@Ikadanews - Cerita Dewasa : Ruang Komputer Renggut keperawanan gadis Polos ( Khusus Dewasa ) 17+ - Hampir tidak percaya bahwa hari telah larut malam. Aku masih berada di ruang komputer kampus sendirian. Pegal rasanya seharian menulis tugas yang harus diserahkan besok pagi. Untunglah akhirnya selesai juga. Sambil melepas lelah iseng-iseng aku buka internet dan masuk ke situs-situs porno. Aku membuka gambar-gambar orang bersenggama lewat anus. Mula-mula terasa aneh, tapi makin lama aku merasakan fantasi lain. Aku merasakan erangan perempuan yang kesakitan karena lubang duburnya yang sempit ditembus dengan kemaluan yang mengeras. Ah.. khayalanku semakin jauh.
Tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara pintu ruangan membuka dan menutup. Hii.. aku lihat sudah jam 22:30, malam-malam begini pikiranku jadi membayangkan hal-hal menakutkan. Tapi kemudian aku dikagetkan lagi ketika melihat seorang perempuan membawa map berisi beberapa lembar kertas dan dua buah buku tipis masuk kemudian menaruhnya di sebelah komputer, lalu menyalakan komputer dan mengetik. Komputernya terhalang tiga meja komputer di sebelahku. Aku jadi lega, sekarang ada teman, walaupun dia tidak memperhatikan aku sama sekali. Aku perhatikan dari samping, wajahnya manis dengan hidung yang kecil dan mancung. Kulitnya tidak terlalu putih, tapi mulus dengan jaket jeans lengan pendek yang dikenakannya, dia tampak cantik.
Tapi, akh peduli amat. Aku melanjutkan buka-buka situs tadi, anganku semakin menerawang, kemaluanku agak menegang. Dan akhirnya aku melirik pada perempuan di ruangan itu, dan langsung aku melirik pantatnya. Besar! pikirku. Tiba-tiba saja aku membayang kalau kemaluanku merobek-robek pantatnya yang menggiurkan itu. Aku jadi deg-degan, semakin dibayangkan semakin menjadi-jadi kemaluanku menegang. Sampai akhirnya aku nekat mendekati dia. Aku mencoba menenangkan diriku agar tampak normal.
"Ma'af.. sedang mengerjakan tugas?" suaraku sedikit bergetar.
Dia melirikku sebentar lalu matanya tertuju lagi ke layar komputer, sambil menjawab,
"Iya.. Mas.. aku kelupaan menuliskan beberapa judul buku dalam daftar kepustakaan, cuma dikit kok."
"Rumahnya deket sini?"
"Iya di asrama, dan saya biasa kerja malam-malam begini," jawabnya.
"Nah.. selesai deh," dia membereskan kertas-kertas, lalu terdengar suara mesin printer bekerja.
Dia mengambil hasilnya dan kelihatan puas.
"Bisa pulang sama-sama?" aku bertanya sambil mataku sebentar-sebentar mencuri pandang ke arah pantatnya yang kelihatan besar membayang dibalik celana trainning kain parasitnya. Aduh, dadaku mendesir.
"Sebentar aku tutup dulu komputerku ya.."
Aku bergegas pergi ke komputerku.
"Mas sedang ngerjakan apaan?"
Aku kaget tidak menyangka kalau dia mengikuti aku.
"Ah.. ini.. iseng-iseng aja buka-buka internet, capek sih ngetik serius terus dari tadi."
"Eh.. gambar-gambar gituan yaa? Hi ih!" dia mengangkat bahunya, tapi mulutnya tersenyum.
"Ah.. iseng-iseng aja.. Mau ikutan liat-liat?" tiba-tiba keberanianku muncul. Dan di luar dugaan dia tidak menolak.
"Tapi bentar aja yaa.. entar keburu malam!" dia langsung duduk di kursi sebelahku.
Makin lama kami makin asyik buka-buka gambar porno, sampai akhirnya,
"Aku mau pulang deh Mas. Udah malem.. Aku bisa pulang sedirian.. deket kok."
Dia siap berdiri. Tapi dengan reflek tanganku cepat memegang pergelangannya. Dia terkejut. Aku sudah tidak memperdulikan apa-apa lagi, kecuali mempraktekkan gambar-gambar yang dilihat tadi. Kemaluanku sudah menegang.
Tanpa basa basi aku langsung menduduki pahanya dan langsung melumat bibirnya. "Umh.. mh.." dia berusaha meronta dan menarik kepalanya ke belakang, tapi tangan kiriku cepat menahan belakang kepalanya, sementara tangan kananku sudah memegang buah dadanya, memutar-mutar, dan meremas-remas putingnya. Gerakan perempuan itu makin lama makin lemah, akhirnya aku berani melepaskan ciumanku, dan beralih menciumi bagian-bagian tubuh lain, leher, belakang telinga, kembali ke leher, lalu turun ke bagian belahan buah dadanya. Aku melihat dia juga menikmatinya. Matanya mulai sayu, bibirnya terbuka merekah.
"Namamu siapa?" aku tampaknya agak bisa mengendalikan keadaan. Dia tidak menjawab. Hanya matanya yang sayu itu memandang kepadaku. Aku tidak mengerti maksudnya. Tapi ah tidak perduli aku mengangkat berdiri tubuhnya, lalu aku duduk di kursi, kutarik badannya dan dia duduk di pangkuanku. "Ehh.. hh.." dia berdesah ketika kepalaku menyeruduk buah dada yang masih terhalang T-shirt merah muda di balik jaket jeans yang terbuka kancingnya. Tanganku segera menaikkan kaosnya, sehingga tampak bagian bawah dadanya yang masih berada di balik BH. Kunaikkan BH-nya tanpa melepas, dan kembali mulutku beraksi pada putingnya, sementara tanganku meremas-remas pantatnya dan pahanya.
"Oohh.. Mas.. Mas.. Aoohh.." aku semakin menggila mendengar desahnya. Lalu aku ingin melaksanakan niatku untuk menembuskan batang kemaluanku ke pantatnya. Kubalikkan badannya sehingga dia membelakangiku. Aku pun berdiri dan menurunkan celana trainingnya dengan mudah. Dengan tidak sabar celana dalamnya pun segera kuturunkan. Aku duduk dan kutarik badannya sehingga pantatnya menduduki kemaluanku. "Aghh.. Uhh" aku terkejut karena kemaluanku yang sedang menegang itu rasanya mau patah diduduki pantatnya. Tapi nafsuku menghilangkan rasa sakit itu. Aku genggam kemaluanku dan kutempelkan ke lubang duburnya, lalu kutekan. "Aaah.." dia menjerit, tubuhnya mengejang ke belakang. Tapi kemaluanku tidak bisa masuk. Terlalu sempit lubangnya. Keberingasanku makin menjadi. Aku dorong tubuhnya sehingga posisi badannya membungkuk pada meja komputer. Pantatnya kelihatan jelas, bulat. Pelukanku dari belakang tubuhnya membuat dia tertindih di meja. Kutempelkan kemaluanku pada lubang pantatnya. Sementara tangan kiriku meremas buah dada kirinya. Mulutku pun tidak henti-hentinya menggerayangi bagian belakang leher dan punggungnya. Dengan sekali hentak paksa, kudorong masuk kemaluanku. "Aih.. ah uh aoowww.." aku pun mersa sedikit kesakitan, tapi kenikmatan yang tiada taranya kurasakan. "Jangan.. aduh aahh sakiit, tidak deh.. ahh.." Aku semakin bernafsu mendengar rintihannya. Sambil memeluk buah dadanya., kutarik dia berdiri. Lalu aku pun menggerakan kemaluanku maju mundur, mulutku menciumi pipinya dari samping belakang, sementara tanganku meremas buah dadanya, seolah-olah ingin menghancur lumatkan tubuh perempuan yang sintal itu.
