Cari Artikel Disini

Showing posts with label pengantin. Show all posts
Showing posts with label pengantin. Show all posts

Cerita Misteri : Kedatangan Tamu Pengantin Misterius | Seram, Ngeri, Merinding

@Ikadanews - Cerita Misteri : Kedatangan Tamu Pengantin Misterius | Seram, Ngeri, Merinding - Haii nama saya Adam, ini cerita pertama saya di blog ini, jadi maaf kalau ada kata-kata yang salah. Cerita ini terjadi pada saat saya berumur 5 tahun (sekarang saya berumur 14 tahun). Saya tau cerita ini karena di ceritakan oleh ibu dan ayah saya. Begini ceritanya...

Pada saat itu adalah malam Jumat. Kejadiannya terjadi ketika menjelang adzan maghrib. Saat itu, saya sedang bermain di halaman rumah bersama teman-teman. Karena menjelang malam, teman-teman saya kembali kerumah masing-masing sehingga saya bermain sendiri di halaman rumah. Ortu saya sedang berada di ruang tamu.

Setelah itu, saya melihat sesosok wanita memakai baju kebaya, lengkap dengan make-up nya. Seketika, saya menghampirinya. Saya bertanya kepada sosok itu, tapi ia diam saja. Maka saya memberitahu ortu saya bahwa di depan ada seorang pengantin wanita.

Setelah itu, Ibu saya ke halaman rumah. "Mana dek pengantinnya? kok nggak ada?" kata ibu saya. Tetapi saya tetap ngotot untuk memastikan bahwa "tamu" itu ada di hadapan saya dan saya pun melihatnya.

Ibu lalu memanggil ayah, dan ayah pun datang. Tetapi ayah juga tidak melihat pengantin tersebut, padahal saat itu saya melihatnya dengan tatapan mukanya yang sangat dingin. Ibu dan ayah pun seketika bertatapan mata. Tapi saya merasa tidak takut sama sekali (karena belum mengerti)

Sampai akhirnya badan saya terasa lemas, berkeringat dingin dan saya pun pingsan. Setelah adzan saya bangun. Disana ada ayah saya, ibu saya, dan nenek. Saya pun bertanya "Bu tadi tamu pengantinnya mana? kok ga ada?". Lalu ibu saya menjawab "Dia udah pulang tadi barusan" kata ibu. Lalu dengan sikap yang polos, saya kembali bermain.


Cerita Humor : Tangisan Pengantin Wanita ( di Jamin Ngakak )

@Ikadanews - Cerita Humor : Tangisan Pengantin Wanita ( di Jamin Ngakak ) - Sejak awal pertama duduk di pelaminan, pengantin wanita tampak menangis terus. Hal itu menjadi pembicaraan para undangan yang menyangka si pengantin wanita menikah karena paksaan orang tua.

Si pengantin pria jadi jengkel dan akhirnya bertanya dengan suara keras.

"Kenapa sih dari tadi kau menangis terus?! Katakan apa sebabnya biar orang-orang tidak menyangka yang bukan-bukan ! Apakah kau kecewa dapat suami setampan diriku?"

"Tidak, mas!"

"Habis kenapa kok menangis terus?"

"Bisulku kalau dipakai duduk sakit sekali, Mas!"

Cerita Dewasa : Culik Keperawanan Pengantin ( Khusus Dewasa ) 17+

@Ikadanews - Cerita Dewasa : Culik Keperawanan Pengantin ( Khusus Dewasa ) 17+ - seorang (mahasiswa perantau) membuatku tidak terbatas dalam berbagai aktifitas, walau seringkali diantaranya bermuatan negatif. Pengalaman ini terjadi pada tahun 1999 di bulan November, dimana kota Surabaya sedang diguyur hujan. Merupakan pemandangan langka kalau Surabaya dicurahi hujan, karena lebih sering kota ini berada dalam kondisi kering. Kesempatan itu kumanfaatkan untuk berkeliling mengitari Surabaya karena suhunya agak bersahabat.

Aku berkeliling dengan menggunakan angkutan umum, ke tempat-tempat favorit dan belum pernah kujalani sebelumnya. Kali ini aku bersantai di Galaxy Mall, yang banyak dikunjungi WNI keturunan. Mataku liar melirik-lirik wanita putih mulus dan trendy. Entah kenapa sejak dulu aku terobsesi dengan wanita Chinese yang menurut pandanganku adalah tipikal sempurna dalam banyak hal. Di lantai paling atas, mataku tertuju kepada seorang gadis cantik dan seksi, sedang makan sendirian, tak ada teman. Dengan teknik yang biasa kulakukan, kudekati dia. 

Kami berkenalan sejenak dan dia menawariku ikut makan. Aku bilang aku sudah kenyang. Dia bernama Nina **** (edited). Kami seumuran atau paling tidak dia lebih tua dua tahun dariku. Setelah ngobrol agak lama, dengan mengeluarkan jurus empuk tentunya, dia mengajakku pulang bersama, karena aku mengaku akan menunggu angkutan sampai hujan reda.

