bola aluminium kedua dalam percobaan ini tidak tenggelam lebih dari setengah bagian. Meskipun bola tersebut hanya empat milimeter diameternya, kerapatannya sama dengan manusia sehingga bisa digunakan sebagai model manusia.
Subscribe to:
Posts (Atom)