Perempuan itu tidak henti-hentinya merintih, terutama ketika kemaluanku kudorong masuk. Beberapa tetes air mata menggelinding di pipinya. Mungkin kesakitan, aku tidak tahu. Tapi apa daya aku pun sudah tidak kuat menahan keluar air maniku lagi dan tubuhku mengejang, perempuan itupun mengejang dan merintih, karena tanganku dengan sangat keras meremas buah dadanya. Badannya ikut tertarik ke belakang, dan mulutku tanpa terasa menggigit lehernya. "Ouhh.. hh.." kenikmatan luar biasa ketika kemaluanku menyemburkan air maniku ke pantatnya. Hangat sekali. Aku terduduk dia pun terduduk di atas kemaluanku yang masih menancap di pantatnya. Kepalaku terkulai di punggungnya. Perempuan itu memandang ke arah layar komputer dengan pandangan kosong. Sementara tetes air matanya masih terus membasahi pipinya.
"Ma'afkan aku.. Aku tidak kuat nahan diri," aku mencoba menghiburnya. Tapi dia tidak menjawab.
"Siapa namamu?" tanyaku dengan lembut. Kembali dia membisu.
"Aku mau pulang.. kamu tidak perlu nganter aku.. biar orang-orang tidak tanya macem-macem," katanya dengan suara perlahan.
"Aku sebenarnya tau siapa kamu.. Mas," dia berbicara tanpa menoleh ke arahku.
"Ha.. aku.." aku tekejut.
"Ya.. karena aku temen baru pacarmu, Yuni, aku pernah liat foto-fotomu di tempat dia."
Kali ini dia menatapku dengan tajam.
"Tapi.. aku sama sekali tidak nyangka kelakuanmu seperti ini," selesai dia menaikkan celana dan membetulkan BH dan T-shirtnya.
"Tapi tidak usah khawatir aku tidak bakalan cerita kejadian ini, aku takut ini akan melukai hatinya. Dia setia sama kamu," lanjutnya.
"Kamu tidak.. kasian ama dia?"
Aku terdiam, termangu, bahkan tidak menyadari kalau dia sudah berlalu.
Akhir-akhir ini aku tahu nama gadis itu Rani, memang dia teman pacarku, Yuni. Aku menyesali perbuatanku. Rani tetap baik pada kami berdua. Kami bahkan menjadi kawan akrab. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Entah sampai kapan dia akan menyimpan rahasia ini. Aku kadang-kadang khawatir, kadang-kadang juga memandang iba pada Rani. Oh, aku telah menghancurkan gadis yang tulus.
Cari Artikel Disini
Home » perawan
Showing posts with label perawan. Show all posts
Showing posts with label perawan. Show all posts
Cerita Dewasa : Perawan Tua yang Beringas ( Khusus Dewasa ) 17+
@Ikadanews - Cerita Dewasa : Perawan Tua yang Beringas ( Khusus Dewasa ) 17+ - Sebelum Lebaran kemarin, aku mengantarkan Budhe ku untuk menjalani operasi kecil di Rumah Sakit 'K' di kota 'S', setelah mendapatkan kamar rawat inap kelas 2 untuk pasien pegawai negeri, akhirnya aku menjalani hari-hari yang membosankan untuk dilewatkan seandainya saja aku tidak bertemu dengan seorang pasien juga yang berbeda kamar dengan yang kutempati, yang kupanggil dengan nama Mbak Imah.
Mbak Imah ini umurnya sudah 42 tahun, namun sampai saat ini dia belum menikah yang katanya dikarenakan sesuatu dan lain hal yang aku tidak perlu tahu dan yang perlu dicatat, dia masih cantik walaupun agak sedikit montok menurutku. Lambat laun kami menjadi semakin akrab dan diakhir perjumpaan kami, dia menghadiahkan sesuatu yang tidak terlupakan seumur hidupku.
Begini ceritanya :
Sore itu aku menemuinya setelah seharian mengurus surat-surat dan biaya perawatan Budhe ku selama di rumah sakit, untuk mengucapkan selamat tinggal karena esok pagi aku harus pulang ke kota asalku.
"Mbak, besok aku mau pulang kampung, jangan nangis ya! kalau aku tinggal nantinya !" Kataku setelah mengobrol lama tanpa topik yang jelas
"Lho, sudah selesai, tho!, trus mau pulang jam berapa besok?' tanya nya dengan bahasa jawa yang medhok
"Mungkin sekitar jam 10 an, nunggu jemputan sih"
Akhirnya kami jadi mengobrol panjang lebar tentang kebersamaan kami selama ini di rumah sakit ini, tanpa terasa waktu menjadi semakin petang.
"Aku mandi dulu ya, Dik! nanti malam kita lanjutkan lagi ngobrolnya, cari tempat yang sepi biar lebih 'hangat' " Katanya sambil menggelung rambut panjang nya dan berlalu ke kamarnya untuk mengambil peralatan mandi
*****
"Sini, Dik!, disitu ada kamar kosong yang nggak dipakai" Kata Mbak Imah sambil menarik ku ke sebuah kamar remang-remang yang ada di lantai tiga dari bangsal rumah sakit ini
"Heh, apa ngga dimarahi kalau kita kesitu, ntar di tangkep satpam lagi!" Kataku
"Ngga ada satpam yang kontrol kesini kalo malam-malam begini"
"Masa?" Kataku meragukan sambil melihat jam tanganku menunjukkan pukul 10 malam
"Lagian Mbak khan pasien, koq malah keluyuran seperti ini, sih?" Kataku
"Mbak khan tinggal pemulihan pasca operasi, jadi udah ngga begitu di khawatirkan lagi!, nah itu ada tikar, kita duduk di situ yuk!" Ajak nya
Dan kami pun duduk berdua di keremangan kamar kosong sambil melihat keseberang bangsal lain dan pemandangan taman yang ada di bawah bangsal kami.
*****
"Dik,..aku,..sebenarnya mencintaimu!" Katanya setelah beberapa saat kami mengobrol
Aku kaget
"Tapi, Mbak..." Sela ku
"jangan buat aku kecewa, dik!, sudah lama aku memimpikan hal seperti ini, semuanya ada padamu dan akan kuserahkan semua milik ku buatmu"
"Tapi, Mbak.."
"Sst..., sudah, jangan ngobrol lagi, besok kamu pulang khan?, kita nikmati malam terakhir kita sebaik-baiknya"
Mbak Imah lalu beringsut memeluk diriku, kucium wangi rambut yang membangkitkan gairahku, kusambut pelukannya dan kami saling berciuman dengan ganasnya. Sementara asyik berciuman, kubelai rambut panjangnya yang menjadi kesukaanku, sementara jari-jemarinya menelusup masuk celanaku meraba-raba kemaluan ku yang membesar.
"Mbak, ngga salah nih kita begini" Kataku dengan nafas tersengal-sengal
"Biar,dik! kuhadiahkan sesuatu yang berharga buatmu" Bisiknya mesra
"Apa itu, Mbak?"
"Keperawananku, dik!, aku masih perawan sampai seumur ini"
Mbak Imah semakin ganas mengulum bibirku, kubalas dengan meremas payudaranya yang besar, sementara dia semakin kencang meremas kemaluanku.
"Ahh..dik!, aku sudah tidak tahan, kurasa sudah 'basah', kamu keluarkan punyamu ya!, nanti aku masukkan, nggak usah lepas baju" Katanya tersengal sengal
Akhirnya aku memelorotkan celanaku sebatas lutut dan Mbak Imah Melepas celana dalamnya dan mengangkat dasternya. Dibelainya kemaluanku yang besar dengan mata berbinar-binar, lalu dia tiduran telentang.
"Ayo, Dik!, kesinikan punyamu" Bisiknya sambil membimbing kemaluanku kebibir vaginanya yang kecil berbulu lebat itu.
Kucolek sedikit, basah!!
"Ayo, dong!, dorong pelan, masuk kedalam! Mbak jamin enak !" Bisiknya lagi saat kemaluanku menempel di vaginanya yang mulai terbuka sedikit.
Kutekan perlahan kemaluanku menembus vaginanya, masuk sedikit-agak susah, masuk setengah mulai licin, masuk semua-mulai terasa kenikmatannya.
"Aaaahh..., ohh!" Desah Mbak Imah lirih ketika kemaluanku menembus vaginanya. Mbak Imah menarikku kedalam pelukannya, melumat bibirku dan berbisik mesra.