Akhirnya, aku pun setuju, dan segera berangkat bersamanya. Di dalam mobil, aku tak bisa tenang karena ketika menyetir, aku bisa melihat dadanya yang montok dan paha mulusnya bergerak gesit menguasai kemudi. Tapi dia tidak menyadari itu, karena aku tahu dia tidak akan suka. Hal itu kusadari dari pembicaraan sebelumnya. Dia kelihatannya wanita baik-baik. Tapi konsentrasiku sangat terganggu apalagi jalanan di kota Surabaya yang tidak rata membuat dada indah yang bersembunyi di balik bajunya bergoyang-goyang. Ditambah lagi harum tubuhnya yang sangat merangsang. Akhirnya timbul pikiran jahat di otakku.
“Aku pindah ke belakang ya..” kataku.
“Kenapa?”
“Aku ngantuk, mau tiduran, nanti turunkan aku di jalan Kertajaya”, kataku berpura-pura.
Saat itu sejuta rencana jahat sudah merasuki otakku.
“Ok, tapi kamu jangan terlalu pulas ya.. nanti ngebanguninnya susah”, katanya polos.
Di kala otakku sudah kesetanan, tiba-tiba…
“Jangan berisik atau pisau ini akan merobek lehermu”, ancamku seraya menempelkan pisau lipat yang biasa kubawa. Itu sudah menjadi kebiasaanku sejak di Medan dulu.
“Don… apa-apaan nihh..?” teriaknya gugup, karena terkejut.
“Aku peringatkan, diam, jangan macam-macam!” bentakku sambil menekan permukaan pisau lebih kuat.
Aku sudah kehilangan keseimbangan karena nafsu.
“Jalankan mobilnya dengan wajar, bawa ke daerah Petemon… cepat..!”
“Ehh.. iiya.. iyahh…” jawabnya dengan sangat ketakutan.
Tas yang tadi diletakkan di jok belakang segera kubuka. Seluruh uang dan kartu kreditnya langsung berpindah ke kantongku.
“Bawa ke Pinang Inn… cepat!” bentakku lagi.
Kali ini aku sudah pindah ke jok depan, dan pisau kutempelkan di pinggangnya. Sepanjang perjalanan wajahnya pucat dan sesekali memandangiku, seolah minta dikasihani.
“Jangan mencoba membuat gerakan macam-macam… atau kamu kulempar ke jalan… mengerti?” ancamku lagi sambil berganti posisi.
Aku mengambil alih kemudi. Entahlah, saat itu aku merasa bukan diriku lagi. Mungkin iblis sedang menari-nari di otakku. Dia hanya membisu, dengan tubuh gemetar menahan rasa takut. Tiba-tiba HP-nya berbunyi, kurebut HP itu dan kuhempaskan di jalan sampai pecah.
“Ingat… jangan bertindak aneh-aneh… kalau masih ingin hidup…” pesanku sesampainya di parkiran Pinang Inn.
Mobil langsung masuk garasi, dan aku menghubungi Front Officer. Kubayar, lalu kembali ke garasi.
“Keluar…!”
Dengan wajar kugandeng dia masuk kamar. Kukunci dan kusuruh dia telentang di kasur yang empuk. Kunyalakan TV channel yang memutar film-film biru. Pinang Inn memang disediakan untuk bermesum ria. Dia kelihatan semakin ketakutan, ketika melihatku langsung membuka baju dan celana. Dengan hanya menggunakan CD, kurebahkan tubuhku di sampingnya dengan posisi menyamping. Pisau itu kugesek-gesek di sekitar dadanya.
“Agar proses ini tidak menyakitkan, kamu jangan bertingkah.. atau besok mayatmu sudah ditemukan di laut sana… paham?”
“Don.. ke.. ke… napaa.. jadi be.. gii.. ni? Apa.. salahku?” dengan ketakutan dia berusaha membuatku luluh.
“Salahmu adalah… kamu memamerkan tubuhmu di hadapan singa lapar…”
Segera, seluruh bajunya kusobek dengan pisauku yang tajam. Mulai dari bagian luar sampai dalamnya. Kini dia telanjang bulat di antara serpihan pakaian mahal yang kusayat-sayat. Dia menagis, mata sipitnya bertambah sipit karena berusaha menahan air mata yang mulai mengalir deras ditingkahi isaknya yang sesenggukan. Sejenak aku tertegun menyaksikan keindahan yang terpampang di hadapanku. Dada putih mulus yang montok, tubuh langsing, dan… ups… liang kemaluannya yang merah muda bersembunyi malu-malu di antara paha yang dirapatkannya. Kubuka pahanya.
“Jangann Don… kumohon jangan…” pintanya memelas. Aku sudah tidak peduli.
“Hei… Nin… bisa diam nggak? Mau mati? Hah…?” ancamku sambil menampar pipinya. Wajahnya sampai terlempar karena aku menamparnya cukup keras.
“Silakan menjerit… ini ruangan kedap suara… ayo… menjeritlah…”, ejekku kesenangan.
Segera kulebarkan pahanya, kuelus permukaan kemaluannya dengan lembut dan berirama. Sesekali dia menatapku. Ada juga desah aneh di bibirnya yang tipis. Aku terus mengelus kemaluan itu, sambil dua jariku yang menganggur mempermainkan puting susunya bergantian. Dia hanya bisa mendesah dan menangis. Kudekatkan wajahku ke sela paha mulusnya. Dengan perasaan, kukuak liang kemaluannya, indah sekali. Seumur hidup, baru kali ini aku melihat kemaluan wanita seindah itu. Bentuknya agak membukit mungil, ditumbuhi bulu yang halus dan lemas. Bibir kemaluannya kupegang, kemudian lidahku kujulurkan memasuki lubang yang nikmat itu. Kujilati dengan perlahan, mengitari seluruh permukaannya.
“Shhh… Don… Donhh.. jangaaann… sshh…” Nina sampai terduduk.
Ada sesuatu yang lucu. Dalam situasi itu sempat-sempatnya dia menggoyang pinggulnya mendesak mulutku, dan menjambak rambutku sesekali. Dalam hati aku tertawa, “Dasar wanita… munafik.”
“Ayo… Nin… ayo…” kataku pelan mengharap cairan itu segera keluar membasahi kemaluan indahnya. Saat itu kesadaranku perlahan hadir. Perlakuanku kubuat selembut mungkin, namun tetap tegas agar Nina tidak bertindak ceroboh.
Kali ini lidahku mengait-ngait klitorisnya beraturan namun dengan arah lidah acak. Dia makin bergetar. Goyangan pinggulnya terasa sekali.
“Lho… diperkosa kok malah enjoy… ayo.. nangis lagi… mana…?” olokku.
“Don… jangannhh.. janganh…” balasnya malu-malu, berusaha menggeser kepalaku dari selangkangannya. Tapi setelah kepalaku digerakkan ke samping, malah ditariknya lagi hingga mulutku langsung terjatuh di bibir kemaluannya. Aku pun paham, dia ingin menunjukkan ketidaksudiannya, namun di lain pihak, dia sangat menginginkan sensasi itu.
“Nih.. aku kasih bonus.. silakan menikmati…” kataku sambil melanjutkan jilatanku.
Sementara tanganku yang kiri membelai payudaranya bergiliran secara adil. Kiri dan kanan. Sementara tangan kananku kuletakkan di bawah pantatnya. Pantat seksi itu kuremas sesekali.
“Oghhh… sshhh…”
Nina menggelinjang menahan nafsu yang mulai merasuki dirinya. Sesaat dia lupa kalau sekarang dia dalam keadaan terjajah. “Sshhh… terrusshh…”
Perlahan lahan, cairan yang kunanti keluar juga. Secara mantap, lendir bening itu mengalir membasahi liang kemaluannya yang semerbak.
“Donnhhh… Donhhh…” Dia berteriak di sela orgasmenya yang kuhadiahkan secara cuma-cuma.
“Aduh.. Nin.. yang benar aja dong…” ringisku karena saat orgasme tadi, kukunya yang lentik melukai pundakku.
“Maaf… maaf Donhh…”
Aku berhenti sesaat untuk memberinya waktu istirahat. Aku berdiri di samping ranjang. Dia terkulai lemas. Pahanya dibiarkan terbuka. Kemaluan genit itu sudah mengundang batang kemaluanku untuk beraksi. Namun aku berusaha menahan, agar pemerkosaan ini tidak terlalu menyakitkan. Kami berpandangan sejenak. Dia sudah tidak melakukan perlawanan apa-apa, pasrah.
“Don… aku tahu kamu sebenarnya baik, jangan sakiti aku yah… aku mau menemani kamu di sini, asal kamu tidak melukai aku…” pintanya sambil mengubah posisi telentangnya menjadi duduk melipat lututnya ke bawah pantat. Liang kemaluannya agak tersembunyi sekarang.
“Kamu masih perawan nggak?” tanyaku ketus.
“Iyah.. masih…”
“Nah.. sayang sekali, kalau mulai besok kamu sudah menyandang gelar tidak perawan lagi…”
“Ah…” dia tercekat.
“Don… semua uang tadi boleh kamu ambil.. tapi mohon jangan yang kamu sebut barusan… empat hari lagi aku menikah Don… kumohon Don…”
“Ah… daripada cowok lain yang merasakan nikmatnya darah segar kamu, mending aku curi sekarang…” kataku cepat sambil mendekatinya lagi.
“Don… jangan… kumohon…”
“Diam!”
“Ingat… pisau ini sewaktu-waktu bisa mengeluarkan isi perutmu…” ancamku.
Nina terkejut sekali, karena menyangka aku sudah berbaik hati. Padahal aku juga tidak sungguh-sungguh marah padanya. Mungkin karena aku yang sudah terbiasa berteriak-teriak membuatnya ketakutan.
“Sekarang giliranmu”, kukeluarkan batang kemaluanku yang sudah agak terkulai.
“Kupikir aku nggak perlu menjelaskan lagi cara membangunkan preman yang satu ini…” kataku sambil mengarahkan kepalanya berhadapan dengan batang kemalauanku yang lumayan besar. Sejenak dipandanginya diriku. Tanpa berkata apa-apa dia memegang batang kemaluanku dan mengocoknya perlahan. Dikocoknya terus sampai perlahan, si batang andalanku naik.
“Cuma itu?” tanyaku lagi.
Dibuka mulutnya dengan ragu-ragu, kebetulan sekali adegan di TV channel juga sedang memperagakan hal yang sama. Aku sebenarnya ingin tertawa. Tapi kutahan, karena gengsi kalau dia tahu. Dikulumnya batang kemaluanku. Aku berdiri di atas ranjang. Dia berjongkok dan mulai menggerakkan kepalanya maju mundur.
“Ahhh…” aku mengerang merasa nikmat sekali.
Kulihat matanya sesekali melirik TV. Biar saja, pikirku dalam hati. Toh ini demi keuntunganku. Dijilatinya kepala kemaluanku. Tapi dia tidak berani menatap wajahku.
“Auhhgghh…”
“Jangan dilepas…” seruku tertahan.