"Ayo, Dik! yang pelan saja ya!, agak sakit tapi enak" Katanya
Secara perlahan kugerakkan pantatku maju mundur menuruti insting yang ada dalam kepalaku. Mbak Imah sendiri melingkarkan pahanya menjepit pantatku sambil berdesah dan mendesis perlahan di telingaku tanda dia sangat menikmati permainan ini.
"Ouuch...shh, pelan-pelan, Dik!" Desahnya di telingaku
"iiyyah..hhh, mbaakh.." Kataku menahan kenikmatan
Kupeluk lebih erat tubuh montoknya, sambil menciumi lehernya, sayang aku tidak bisa mempermainkan payudaranya karena masih mengenakan daster yang sekarang menjadi basah karena keringat akibat panas dari persetubuhan ini.
"Ahh...Ohhh...agak cepat sedikit,Dik!, Ooouuch..!" Desahnya lirih
"Sshh...mbak juga, doong,..hhh!" Kataku
Ditimpahi suara berkecepokan orang bersetubuh, kami saling merayu mesra dengan lirih.
Entah sudah berapa lama permainan ini berlangsung, yang jelas lelehan keringat dan cipratan ludah memenuhi wajah kami sementara Mbak Imah sendiri rambut panjangnya sudah mulai awut-awutan dan menutupi sebagian wajahnya.
Sampai suatu ketika, jepitan pahanya semakin keras dan aku merasa kemaluanku seakan-akan diremas-remas oleh tangan yang halus yang membuat seluruh tubuhku bergetar dan ujung kemaluanku menjadi gatal sekali yang akhirnya menyemprotkan air mani ku banyak sekali ke dalam liang vagina Mbak Imah yang sudah terkulai lemas duluan.
Lalu aku bergulir kelelahan disamping tubuh Mbak Imah, sambil mengatur napas.
"terima kasih Mbak!" Kataku
"Sama-sama, Dik!" Jawabnya masih dengan mesra walaupun dengan napas naik turun.
Disekanya pangkal pahanya dengan saputangan putih yang dikeluarkan dari sakunya, dan diberikannya padaku.
"Buat kenang-kenangan kita berdua, Dik!" katanya sambil menciumku.
Setelah berbenah sebentar, kami pun turun ke lantai 2 menuju kamar masing-masing. Setelah itu aku mandi dan ku ambil saputangan pemberian Mbak Imah tersebut, kuperhatikan terdapat sedikit bekas air mani kering dan bercak-bercak darah merah yang juga sudah mengering, tanda memang Mbak Imah benar-benar masih perawan ketika terjadi persetubuhan tadi.
*****
Akhirnya kejadian itu paling berkesan dalam hidupku. Ketika aku pulang Mbak Imah memberikan alamat rumahnya di Rt 06/07, ka**S***n, Si*****i, K****l, Jateng. Dan sewaktu senggang, kusempatkan mengunjunginya dan mengulang permainan yang membuat ketagihan itu sampai saat ini, sebuah pengalaman dari seorang perawan tua yang masih cantik dan montok yang seharusnya aku memanggilnya dengan tante.
Bravo Mbak Imah
Mbak Imah ini umurnya sudah 42 tahun, namun sampai saat ini dia belum menikah yang katanya dikarenakan sesuatu dan lain hal yang aku tidak perlu tahu dan yang perlu dicatat, dia masih cantik walaupun agak sedikit montok menurutku. Lambat laun kami menjadi semakin akrab dan diakhir perjumpaan kami, dia menghadiahkan sesuatu yang tidak terlupakan seumur hidupku.
Begini ceritanya :
Sore itu aku menemuinya setelah seharian mengurus surat-surat dan biaya perawatan Budhe ku selama di rumah sakit, untuk mengucapkan selamat tinggal karena esok pagi aku harus pulang ke kota asalku.
"Mbak, besok aku mau pulang kampung, jangan nangis ya! kalau aku tinggal nantinya !" Kataku setelah mengobrol lama tanpa topik yang jelas
"Lho, sudah selesai, tho!, trus mau pulang jam berapa besok?' tanya nya dengan bahasa jawa yang medhok
"Mungkin sekitar jam 10 an, nunggu jemputan sih"
Akhirnya kami jadi mengobrol panjang lebar tentang kebersamaan kami selama ini di rumah sakit ini, tanpa terasa waktu menjadi semakin petang.
"Aku mandi dulu ya, Dik! nanti malam kita lanjutkan lagi ngobrolnya, cari tempat yang sepi biar lebih 'hangat' " Katanya sambil menggelung rambut panjang nya dan berlalu ke kamarnya untuk mengambil peralatan mandi
*****
"Sini, Dik!, disitu ada kamar kosong yang nggak dipakai" Kata Mbak Imah sambil menarik ku ke sebuah kamar remang-remang yang ada di lantai tiga dari bangsal rumah sakit ini
"Heh, apa ngga dimarahi kalau kita kesitu, ntar di tangkep satpam lagi!" Kataku
"Ngga ada satpam yang kontrol kesini kalo malam-malam begini"
"Masa?" Kataku meragukan sambil melihat jam tanganku menunjukkan pukul 10 malam
"Lagian Mbak khan pasien, koq malah keluyuran seperti ini, sih?" Kataku
"Mbak khan tinggal pemulihan pasca operasi, jadi udah ngga begitu di khawatirkan lagi!, nah itu ada tikar, kita duduk di situ yuk!" Ajak nya
Dan kami pun duduk berdua di keremangan kamar kosong sambil melihat keseberang bangsal lain dan pemandangan taman yang ada di bawah bangsal kami.
*****
"Dik,..aku,..sebenarnya mencintaimu!" Katanya setelah beberapa saat kami mengobrol
Aku kaget
"Tapi, Mbak..." Sela ku
"jangan buat aku kecewa, dik!, sudah lama aku memimpikan hal seperti ini, semuanya ada padamu dan akan kuserahkan semua milik ku buatmu"
"Tapi, Mbak.."
"Sst..., sudah, jangan ngobrol lagi, besok kamu pulang khan?, kita nikmati malam terakhir kita sebaik-baiknya"
Mbak Imah lalu beringsut memeluk diriku, kucium wangi rambut yang membangkitkan gairahku, kusambut pelukannya dan kami saling berciuman dengan ganasnya. Sementara asyik berciuman, kubelai rambut panjangnya yang menjadi kesukaanku, sementara jari-jemarinya menelusup masuk celanaku meraba-raba kemaluan ku yang membesar.
"Mbak, ngga salah nih kita begini" Kataku dengan nafas tersengal-sengal
"Biar,dik! kuhadiahkan sesuatu yang berharga buatmu" Bisiknya mesra
"Apa itu, Mbak?"
"Keperawananku, dik!, aku masih perawan sampai seumur ini"
Mbak Imah semakin ganas mengulum bibirku, kubalas dengan meremas payudaranya yang besar, sementara dia semakin kencang meremas kemaluanku.
"Ahh..dik!, aku sudah tidak tahan, kurasa sudah 'basah', kamu keluarkan punyamu ya!, nanti aku masukkan, nggak usah lepas baju" Katanya tersengal sengal
Akhirnya aku memelorotkan celanaku sebatas lutut dan Mbak Imah Melepas celana dalamnya dan mengangkat dasternya. Dibelainya kemaluanku yang besar dengan mata berbinar-binar, lalu dia tiduran telentang.
"Ayo, Dik!, kesinikan punyamu" Bisiknya sambil membimbing kemaluanku kebibir vaginanya yang kecil berbulu lebat itu.
Kucolek sedikit, basah!!
"Ayo, dong!, dorong pelan, masuk kedalam! Mbak jamin enak !" Bisiknya lagi saat kemaluanku menempel di vaginanya yang mulai terbuka sedikit.
Kutekan perlahan kemaluanku menembus vaginanya, masuk sedikit-agak susah, masuk setengah mulai licin, masuk semua-mulai terasa kenikmatannya.
"Aaaahh..., ohh!" Desah Mbak Imah lirih ketika kemaluanku menembus vaginanya. Mbak Imah menarikku kedalam pelukannya, melumat bibirku dan berbisik mesra.
"Ayo, Dik! yang pelan saja ya!, agak sakit tapi enak" Katanya
Secara perlahan kugerakkan pantatku maju mundur menuruti insting yang ada dalam kepalaku. Mbak Imah sendiri melingkarkan pahanya menjepit pantatku sambil berdesah dan mendesis perlahan di telingaku tanda dia sangat menikmati permainan ini.
"Ouuch...shh, pelan-pelan, Dik!" Desahnya di telingaku
"iiyyah..hhh, mbaakh.." Kataku menahan kenikmatan
Kupeluk lebih erat tubuh montoknya, sambil menciumi lehernya, sayang aku tidak bisa mempermainkan payudaranya karena masih mengenakan daster yang sekarang menjadi basah karena keringat akibat panas dari persetubuhan ini.
"Ahh...Ohhh...agak cepat sedikit,Dik!, Ooouuch..!" Desahnya lirih
"Sshh...mbak juga, doong,..hhh!" Kataku
Ditimpahi suara berkecepokan orang bersetubuh, kami saling merayu mesra dengan lirih.
Entah sudah berapa lama permainan ini berlangsung, yang jelas lelehan keringat dan cipratan ludah memenuhi wajah kami sementara Mbak Imah sendiri rambut panjangnya sudah mulai awut-awutan dan menutupi sebagian wajahnya.
Sampai suatu ketika, jepitan pahanya semakin keras dan aku merasa kemaluanku seakan-akan diremas-remas oleh tangan yang halus yang membuat seluruh tubuhku bergetar dan ujung kemaluanku menjadi gatal sekali yang akhirnya menyemprotkan air mani ku banyak sekali ke dalam liang vagina Mbak Imah yang sudah terkulai lemas duluan.
Lalu aku bergulir kelelahan disamping tubuh Mbak Imah, sambil mengatur napas.
"terima kasih Mbak!" Kataku
"Sama-sama, Dik!" Jawabnya masih dengan mesra walaupun dengan napas naik turun.
Disekanya pangkal pahanya dengan saputangan putih yang dikeluarkan dari sakunya, dan diberikannya padaku.
"Buat kenang-kenangan kita berdua, Dik!" katanya sambil menciumku.
Setelah berbenah sebentar, kami pun turun ke lantai 2 menuju kamar masing-masing. Setelah itu aku mandi dan ku ambil saputangan pemberian Mbak Imah tersebut, kuperhatikan terdapat sedikit bekas air mani kering dan bercak-bercak darah merah yang juga sudah mengering, tanda memang Mbak Imah benar-benar masih perawan ketika terjadi persetubuhan tadi.
*****
Akhirnya kejadian itu paling berkesan dalam hidupku. Ketika aku pulang Mbak Imah memberikan alamat rumahnya di Rt 06/07, ka**S***n, Si*****i, K****l, Jateng. Dan sewaktu senggang, kusempatkan mengunjunginya dan mengulang permainan yang membuat ketagihan itu sampai saat ini, sebuah pengalaman dari seorang perawan tua yang masih cantik dan montok yang seharusnya aku memanggilnya dengan tante.
Bravo Mbak Imah
Cara Mendeteksi Keperawanan dengan Melihat Vagina | Beserta Fotonya
@Ikadanews - Cara Mendeteksi Keperawanan dengan Melihat Vagina | Beserta Fotonya - Keperawanan
adalah sesuatu hal yang sangat berharga bagi setiap kaum perempuan yang
masih gadis. Masih memiliki keperawanan bagi seorang gadis tentu saja
membuat sang perempuan tersebut memiliki tingkat derajat yang lebih
tinggi daripada gadis yang lainnya. Menjaganya tentu saja adalah hal
yang gampang-gampang susah. Untuk mengetahui apakah sang gadis itu masih
perawan atau tidak, diperlukan tes tentunya. Tes keperawanan bisa
dilakukan di rumah sakit atau bidan terdekat, namun apabila mau, anda
bisa mengetesnya sendiri dengan melihat vagina anda. Bagaimana caranya??
Berikut ini adalah pemaparan dari bentuk-bentuk Hymen atau Selaput
Dara.
Sebelumnya saya sarankan kepada para gadis agar tidak mencoba tes ini dengan pacar atau seseorang yang bukan muhrim anda (termasuk teman wanita anda)! Anda bisa mencoba tes sederhana ini dengan bantuan saudara kandung perempuan anda, ibu anda, atau mungkin bidan yang terpercaya.
Mari kita mengenal Hymen atau Selaput Dara.
Apakah itu Hymen atau selaput dara?
Adalah sebuah selaput tipis yang mengelilingi lingkaran vagina wanita muda. Hymen dapat berupa berbagai bentuk. Selaput dara paling umum adalah berbentuk seperti setengah bulan. Bentuk ini memungkinkan darah menstruasi dapat mengalir keluar dari vagina seorang gadis.
Berikut ini adalah bagian-bagian dari anatomi vagina :
Sebelumnya saya sarankan kepada para gadis agar tidak mencoba tes ini dengan pacar atau seseorang yang bukan muhrim anda (termasuk teman wanita anda)! Anda bisa mencoba tes sederhana ini dengan bantuan saudara kandung perempuan anda, ibu anda, atau mungkin bidan yang terpercaya.
Mari kita mengenal Hymen atau Selaput Dara.
Apakah itu Hymen atau selaput dara?
Adalah sebuah selaput tipis yang mengelilingi lingkaran vagina wanita muda. Hymen dapat berupa berbagai bentuk. Selaput dara paling umum adalah berbentuk seperti setengah bulan. Bentuk ini memungkinkan darah menstruasi dapat mengalir keluar dari vagina seorang gadis.
Berikut ini adalah bagian-bagian dari anatomi vagina :
Di situ terlihat dengan jelas bentuk dari Hymen atau Selaput Dara.
Clitoris : Pusat rangsangan, memiliki banyak sel syaraf
Uretra : tempat pembuangan urin (air kencing)
Vaginal : tempat pembuangan darah haid
Hymen : Selaput dara keperawanan
Bentuk Selaput Dara Perawan : Ini adalah annulus sempurna selaput dara. Hal ini disebut annulus karena selaput dara membentuk sebuah cincin di sekeliling lubang vagina. Dan bentuk Selaput Dara yang seperti inilah yang disebut perawan. Selaput seperti ini biasanya masih dimiliki gadis usia 13 tahun kebawah.
Ini adalah selaput dara berbentuk crescentic. Membentuk sebuah bentuk sabit, seperti bulan setengah, di atas atau (seperti dalam kasus ini) di bawah vagina. Bentuk Selaput Dara seperti ini juga masih dapat dikatakan Perawan.
Ini adalah Selaput dara seorang perempuan dengan pengalaman seksual sendiri (internal) atau disebut masturbasi. Perhatikan bahwa bentuknya sudah tidak sempurna seperti cincin annulus selaput dara. Namun begitu seorang gadis yang melakukan masturbasi masih dapat dinyatakan Perawan, selama masturbasi itu dilakukan oleh gadis itu sendiri, tidak dengan batuan orang lain.
Clitoris : Pusat rangsangan, memiliki banyak sel syaraf
Uretra : tempat pembuangan urin (air kencing)
Vaginal : tempat pembuangan darah haid
Hymen : Selaput dara keperawanan
Bentuk Selaput Dara Perawan : Ini adalah annulus sempurna selaput dara. Hal ini disebut annulus karena selaput dara membentuk sebuah cincin di sekeliling lubang vagina. Dan bentuk Selaput Dara yang seperti inilah yang disebut perawan. Selaput seperti ini biasanya masih dimiliki gadis usia 13 tahun kebawah.
Ini adalah selaput dara berbentuk crescentic. Membentuk sebuah bentuk sabit, seperti bulan setengah, di atas atau (seperti dalam kasus ini) di bawah vagina. Bentuk Selaput Dara seperti ini juga masih dapat dikatakan Perawan.
Ini adalah Selaput dara seorang perempuan dengan pengalaman seksual sendiri (internal) atau disebut masturbasi. Perhatikan bahwa bentuknya sudah tidak sempurna seperti cincin annulus selaput dara. Namun begitu seorang gadis yang melakukan masturbasi masih dapat dinyatakan Perawan, selama masturbasi itu dilakukan oleh gadis itu sendiri, tidak dengan batuan orang lain.