Aku jongkok dengan mengarahkan kepala ke sela pahanya. Aku telentang di bawah. Posisi kami sekarang 69. Sewaktu berputar tadi dia menggigit kemaluanku agar tidak lepas dari mulutnya. Lucu memang. Dengan bibir kemaluan tepat di atas wajah, kujilati dengan mantap. Kali ini gerakan lidahku liar mengitari permukaan kemaluannya. Sesekali kusedot bukit kecil itu sambil memasukkan hidungku yang kebetulan mancung ke lubang senggamanya.
“Oghhh… Ahhh…” Kami berseru bersahutan. Kubalikkan tubuhnya. Sekarang dia ada di bawah, namun tetap 69. Kali ini aku lebih leluasa menjilati kemaluannya.
“Augghhh… Donhh… enakkhh… terusshh…” pintanya.
Lalu kembali menyantap batang kemaluanku dengan garang. Sesekali aku merasakan gigitan kecil di sekitar kepala kemaluan. Pintar juga dia, pikirku dalam hati.
Lidahku kujulurkan masuk ke lubang sempit itu dan menari di dalamnya. Pantatku kugoyang naik-turun agar sensasi batang kemaluan yang berada di kulumannya bertambah asyik. Sambil menjilat liang kemaluan itu, jari-jariku mempermainkan bibir kemaluannya.
“Ougghh… Don… enakkhh.. Donnhh.. ahhhh… Donnhh…” serunya dibarengi aliran hangat yang langsung membanjiri lembah merah muda itu.
“Sekarang waktunya Nin.”
Aku mengambil posisi duduk di antara belahan kedua kakinya. Dia masih telentang. Kugesek lagi kepala kemaluanku yang sudah mengeras sempurna beradu dengan klitorisnya yang menegang. Dia setengah duduk dengan menahan tubuhnya pakai siku tangan, dan ikut menyaksikan beradunya batang kemaluanku dengan klitorisnya yang sudah menjadi genit. Batang kemaluanku itu kuarahkan ke liang kemaluannya.
“Jangann… kumohon Donh… jangan..” serunya tertatih sambil mencengkeram batang kemaluanku.
“Aku bersedia memuaskan nafsumu, dengan cara apa saja, asal jangan mengorbankan pusakaku.”
“Oh ya? Kalau dari anus mau nggak?” tantangku.
Tapi sebenarnya aku tidak lagi perduli karena kemaluanku sudah minta dihantamkan melesak lubang kemaluannya.
“Yah.. terserah kamu Don..”
“Nggak.. mau… aku cuma mau yang ini, ini lebih enak..” teriakku sambil menunjuk liang kemaluannya.
“Nih.. pegang.. masukin….” Dengan ragu dipegangnya batang kemaluanku.
“Don… apa tidak ada cara lain?”
“Cara lain? Ada-ada saja kamu… Hei… kamu jangan bertingkah lagi ya… jangan sampai kesabaranku hilang. Kamu beri satu milyar pun sekarang aku nggak bakalan mau melepaskan punya kamu itu sekarang. Aku sudah nggak tahan… paham… paham? paham..?” bentakku dengan nada suara lebih meninggi. Pisau yang tadi kusembunyikan di bawah kasur kuacungkan dan kutekan kuat di dadanya.
“Donn… sakitt.. jangann…” rintihnya ketika pisau tadi melukai dada putihnya. Aku terkesiap. Namun tak peduli.
“Ayo.. dimasukin…” kali ini pisau kutekan lagi.
Darah segar mengalir perlahan dari luka yang kuperbesar, walau tidak begitu parah.
Dengan berat disertai ketakutan, dipegangnya kemaluanku. Diarahkannya ke liang kemaluannya.
“Sulit… sakitt.. Don.. ampunn.. Don…”
“Pegang ini”, kataku tidak sadar karena memberikan pisau itu ke tangannya. Dia juga tidak menyadari kalau sedang memegang pisau. Lucu sekali. Aku hanya bisa tersenyum kalau mengingat masa itu. Aku menunduk dan menjilati kemaluannya. Dia melihatku menjilati barangnya. Sesekali kami bertatapan. Entah apa artinya. Yang pasti aku merasa sudah memiliki mata sipit yang menggemaskan itu. Digerakkannya pinggul besarnya seirama jilatanku. Kuremas juga susunya yang segar merekah.
“Augghhh… Ahhh…” jilatanku kupercepat. Cairannya mengalir lagi walau tidak sebanyak yang tadi. Aku kembali duduk menghadap selangkangannya. Tiba-tiba aku sadar kalau sebilah pisau ada di tangannya. Segera kuambil dan kulempar ke lantai. Dia juga baru sadar setelah aku mengambil pisau itu. Namun sepertinya dia memang sudah takluk.
“Nin.. ludahin ke bawah.. yang banyak…” kataku sambil menunjuk kemaluannya. Kami sama-sama meludah. Kuoleskan liur yang menetes itu ke batang kemaluanku, juga ke kemaluannya. Sesekali dia juga ikut mengusap batang kemaluanku dengan air ludah yang dikeluarkannya lagi di telapak tangannya. Aku memandanginya dengan sayang. Dia juga seolah mengerti arti tatapanku itu. Aku segera mengecup bibirnya. Dia membalas. Kami berpagutan sesaat. Kurasakan batang kemaluanku bersentuhan dengan perutnya.
“Ayo dicoba lagi..”
Kali ini dipegangnya kepala kemaluanku. “Ah… Shhh”
Dan.., “Oogghhh… aaahhh… Shh…”
Kepala kemaluanku masuk perlahan. Sempit sekali lubang itu. Kusodok lagi perlahan. Dia hanya bisa menggigit bibir dan mencengkeram tanganku. Sesekali nafasnya kelihatan sesak. Namun ada juga desah liar terdengar lirih.
“Donnhh… aku benci.. kaaamu…”