Bentuk Selaput Dara yang dapat dikatakan tidak lagi perawan :
Ini
adalah selaput dara seorang wanita yang hanya memiliki sedikit
aktivitas seksual. Dapat berupa karena pelecehan seksual ataupun
tindakan berhubungan intim. Dan ini biasanya terjadi saat pertama kali
Selaput Dara tertembus. Dapat dikatakan bahwa hal ini dikategorikan
sebagai tidak perawan lagi.
Ini
adalah vulva seorang wanita yang telah melahirkan. Selaput dara
benar-benar hilang, atau mungkin tersisa sedikit. Yang jelas ini sudah
bukan perawan lagi, melainkan sudah emak-emak.
Gambar-gambar Selaput Dara di bawah ini tergolong perawan, namun memiliki beberapa bentuk : Kalau yang ini dinamakan selaput dara imperforate. Seorang dokter akan melakukan operasi untuk membuat lubang di selaput dara pada bayi perempuan yang terdapat kasus seperti ini. Ini adalah selaput dara berkisi yang sangat langka, yang dicirikan oleh banyak lubang kecil. Selaput dara jenis ini memungkinkan menstruasi dan cairan lain keluar dengan tidak ada masalah, tetapi aktivitas seksual dan memasukkan tampon bisa menimbulkan masalah.
Ini adalah denticular langka pada selaput dara, disebut demikian karena terlihat seperti set gigi yang mengelilingi vagina.
Ini adalah fimbriated langka selaput dara, dengan pola yang tidak teratur di sekitar vagina. Yang ini namanya Labial langka pada Selaput Dara. Beberapa gadis lahir dengan hanya sebuah lubang kecil di selaput dara mereka. Pembedahan juga diperlukan untuk bayi yang baru lahir ini untuk membuat lubang vagina yang lebih besar. Kelangkaan ini disebut septate selaput dara karena selaput dara potongan yang membuat septum, atau jembatan, di seberang lubang vagina.
Ini
adalah subseptate langka selaput dara, mirip dengan septate hanya
selaput dara tidak membuat sebuah jembatan sepanjang jalan melintasi.
Bentuknya seperti Kerongkongan ya?
Tambahan :
Ini Tentunya hanya diketahui setelah menikah. Permukaan gadis yang pernah melakukan hubungan badan, terkesan lembam (memar), pintu kemaluan tidak tertutup rapat, agak renggang sedikit. Kalau gadis yang masih perawan, kemaluannya senantiasa tertutup rapat. Sebenarnya selaput darah bisa dilihat langsung ke dalam kemaluan gadis. Bila kemaluan masih ciut berarti gadis itu masih suci. Kalau lubang itu terbuka sedikit berarti gadis itu sudah tidak perawan lagi. Coba perhatikan warna kemaluan gadis, kalau permukaannya pintu kemaluannya berwarna ungu, kemerah-merahan berarti dia masih suci, akan tetapi kalau warna merah sudah pudar malah menjadi pucat, berarti dia sudah tidak suci lagi.satu lagi, biasanya disaat malam pertama, lelaki biasanya agak susah memasukkan zakar (penis) nya ke dalam kemaluan gadis. Pertama kali melakukan hubungan badan dengan seorang gadis yang baru pecah selaput darahnya memang tidak memuaskan, karena gadis itu tidak nyaman dengan darah yang keluar pada malam pertama (kebiasaannya) dan rasa perih pada kemaluannya. Sehingga ia tidak akan mau berlama-lama. Untuk mengetahui selaput dara yang pecah, coba kosentrasikan mata anda ke dahi istri anda, kalau dia berkerut artinya dia menahan sakit, tetapi kalau dia berpura-pura, santai sajalah…
Jika mencoba tes dengan melihat selaput dara pun belum menjamin, karena ketebalan Hymen atau Selaput Dara setiap perempuan itu berbeda-beda. Jadi dimungkinkan pula ada kasus-kasus seperti anak gadis yang terjatuh saat bermain sepeda, kemudian karena selaput daranya tipis dan mudah robek. Ada pula ilmu-ilmu ghaib (dengan bantuan jin) yang dapat mengembalikan selaput dara. Jadi menurut saya, keperawanan itu adalah masalah kejujuran si gadis tersebut, apakah dia pernah berhubungan intim dengan laki-laki atau belum.
Gambar-gambar Selaput Dara di bawah ini tergolong perawan, namun memiliki beberapa bentuk : Kalau yang ini dinamakan selaput dara imperforate. Seorang dokter akan melakukan operasi untuk membuat lubang di selaput dara pada bayi perempuan yang terdapat kasus seperti ini. Ini adalah selaput dara berkisi yang sangat langka, yang dicirikan oleh banyak lubang kecil. Selaput dara jenis ini memungkinkan menstruasi dan cairan lain keluar dengan tidak ada masalah, tetapi aktivitas seksual dan memasukkan tampon bisa menimbulkan masalah.
Ini adalah denticular langka pada selaput dara, disebut demikian karena terlihat seperti set gigi yang mengelilingi vagina.
Ini adalah fimbriated langka selaput dara, dengan pola yang tidak teratur di sekitar vagina. Yang ini namanya Labial langka pada Selaput Dara. Beberapa gadis lahir dengan hanya sebuah lubang kecil di selaput dara mereka. Pembedahan juga diperlukan untuk bayi yang baru lahir ini untuk membuat lubang vagina yang lebih besar. Kelangkaan ini disebut septate selaput dara karena selaput dara potongan yang membuat septum, atau jembatan, di seberang lubang vagina.
Tambahan :
Ini Tentunya hanya diketahui setelah menikah. Permukaan gadis yang pernah melakukan hubungan badan, terkesan lembam (memar), pintu kemaluan tidak tertutup rapat, agak renggang sedikit. Kalau gadis yang masih perawan, kemaluannya senantiasa tertutup rapat. Sebenarnya selaput darah bisa dilihat langsung ke dalam kemaluan gadis. Bila kemaluan masih ciut berarti gadis itu masih suci. Kalau lubang itu terbuka sedikit berarti gadis itu sudah tidak perawan lagi. Coba perhatikan warna kemaluan gadis, kalau permukaannya pintu kemaluannya berwarna ungu, kemerah-merahan berarti dia masih suci, akan tetapi kalau warna merah sudah pudar malah menjadi pucat, berarti dia sudah tidak suci lagi.satu lagi, biasanya disaat malam pertama, lelaki biasanya agak susah memasukkan zakar (penis) nya ke dalam kemaluan gadis. Pertama kali melakukan hubungan badan dengan seorang gadis yang baru pecah selaput darahnya memang tidak memuaskan, karena gadis itu tidak nyaman dengan darah yang keluar pada malam pertama (kebiasaannya) dan rasa perih pada kemaluannya. Sehingga ia tidak akan mau berlama-lama. Untuk mengetahui selaput dara yang pecah, coba kosentrasikan mata anda ke dahi istri anda, kalau dia berkerut artinya dia menahan sakit, tetapi kalau dia berpura-pura, santai sajalah…
Jika mencoba tes dengan melihat selaput dara pun belum menjamin, karena ketebalan Hymen atau Selaput Dara setiap perempuan itu berbeda-beda. Jadi dimungkinkan pula ada kasus-kasus seperti anak gadis yang terjatuh saat bermain sepeda, kemudian karena selaput daranya tipis dan mudah robek. Ada pula ilmu-ilmu ghaib (dengan bantuan jin) yang dapat mengembalikan selaput dara. Jadi menurut saya, keperawanan itu adalah masalah kejujuran si gadis tersebut, apakah dia pernah berhubungan intim dengan laki-laki atau belum.
Tidak Perawan, Perceraian Rentan di Awal Nikah
@Ikadanews - Tidak Perawan, Perceraian Rentan di Awal Nikah - KEPERAWANAN ternyata memiliki efek negatif terhadap pernikahan yang
dibina pasangan suami-istri. Pasalnya, pasangan yang tidak perawan saat
dinikahi bisa memicu perceraian.
Melepas keperawanan saat usia muda sepertinya mulai terlihat umum saat ini. Namun penelitian terbaru mengatakan, bahwa remaja yang tidak perawan lebih rentan terhadap perceraian.
Kehilangan keperawanan di usia muda tidak hanya berisiko hamil, namun juga berakibat buruk bagi kesehatan mental. Sebuah studi baru yang dilakukan University of Iowa menemukan, bahwa 31 persen dari wanita yang kehilangan keperawanan di usia remaja lebih potensial bercerai saat memasuki lima tahun pertama usia pernikahan. Sedangkan kurang dari 50 persen lainnya berpisah dengan suaminya ketika menginjak usia 10 tahun pernikahannya.
Hal itu sangat kontras dengan wanita yang menjaga keperawanannya hingga dewasa. Pasalnya, hanya 15 persen yang bercerai dalam usia pernikahan lima tahun. Sedangkan 27 persen lainnya berpisah pada usia pernikahan 10 tahun, di mana separuh dari mereka tidak perawan sejak remaja.
Hasil studi juga melaporkan, bahwa satu dari tiga wanita yang tidak perawan saat remaja ingin memiliki pasangan seks yang lebih banyak sebelum mereka menikah. Namun, penemuan berikut ini lebih menarik.
Ternyata, 25 persen dari remaja yang berhubungan seks telah memiliki bayi di luar pernikahan. Dan hanya 10 persen wanita yang tetap perawan hingga dewasa yang memiliki anak di luar pernikahan.
Para peneliti percaya, bahwa momen seseorang wanita mulai melakukan seks tidak meningkatkan perceraian, namun menentukan berapa banyak orang yang menjadi teman tidur mereka dan apakah sempat memiliki anak di luar nikah memiliki dampak terhadap perceraian tersebut. Inilah dua faktor yang dipercaya akan meningkatkan risiko perceraian
Melepas keperawanan saat usia muda sepertinya mulai terlihat umum saat ini. Namun penelitian terbaru mengatakan, bahwa remaja yang tidak perawan lebih rentan terhadap perceraian.
Kehilangan keperawanan di usia muda tidak hanya berisiko hamil, namun juga berakibat buruk bagi kesehatan mental. Sebuah studi baru yang dilakukan University of Iowa menemukan, bahwa 31 persen dari wanita yang kehilangan keperawanan di usia remaja lebih potensial bercerai saat memasuki lima tahun pertama usia pernikahan. Sedangkan kurang dari 50 persen lainnya berpisah dengan suaminya ketika menginjak usia 10 tahun pernikahannya.
Hal itu sangat kontras dengan wanita yang menjaga keperawanannya hingga dewasa. Pasalnya, hanya 15 persen yang bercerai dalam usia pernikahan lima tahun. Sedangkan 27 persen lainnya berpisah pada usia pernikahan 10 tahun, di mana separuh dari mereka tidak perawan sejak remaja.
Hasil studi juga melaporkan, bahwa satu dari tiga wanita yang tidak perawan saat remaja ingin memiliki pasangan seks yang lebih banyak sebelum mereka menikah. Namun, penemuan berikut ini lebih menarik.
Ternyata, 25 persen dari remaja yang berhubungan seks telah memiliki bayi di luar pernikahan. Dan hanya 10 persen wanita yang tetap perawan hingga dewasa yang memiliki anak di luar pernikahan.
Para peneliti percaya, bahwa momen seseorang wanita mulai melakukan seks tidak meningkatkan perceraian, namun menentukan berapa banyak orang yang menjadi teman tidur mereka dan apakah sempat memiliki anak di luar nikah memiliki dampak terhadap perceraian tersebut. Inilah dua faktor yang dipercaya akan meningkatkan risiko perceraian
Ya Ampun...! Gadis Cantik 18 Tahun Tawarkan Keperawanan Rp 112 Juta
@Ikadanews - Ya Ampun...! Gadis Cantik 18 Tahun Tawarkan Keperawanan Rp 112 Juta - Gadis remaja cantik menawarkan keperawanannya seharga 12 ribu dollar
Australia atau sekitar Rp 112 juta (Rp 9.400 per dollar Australia)
melalui agensi yang disebut Sweet Girls Premium Escort. Demikian
dilansir Sydney Morning Herald, Minggu (6/5/2012).
Remaja cantik ini keturunan China kelahiran Melbourne dan berusia 18 tahun. Agensi perempuan panggilan itu mengatakan tawaran ini dimulai pada 19 Mei mendatang. "Ia seorang perawan. Kita bisa mengetahuinya dengan mudah," demikian disampaikan juru bicara agensi Sweet Girls Premium Escort saat diwawancarai Sun-Herald.
"Ia akan ke tempat Anda atau hotel dan menghabiskan waktu dua hari bersama. Ia tidak memiliki pacar dan ia melakukan itu hanya semata-mata demi uang," ujar sang juru bicara, lagi.
Agensi ini merekrut kebanyakan perempuan keturunan Asia berusia 18-25 tahun dan menegaskan cara mencari uang dengan mudah.
Situs ini memiliki dua bahasa yaitu China dan Inggris dan tertulis merekrut pekerja untuk menyelesaikan masalah keuangan dalam waktu singkat.
"Mau membayar uang sekolah? membantu biaya keuangan keluarga? Ingin membeli tas mahal seperti Louis Vuitton? Hubungi kami segera. Kami akan mencarikan pekerjaan bagi Anda," demikian promosi yang tertulis di situs tersebut.
Aktivis perempuan, Melinda Tankard Reist, mengatakan menjual keperawanan dan mempromosikan barang-barang mewah adalah penyebab banyak gadis remaja terjebak.
"Jika perempuan mengalami masalah keuangan maka rumah bordil dengan gampang mengincarnya," jelas Reist.
Remaja cantik ini keturunan China kelahiran Melbourne dan berusia 18 tahun. Agensi perempuan panggilan itu mengatakan tawaran ini dimulai pada 19 Mei mendatang. "Ia seorang perawan. Kita bisa mengetahuinya dengan mudah," demikian disampaikan juru bicara agensi Sweet Girls Premium Escort saat diwawancarai Sun-Herald.
"Ia akan ke tempat Anda atau hotel dan menghabiskan waktu dua hari bersama. Ia tidak memiliki pacar dan ia melakukan itu hanya semata-mata demi uang," ujar sang juru bicara, lagi.
Agensi ini merekrut kebanyakan perempuan keturunan Asia berusia 18-25 tahun dan menegaskan cara mencari uang dengan mudah.
Situs ini memiliki dua bahasa yaitu China dan Inggris dan tertulis merekrut pekerja untuk menyelesaikan masalah keuangan dalam waktu singkat.
"Mau membayar uang sekolah? membantu biaya keuangan keluarga? Ingin membeli tas mahal seperti Louis Vuitton? Hubungi kami segera. Kami akan mencarikan pekerjaan bagi Anda," demikian promosi yang tertulis di situs tersebut.
Aktivis perempuan, Melinda Tankard Reist, mengatakan menjual keperawanan dan mempromosikan barang-barang mewah adalah penyebab banyak gadis remaja terjebak.
"Jika perempuan mengalami masalah keuangan maka rumah bordil dengan gampang mengincarnya," jelas Reist.
Cerita Dewasa : Culik Keperawanan Pengantin ( Khusus Dewasa ) 17+
@Ikadanews - Cerita Dewasa : Culik Keperawanan Pengantin ( Khusus Dewasa ) 17+ - seorang (mahasiswa perantau) membuatku tidak terbatas dalam berbagai
aktifitas, walau seringkali diantaranya bermuatan negatif. Pengalaman
ini terjadi pada tahun 1999 di bulan November, dimana kota Surabaya
sedang diguyur hujan. Merupakan pemandangan langka kalau Surabaya
dicurahi hujan, karena lebih sering kota ini berada dalam kondisi
kering. Kesempatan itu kumanfaatkan untuk berkeliling mengitari Surabaya
karena suhunya agak bersahabat.
Aku berkeliling dengan menggunakan angkutan umum, ke tempat-tempat favorit dan belum pernah kujalani sebelumnya. Kali ini aku bersantai di Galaxy Mall, yang banyak dikunjungi WNI keturunan. Mataku liar melirik-lirik wanita putih mulus dan trendy. Entah kenapa sejak dulu aku terobsesi dengan wanita Chinese yang menurut pandanganku adalah tipikal sempurna dalam banyak hal. Di lantai paling atas, mataku tertuju kepada seorang gadis cantik dan seksi, sedang makan sendirian, tak ada teman. Dengan teknik yang biasa kulakukan, kudekati dia.