Kusodok terus, sampai akhirnya semua batang kemaluanku terbenam di liang kewanitaannya. Aku tahu itu sakit. Namun mau bilang apa, nafsuku sudah di ujung tanduk.
“Brengsek… Donhh.. baajingann.. kamu.. shhh… oghh”,
Aku tak peduli lagi umpatannya. Yang kurasakan hanya nikmat persenggamaan yang benar-benar beda. “Shhh.. shhh… Donhh… Donhh…”
Kupeluk dia erat-erat. Goyanganku makin liar. Aku hanya bisa mendengar dia mengumpat. Sesekali kupandangi wajahnya di sela nafasku yang ngos-ngosan. Beragam ekspresi ada di sana. Ada kesakitan, ada dendam, tapi ada juga makna sayang, dan gairah yang hangat. Kulihat titik-titik darah mulai mendesak lubang sempit yang tercipta antara batang kemaluan dan liang kewanitaannya. Seketika tagisnya meledak. “Donhh… bajingann.. kamuu… jahatt.. kamu Don.. ahhh.. uhh…” dia memukul dadaku keras sekali.
Tangisnya makin menjadi. Aku iba juga. Kutarik kemaluanku dari liang kemaluannya. Darah segar mengalir memenuhi lubang yang memerah padam dan lecet. Kemaluanku kukocok sekuat tenaga ketika spermaku muncrat. “Ahhh… ahh…” Air maniku memancar keras membasahi dada dan sebagian wajahnya. Dia menangis sesenggukan.
“Nikmatnya memek perawan kamu Nin…” kataku tersenyum senang.
Aku langsung menjilati darah segar yang sudah membasahi pahanya. Segera kugendong dia menuju kamar mandi. Di bibir bak, kududukkan dia. Kuambil kertas toilet dan membasuhnya dengan air. Kuusap darah yang ada di sekitar kemaluannya dengan lembut. Darah di dadanya yang sudah mengering juga kulap dengan hati-hati.
“Kamu puas sekarang… bukan begitu Don?” ejeknya di sela tangisnya.
Aku terdiam. Aku merasa menyesal. Tapi mau bilang apa. Nasi sudah menjadi bubur. Kubersihkan semua darah itu sampai tidak berbekas. Kujilati lagi kemaluannya dengan lembut. Aku tahu, yang ini pasti tidak bisa ditolaknya. Benar, dia mulai bergetar. Dipegangnya tanganku dan diremasnya jariku. Tissue yang kupegang dibuangnya, malah jemariku dituntunnya ke sepasang dada montok miliknya. “Ahhh… shhh… sekalian ajaa.. Don.. hamili.. aku.. biar kamu.. lebih… puass…” katanya sambil mengangis lagi.
Aku sungguh tak mengerti. Terus terang di sana aku seperti orang bodoh. Tapi dengan santai kujilati terus kemaluannya. Diraihnya batang kemaluanku dan dikocok-kocoknya perlahan. Kemaluanku sudah terkulai. Lama dia mencengkeram kemaluanku sampai akhirnya bangkit. Nafsuku kembali membara. Kugendong lagi dia, dan jatuh bersama di ranjang empuk. Kami berpelukan dan berciuman lama sekali. Kumasukkan lidahku ke dalam mulutnya, dan menjilati rongga mulutnya. Entah berapa kali kami saling bertukaran air liur. Bagiku, air ludahnya nikmat sekali melebihi minuman ringan apapun. Ketika aku berada di bawah, aku juga menelan semua liurnya tatkala dia meludahi mulutku. Terserahlah, apakah dia marah atau bagaimana. Sepanjang dia merasa bebas, aku melayaninya. Hitung-hitung balas budi. Hehehe…
Aku bergerak ke bawah, menjilati tiap inci sel kulitnya. Lehernya bahkan kuberi tanda cupangan banyak sekali, walau aku tahu empat hari lagi dia akan menikah. Peduli setan.
“Ahh.. Don… hhhsshh.. yanghh.. itu.. nikhhmatt”, serunya tertahan ketika putingnya kusedot dan kujilati dengan bernafsu. Tanganku merayap ke bawah dan membelai lubang kemaluannya yang masih basah. Aku terus merangkak turun, menjilati perutnya dan mengelus pahanya dengan nakal. Sesampainya di sela paha kubuka lagi kedua kakinya, terkuaklah liang kemaluan yang kumakan tadi. Kali ini bentuknya sudah berbeda. Lubangnya agak menganga seperti luka lecet, namun tidak berdarah. Segera kujilati lagi untuk kesekian kalinya. “Donn.. enakhh.. nikmathh…”
Jari telunjukku kumasukkan lembut ke lubang itu sambil menjilati kemaluannya sesekali. “Aduhhh… duh… enaknyaa… Don.. jangan… berhenti”, serunya sambil menggelinjang hebat. Pinggul itu bergerak liar mendesak mulutku. Kutindih dia dan kuarahkan batang kemaluanku. “Uhhh… ssshh”, serunya sesak ketika batang kemaluanku kuhantamkan ke liang kenikmatan itu. Goyangan demi goyangan membuat erangannya semakin ganas. Tentu saja aku semakin beringas. Siapa tahan.
“Donhhh… bajiingann!” untuk kesekian kalinya dia mengumpatku.
Entah apa maksudnya. Kali ini dia sangat menikmati permainan (setidaknya secara fisik, entahlah kalau perasaannya). Kepalanya terlempar ke sana ke mari dan nafasnya mendesah hebat.
“Nin… punyaahh.. kamuu… assiikkh.. ahh”, seruku ketika denyutan liang kemaluannya terasa sekali menekan batang kemaluanku. Kubalik dia, sehingga sekarang posisinya di atas.
“Don.. aku.. akan.. bunuh… kamuu.. suatu.. saat..”
“Silakan.. saajahh…”
Kami berdua berbicara tak karuan.
“Oughhh… aihhh.. sshh”, teriaknya menggelinjang sambil mencabuti bulu-bulu dadaku. Aku merasa kesakitan. Tapi biarlah. Dia sepertinya sangat menyukai.
“Donh… kamu… kamu…” dia tidak melanjutkan kata-katanya.
Tiba-tiba.., “Donhhh… Donhhh… bajingan… ah…” serunya keras sekali, sambil menggoyang pantatnya dengan cepat dan menari-nari seperti kilat. Bunyi becek di bawah sana menandakan dia kembali orgasme. Tapi goyangannya tidak surut. Kucabut batang kemaluanku dan menyuruhnya membelakangiku sambil berpegangan pada sisi ranjang. Kuarahkan batang kemaluanku dari belakang dan, “Oughhh… oughhh… oughhh… oughhh…” tiap sodokanku ditanggapinya dengan seruan liar. Kugenjot terus sambil meremasi kedua susunya yang ikut bergoyang. Lama kami pada posisi itu, tiba-tiba aku didorongnya dan dia berdiri di hadapanku. Aku ditamparnya keras dan memelukku erat. Ditariknya aku ke ranjang dan memegang kemaluanku. Ditindihnya aku, dia sendiri yang menghunjamkan kemaluanku ke liang kewanitaannya.
“Rasakan nihhh… bajingan… shhhh”, teriaknya sambil menari-nari di atasku. Aku tahu dia akan orgasme lagi.
“Aduh..Nin..” pekikku tertahan ketika sekarang dia malah menggigit punggungku.
“Don… Don…” dia berseru kencang dan memeluk erat kepalaku di dadanya. Kupeluk juga dia dan mengangkatnya. Kami berdiri di lantai. Dengan posisi ini aku bisa menyodoknya dengan sangat keras. Kurapatkan ke dinding, dan kupompa sekuat tenaga.
“Nin… ahshhh…”
“Donhhh…”
Aku mengeluarkan sperma di dalam kemaluannya. Dia memelukku erat sekali. Kami berdua ngos-ngosan. Kuangkat dia ke ranjang. Kami terkulai lemas. Kutarik kemaluanku yang melemah dengan pelan. Kutarik sprei itu karena sudah berisi noda darah dan bercak cairan yang beragam. Kami tergeletak berdampingan, tanpa pakaian.
“Don… kamu berhutang padaku, suatu saat aku pasti menagihnya.”
“Hutang apa?” tanyaku.
Dia tidak menjawab. Dengan perlahan dia memejamkan mata dan tertidur. Kupandangi wajahnya yang cantik. Tampak lelah. Hmm… beruntung sekali calon suaminya. Kuelus rambutnya yang lurus indah dengan lembut. Kuciumi keningnya dan kupeluk dia. Aku membenamkan wajahku di dadanya dan terlelap bersama.
Besoknya kami bangun bersamaan, masih berpelukan. Aku sadar, dia tidak punya pakaian lagi. Segera aku keluar dan pergi ke toko terdekat. Kubeli T-shirt dan celana pendek. Ketika kembali ke kamar, dia membisu dan tak mau menjawab pertanyaanku. Didiamkan begitu aku tak ambil pusing. Kupakaikan T-shirt dan celana pendek ke tubuhnya. Dia masih tetap membisu.
“Ayo pulang…” ajakku. Dia melangkah lunglai. Kugandeng dia ke mobil, kududukkan di jok depan. Setelah isi kamar sudah kurapikan, aku langsung menyetir mobil. Sepanjang jalan dia hanya diam membisu.
“Nin… aku tahu apa yang kamu rasakan. Tapi, satu hal yang aku minta darimu… jangan membenciku untuk apa yang kuperbuat. Bencilah kepadaku karena aku bukanlah calon suamimu”, kataku agak kesal dengan sedikit berdiplomasi. Dia memandangku dengan gundah. Namun tetap membisu. Sampai di daerah rumahnya pun dia tetap diam.
“Oke.. Nin… aku tak tahu apa yang kamu inginkan. Jika ada yang ingin kamu utarakan, lakukanlah sekarang sebelum aku pergi.”
Dia hanya diam membisu. Dipandanginya aku agak lama. Karena tidak ada jawaban, kudekati dia dan kucium tangannya. Dia tidak bereaksi.
“Bye.. Nin..” Aku segera beranjak pergi.
Empat hari kemudian aku memang secara diam-diam mendatangi daerah rumahnya. Benar, dari informasi yang kudapat dia memang sedang melangsungkan resepsi pernikahan di sebuah Resto mewah di pusat kota. Tapi aku tidak pergi melihatnya. Siapa tahu itu hanya akan jadi luka baru baginya. Pertemuanku terakhir dengannya terjadi di salah satu kafe di Surabaya. Saat group-ku manggung, aku melihatnya duduk di depan bersama seseorang (mungkin suaminya).
“Lagu ini kupersembahkan buat seorang wanita paling indah yang pernah mewarnai perjalanan hidupku”, aku pun segera menyanyikan tembang Mi Corazon dengan penghayatan yang dalam. Dia menikmatinya dengan tatapan syahdu ke arahku. Tentu saja tak seorang pun pernah tahu, bahwa sesuatu pernah terjadi di antara kami.
Sekarang setahun sudah lewat. Dia pernah juga meneleponku dan bilang kalau dia sedang hamil tujuh bulan. Ketika kutanya dimana dia saat itu, telepon segera ditutupnya. Well, ternyata aku pun sedang mengalami pemerkosaan darinya.