Kami berkenalan sejenak dan dia menawariku ikut makan. Aku bilang aku sudah kenyang. Dia bernama Nina **** (edited). Kami seumuran atau paling tidak dia lebih tua dua tahun dariku. Setelah ngobrol agak lama, dengan mengeluarkan jurus empuk tentunya, dia mengajakku pulang bersama, karena aku mengaku akan menunggu angkutan sampai hujan reda.
Akhirnya, aku pun setuju, dan segera berangkat bersamanya. Di dalam mobil, aku tak bisa tenang karena ketika menyetir, aku bisa melihat dadanya yang montok dan paha mulusnya bergerak gesit menguasai kemudi. Tapi dia tidak menyadari itu, karena aku tahu dia tidak akan suka. Hal itu kusadari dari pembicaraan sebelumnya. Dia kelihatannya wanita baik-baik. Tapi konsentrasiku sangat terganggu apalagi jalanan di kota Surabaya yang tidak rata membuat dada indah yang bersembunyi di balik bajunya bergoyang-goyang. Ditambah lagi harum tubuhnya yang sangat merangsang. Akhirnya timbul pikiran jahat di otakku.
“Aku pindah ke belakang ya..” kataku.
“Kenapa?”
“Aku ngantuk, mau tiduran, nanti turunkan aku di jalan Kertajaya”, kataku berpura-pura.
Saat itu sejuta rencana jahat sudah merasuki otakku.
“Ok, tapi kamu jangan terlalu pulas ya.. nanti ngebanguninnya susah”, katanya polos.
Di kala otakku sudah kesetanan, tiba-tiba…
“Jangan berisik atau pisau ini akan merobek lehermu”, ancamku seraya menempelkan pisau lipat yang biasa kubawa. Itu sudah menjadi kebiasaanku sejak di Medan dulu.
“Don… apa-apaan nihh..?” teriaknya gugup, karena terkejut.
“Aku peringatkan, diam, jangan macam-macam!” bentakku sambil menekan permukaan pisau lebih kuat.
Aku sudah kehilangan keseimbangan karena nafsu.
“Jalankan mobilnya dengan wajar, bawa ke daerah Petemon… cepat..!”
“Ehh.. iiya.. iyahh…” jawabnya dengan sangat ketakutan.
Tas yang tadi diletakkan di jok belakang segera kubuka. Seluruh uang dan kartu kreditnya langsung berpindah ke kantongku.
“Bawa ke Pinang Inn… cepat!” bentakku lagi.
Kali ini aku sudah pindah ke jok depan, dan pisau kutempelkan di pinggangnya. Sepanjang perjalanan wajahnya pucat dan sesekali memandangiku, seolah minta dikasihani.
“Jangan mencoba membuat gerakan macam-macam… atau kamu kulempar ke jalan… mengerti?” ancamku lagi sambil berganti posisi.
Aku mengambil alih kemudi. Entahlah, saat itu aku merasa bukan diriku lagi. Mungkin iblis sedang menari-nari di otakku. Dia hanya membisu, dengan tubuh gemetar menahan rasa takut. Tiba-tiba HP-nya berbunyi, kurebut HP itu dan kuhempaskan di jalan sampai pecah.
“Ingat… jangan bertindak aneh-aneh… kalau masih ingin hidup…” pesanku sesampainya di parkiran Pinang Inn.
Mobil langsung masuk garasi, dan aku menghubungi Front Officer. Kubayar, lalu kembali ke garasi.
“Keluar…!”
Dengan wajar kugandeng dia masuk kamar. Kukunci dan kusuruh dia telentang di kasur yang empuk. Kunyalakan TV channel yang memutar film-film biru. Pinang Inn memang disediakan untuk bermesum ria. Dia kelihatan semakin ketakutan, ketika melihatku langsung membuka baju dan celana. Dengan hanya menggunakan CD, kurebahkan tubuhku di sampingnya dengan posisi menyamping. Pisau itu kugesek-gesek di sekitar dadanya.
“Agar proses ini tidak menyakitkan, kamu jangan bertingkah.. atau besok mayatmu sudah ditemukan di laut sana… paham?”
“Don.. ke.. ke… napaa.. jadi be.. gii.. ni? Apa.. salahku?” dengan ketakutan dia berusaha membuatku luluh.
“Salahmu adalah… kamu memamerkan tubuhmu di hadapan singa lapar…”
Segera, seluruh bajunya kusobek dengan pisauku yang tajam. Mulai dari bagian luar sampai dalamnya. Kini dia telanjang bulat di antara serpihan pakaian mahal yang kusayat-sayat. Dia menagis, mata sipitnya bertambah sipit karena berusaha menahan air mata yang mulai mengalir deras ditingkahi isaknya yang sesenggukan. Sejenak aku tertegun menyaksikan keindahan yang terpampang di hadapanku. Dada putih mulus yang montok, tubuh langsing, dan… ups… liang kemaluannya yang merah muda bersembunyi malu-malu di antara paha yang dirapatkannya. Kubuka pahanya.
“Jangann Don… kumohon jangan…” pintanya memelas. Aku sudah tidak peduli.
“Hei… Nin… bisa diam nggak? Mau mati? Hah…?” ancamku sambil menampar pipinya. Wajahnya sampai terlempar karena aku menamparnya cukup keras.
“Silakan menjerit… ini ruangan kedap suara… ayo… menjeritlah…”, ejekku kesenangan.
Segera kulebarkan pahanya, kuelus permukaan kemaluannya dengan lembut dan berirama. Sesekali dia menatapku. Ada juga desah aneh di bibirnya yang tipis. Aku terus mengelus kemaluan itu, sambil dua jariku yang menganggur mempermainkan puting susunya bergantian. Dia hanya bisa mendesah dan menangis. Kudekatkan wajahku ke sela paha mulusnya. Dengan perasaan, kukuak liang kemaluannya, indah sekali. Seumur hidup, baru kali ini aku melihat kemaluan wanita seindah itu. Bentuknya agak membukit mungil, ditumbuhi bulu yang halus dan lemas. Bibir kemaluannya kupegang, kemudian lidahku kujulurkan memasuki lubang yang nikmat itu. Kujilati dengan perlahan, mengitari seluruh permukaannya.
“Shhh… Don… Donhh.. jangaaann… sshh…” Nina sampai terduduk.
Ada sesuatu yang lucu. Dalam situasi itu sempat-sempatnya dia menggoyang pinggulnya mendesak mulutku, dan menjambak rambutku sesekali. Dalam hati aku tertawa, “Dasar wanita… munafik.”
“Ayo… Nin… ayo…” kataku pelan mengharap cairan itu segera keluar membasahi kemaluan indahnya. Saat itu kesadaranku perlahan hadir. Perlakuanku kubuat selembut mungkin, namun tetap tegas agar Nina tidak bertindak ceroboh.
Kali ini lidahku mengait-ngait klitorisnya beraturan namun dengan arah lidah acak. Dia makin bergetar. Goyangan pinggulnya terasa sekali.
“Lho… diperkosa kok malah enjoy… ayo.. nangis lagi… mana…?” olokku.
“Don… jangannhh.. janganh…” balasnya malu-malu, berusaha menggeser kepalaku dari selangkangannya. Tapi setelah kepalaku digerakkan ke samping, malah ditariknya lagi hingga mulutku langsung terjatuh di bibir kemaluannya. Aku pun paham, dia ingin menunjukkan ketidaksudiannya, namun di lain pihak, dia sangat menginginkan sensasi itu.
“Nih.. aku kasih bonus.. silakan menikmati…” kataku sambil melanjutkan jilatanku.
Sementara tanganku yang kiri membelai payudaranya bergiliran secara adil. Kiri dan kanan. Sementara tangan kananku kuletakkan di bawah pantatnya. Pantat seksi itu kuremas sesekali.
“Oghhh… sshhh…”
Nina menggelinjang menahan nafsu yang mulai merasuki dirinya. Sesaat dia lupa kalau sekarang dia dalam keadaan terjajah. “Sshhh… terrusshh…”
Perlahan lahan, cairan yang kunanti keluar juga. Secara mantap, lendir bening itu mengalir membasahi liang kemaluannya yang semerbak.