Beginilah Cara Ngarak Pengantin Sunat di Tahun 1909

@Ikadanews.info - Beginilah Cara Ngarak Pengantin Sunat di Tahun 1909 - Upacara tradisi Betawi "Mengarak Penganten Sunat" boleh dibilang sudah hampir mau punah. Paling-paling pada saat ulang tahun Jakarta yang nanti baru di bulan Juni biasanya ada.

Warga Aseli Betawi Kampung Melayu, Situ Babakan, Pondok Gede, Lobang Buaya, Taman Mini, Cibubur, Condet, Rawabelong, Kebon Sirih, Kwitang, Kali Pasir, Gondangdia, Bungur, Tanah Abang, Kebon Jeruk, Petojo, Slipi, Petamburan, Kebayoran, Pondok Pinang, Pondok Cabe sekitarnya hingga Parung sudah jarang bahkan tidak ada keinginan mengadakan upacara ini, untuk menyelenggarakan hajat sunatan dengan menggunakan adat Betawi.

Penganten sunat (bocah yang mau di khitan) yang dinaikkan ke kuda, ada pawai tanjidor nya beserta ondel-ondel nya, di jaman sekarang bahkan ada pula odong-odong nya. begitu biasanya rame, pokoknye meriah banget deh dengan disundut petasan rencengan yang bunyinya tergantung panjangnya tuh petasan, enggak heran kalo peristiwa "langka" ini membuat hati para tetangga bersuka ria riang gembira.

Terkesan memang norak melihat prosesi ritual Ngarak Penganten Sunat ini, ada yang bilang udik, kampungan, nggak level, nggak soulfull, nggak masuk dalam generasi Blackberry. Whatever you said, lah! Tetapi bagi yang peduli melihat adat istiadat betawi yang kudu/musti dilestarikan ini, bahwa keberadaan tradisi ini sangat erat dengan etnis Tionghoa Betawi, karena ada unsur-unsur seperti bunyian petasan busana yang dikenakan, bahkan warna warni dari pakaian penganten yang dikenakan si bocah.

Di Betawi, orang yang disunat juga disebut penganten sunat. Makumlah, biar cuma dipotong ujung daging penis seorang bocah lelaki, tetapi ia disebut pengantin dan dihormati sebagai orang yang hari itu membawa kegembiraan warga. Kegembiraan?

Si bocah dan keluarga membuat warga jadi terhibur. Biar cuma musik tanjidor, ondel-ondel berjoget begitu-begitu aja, atau odong-odong yang dinaikkan anak-anak singkong, semua itu menyenangkan.

Bintang Seroja adalah satu dari beberapa grup tanjidor yang kini di"tangglap" sekitar Rp 2 juta. Harga segitu termasuk sewa alat, kostum, dan ondel-ondel.
Main dari jam 9 sampai bedug dzuhur karena dzuhur itu sekitar pukul 12-an.

Kelar main di depan rumah pengantin sunat, saatnya keliling. Ondel-ondel yang berada di depan mengawal pengantin, sementara pengantin naik kuda beneran atau kuda buatan, didampingi oleh Babe-nya.

Sebelum ondel-ondel, ada dua pria yang membawa hiasan terbuat dari kertas warna-warni, seolah sebagai pilar. Sementara di belakang pengantin sunat, ada sebuah delman dan dua odong-odong yang semuanya diisi oleh anak-anak yang berasal dari keluarga pengantin.

Pelaksanaan Pengantin Sunat Betawi

Seremonial:

1.Anak nya ditanya apakah siap
2.Bila si anak siap maka dicarilah Bengkong (Jaman Doeloe) skr Dokter
3.Menentukan hari baik, tanggal baik
4.Rembukan Ortu setelah dapat tanggal nya maka
5.Persiapan mengundang tamu penting
6.Mempersiapkan segala sesuatunya
a.Sewa Tanjidor Lengkap dengan Ondel2, Odong2 bila ada satu Paket
b.Bikin Kuda2an atau Sewa Kuda Lengkap dengan segala sesuatunya
c.Siapkan Sewa Rebana/ketimpring
d.Pesan Petasan Rencengan biasanya di Parung juga bunga wangi
e.Siapkan Pantun dan Silat Betawi buat si Bocah atau panggil yang ahli Penyair Betawi juga ahli Silat Betawi
7.Pada Hari nya maka Arak-Arakan
8.Dibacakan Salawat Dustur
9.Di iringi Rebana /Ketimpring dan Salawat Badar menuju Kuda / Tandu
10,Mengarak Keliling Kampung ditemenin babenya, enyak nya juga boleh ngikut kalo mau
11.Sampe di rumeh disambut ame Pantun sam,a Silat Betawi
12.Masuk kerumah di taburi uang dan kembang
13.Sang Ibu menyiapkan Ayam Bekakak (biasanya ayam kampoeng satu badan di panggang). Ayam nya harus Ayam Jago Pilihan. Saat Pemotongan disertai bunyian petasan.

Pelaksanaan Sunatan
1.Si Bocah berendam secukupnya sambil di doakan oleh babenya
2.Bengkong/dokter siap mengkhitan. Atau si Bocah ke Rumah Sakit terdekat.
3.Usai diSunat/Khitan maka diadakan Tahlilan/Selametan. Biasanya di[impin oleh pemuka agama/ Kiayi setempat.
4. Sehabis Shollat Dzuhur. bahkan ada yang dimulai setelah Shollat Ashar, diadakan Resepsi untuk para tamu yang diundang.
5.Sehabis Shollat Maghrib diadakan Hiburan Khas Betawi (Lenong, Hikayat Betawi, Gambus dsb semampunya)

Aneh : Tradisi Pengantin Hantu di China

@Ikadanews.info - Aneh : Tradisi Pengantin Hantu di China - Dalam tradisi China, seorang pemuda yang meninggal sebelum menikah tidak dapat berkeliling akhirat sebelum menikah. Maka, jenazah seorang pemuda harus dinikahkan lebih dulu agar bebas berkeliling di akhirat bersama pasangannya.

Seorang wanita asal Provinsi Hebei, dekat Beijing, menjadi 'pengantin hantu' setelah kematiannya pada liburan Imlek. Keluarganya memutuskan untuk menjual jenazah gadis ini dan dinikahkan dengan jenazah seorang pemuda.

Meski Mao Tse Tung mencoba membasmi praktek itu saat Partai Komunis berkuasa pada 1949, pasar gelap para pengantin jenazah di China tetap berlangsung hingga saat ini.

Seperti dimuat dalam Telegraph, jenazah si gadis dijual senilai �3.500 atau sekitar Rp49,7 juta untuk menjadi mempelai pada sebuah pernikahan roh. Usai pernikahan, tubuh keduanya kemudian dimakamkan bersama.

Namun, sekelompok pencuri jenazah kemudian menggali kuburannya dan menjualnya untuk dijadikan mempelai roh seorang bujangan yang meninggal di kota lain dengan harga Rp43 juta. Kepolisian setempat berhasil menangkap si pencuri.

Pada tahun 2007, seorang pria ditangkap setelah membunuh dan menjual enam wanita sebagai pengantin roh. Dia mengklaim, "membunuh dan menjual tubuh lebih mudah daripada mencurinya dari kuburan."

ANEH... Di China Ada Mayat Pengantin Wanita Kawin Lari dengan Mayat Pria Lain

@Ikadanews.info - ANEH... Di China Ada Mayat Pengantin Wanita Kawin Lari dengan Mayat Pria Lain - Mau dengar cerita aneh? Saya punya satu nih! Di provinsi Hebei, Cina, ada seorang gadis yang telah meninggal dunia dan dinikahkan dengan seorang pria yang juga sama-sama telah tiada. Kurang aneh? Ini dia lanjutannya: Setelah beberapa waktu, gadis tesebut kawin lari dengan laki-laki lain yang juga sudah menjadi mayat!
Miss Wu, nama si gadis yang sudah meninggal itu, dijual oleh orangtuanya ke Tuan Liu, saudara laki-laki pengantin pria yang juga sudah menjadi mayat. Tuan Liu berpikir bahwa Miss Wu merupakan pasangan yang pas bagi saudaranya yang baru saja meninggal. Dia pun membayar sekitar Rp 49,4 juta untuk mayat Wu dan mengatur upacara minghun (pernikahan antar-mayat), dimana pasangan pengantin bahagia itu dikuburkan bersama-sama.
Namun, ternyata kebahagiaan keduanya tidak berlangsung lama. Miss Wu ternyata dicuri oleh pencuri kuburan dan dikawinkan dengan pria lain dengan harga diskon karena kondisi Miss Wu sudah agak membusuk. Tahu saudara iparnya telah dicuri, Tuan Liu marah. Setelah diselidiki, akhirnya pencuri kuburan pun tertangkap.
Di Cina, ada sebuah tradisi untuk menikahkan orang yang telah mati karena mereka membutuhkan seorang istri untuk masuk ke akhirat. Hal ini menimbulkan adanya pasar untuk memperjualbelikan mayat pengantin. Tiap mayat pindah-tangan dengan biaya lebih dari Rp 21,2 juta. Bisnis ini bisa mendapatkan keuntungan besar, sehingga membuat orang gelap mata dan rela untuk mencuri kuburan, atau bahkan membunuh, demi mendapatkan mayat untuk dijadikan pengantin.
Pada tahun 2006, ada seorang yang bernama Song yang telah membunuh 6 orang wanita dan menjualnya sebagai pengantin. Dia memberikan kesaksian kepada polisi bahwa dirinya telah membunuh dan menjual tubuh mereka untuk dijual menjadi pengantin. Song memilih untuk membunuh terlebih dahulu karena menurutnya lebih mudah untuk membunuh daripada mencuri mayat dari kuburan.