“Donnhhh… Donhhh…” Dia berteriak di sela orgasmenya yang kuhadiahkan secara cuma-cuma.
“Aduh.. Nin.. yang benar aja dong…” ringisku karena saat orgasme tadi, kukunya yang lentik melukai pundakku.
“Maaf… maaf Donhh…”
Aku berhenti sesaat untuk memberinya waktu istirahat. Aku berdiri di samping ranjang. Dia terkulai lemas. Pahanya dibiarkan terbuka. Kemaluan genit itu sudah mengundang batang kemaluanku untuk beraksi. Namun aku berusaha menahan, agar pemerkosaan ini tidak terlalu menyakitkan. Kami berpandangan sejenak. Dia sudah tidak melakukan perlawanan apa-apa, pasrah.
“Don… aku tahu kamu sebenarnya baik, jangan sakiti aku yah… aku mau menemani kamu di sini, asal kamu tidak melukai aku…” pintanya sambil mengubah posisi telentangnya menjadi duduk melipat lututnya ke bawah pantat. Liang kemaluannya agak tersembunyi sekarang.
“Kamu masih perawan nggak?” tanyaku ketus.
“Iyah.. masih…”
“Nah.. sayang sekali, kalau mulai besok kamu sudah menyandang gelar tidak perawan lagi…”
“Ah…” dia tercekat.
“Don… semua uang tadi boleh kamu ambil.. tapi mohon jangan yang kamu sebut barusan… empat hari lagi aku menikah Don… kumohon Don…”
“Ah… daripada cowok lain yang merasakan nikmatnya darah segar kamu, mending aku curi sekarang…” kataku cepat sambil mendekatinya lagi.
“Don… jangan… kumohon…”
“Diam!”
“Ingat… pisau ini sewaktu-waktu bisa mengeluarkan isi perutmu…” ancamku.
Nina terkejut sekali, karena menyangka aku sudah berbaik hati. Padahal aku juga tidak sungguh-sungguh marah padanya. Mungkin karena aku yang sudah terbiasa berteriak-teriak membuatnya ketakutan.
“Sekarang giliranmu”, kukeluarkan batang kemaluanku yang sudah agak terkulai.
“Kupikir aku nggak perlu menjelaskan lagi cara membangunkan preman yang satu ini…” kataku sambil mengarahkan kepalanya berhadapan dengan batang kemalauanku yang lumayan besar. Sejenak dipandanginya diriku. Tanpa berkata apa-apa dia memegang batang kemaluanku dan mengocoknya perlahan. Dikocoknya terus sampai perlahan, si batang andalanku naik.
“Cuma itu?” tanyaku lagi.
Dibuka mulutnya dengan ragu-ragu, kebetulan sekali adegan di TV channel juga sedang memperagakan hal yang sama. Aku sebenarnya ingin tertawa. Tapi kutahan, karena gengsi kalau dia tahu. Dikulumnya batang kemaluanku. Aku berdiri di atas ranjang. Dia berjongkok dan mulai menggerakkan kepalanya maju mundur.
“Ahhh…” aku mengerang merasa nikmat sekali.
Kulihat matanya sesekali melirik TV. Biar saja, pikirku dalam hati. Toh ini demi keuntunganku. Dijilatinya kepala kemaluanku. Tapi dia tidak berani menatap wajahku.
“Auhhgghh…”
“Jangan dilepas…” seruku tertahan.
Aku jongkok dengan mengarahkan kepala ke sela pahanya. Aku telentang di bawah. Posisi kami sekarang 69. Sewaktu berputar tadi dia menggigit kemaluanku agar tidak lepas dari mulutnya. Lucu memang. Dengan bibir kemaluan tepat di atas wajah, kujilati dengan mantap. Kali ini gerakan lidahku liar mengitari permukaan kemaluannya. Sesekali kusedot bukit kecil itu sambil memasukkan hidungku yang kebetulan mancung ke lubang senggamanya.
“Oghhh… Ahhh…” Kami berseru bersahutan. Kubalikkan tubuhnya. Sekarang dia ada di bawah, namun tetap 69. Kali ini aku lebih leluasa menjilati kemaluannya.
“Augghhh… Donhh… enakkhh… terusshh…” pintanya.
Lalu kembali menyantap batang kemaluanku dengan garang. Sesekali aku merasakan gigitan kecil di sekitar kepala kemaluan. Pintar juga dia, pikirku dalam hati.
Lidahku kujulurkan masuk ke lubang sempit itu dan menari di dalamnya. Pantatku kugoyang naik-turun agar sensasi batang kemaluan yang berada di kulumannya bertambah asyik. Sambil menjilat liang kemaluan itu, jari-jariku mempermainkan bibir kemaluannya.
“Ougghh… Don… enakkhh.. Donnhh.. ahhhh… Donnhh…” serunya dibarengi aliran hangat yang langsung membanjiri lembah merah muda itu.
“Sekarang waktunya Nin.”
Aku mengambil posisi duduk di antara belahan kedua kakinya. Dia masih telentang. Kugesek lagi kepala kemaluanku yang sudah mengeras sempurna beradu dengan klitorisnya yang menegang. Dia setengah duduk dengan menahan tubuhnya pakai siku tangan, dan ikut menyaksikan beradunya batang kemaluanku dengan klitorisnya yang sudah menjadi genit. Batang kemaluanku itu kuarahkan ke liang kemaluannya.
“Jangann… kumohon Donh… jangan..” serunya tertatih sambil mencengkeram batang kemaluanku.
“Aku bersedia memuaskan nafsumu, dengan cara apa saja, asal jangan mengorbankan pusakaku.”
“Oh ya? Kalau dari anus mau nggak?” tantangku.
Tapi sebenarnya aku tidak lagi perduli karena kemaluanku sudah minta dihantamkan melesak lubang kemaluannya.
“Yah.. terserah kamu Don..”
“Nggak.. mau… aku cuma mau yang ini, ini lebih enak..” teriakku sambil menunjuk liang kemaluannya.
“Nih.. pegang.. masukin….” Dengan ragu dipegangnya batang kemaluanku.
“Don… apa tidak ada cara lain?”
“Cara lain? Ada-ada saja kamu… Hei… kamu jangan bertingkah lagi ya… jangan sampai kesabaranku hilang. Kamu beri satu milyar pun sekarang aku nggak bakalan mau melepaskan punya kamu itu sekarang. Aku sudah nggak tahan… paham… paham? paham..?” bentakku dengan nada suara lebih meninggi. Pisau yang tadi kusembunyikan di bawah kasur kuacungkan dan kutekan kuat di dadanya.
“Donn… sakitt.. jangann…” rintihnya ketika pisau tadi melukai dada putihnya. Aku terkesiap. Namun tak peduli.
“Ayo.. dimasukin…” kali ini pisau kutekan lagi.
Darah segar mengalir perlahan dari luka yang kuperbesar, walau tidak begitu parah.
Dengan berat disertai ketakutan, dipegangnya kemaluanku. Diarahkannya ke liang kemaluannya.
“Sulit… sakitt.. Don.. ampunn.. Don…”
“Pegang ini”, kataku tidak sadar karena memberikan pisau itu ke tangannya. Dia juga tidak menyadari kalau sedang memegang pisau. Lucu sekali. Aku hanya bisa tersenyum kalau mengingat masa itu. Aku menunduk dan menjilati kemaluannya. Dia melihatku menjilati barangnya. Sesekali kami bertatapan. Entah apa artinya. Yang pasti aku merasa sudah memiliki mata sipit yang menggemaskan itu. Digerakkannya pinggul besarnya seirama jilatanku. Kuremas juga susunya yang segar merekah.
“Augghhh… Ahhh…” jilatanku kupercepat. Cairannya mengalir lagi walau tidak sebanyak yang tadi. Aku kembali duduk menghadap selangkangannya. Tiba-tiba aku sadar kalau sebilah pisau ada di tangannya. Segera kuambil dan kulempar ke lantai. Dia juga baru sadar setelah aku mengambil pisau itu. Namun sepertinya dia memang sudah takluk.
“Nin.. ludahin ke bawah.. yang banyak…” kataku sambil menunjuk kemaluannya. Kami sama-sama meludah. Kuoleskan liur yang menetes itu ke batang kemaluanku, juga ke kemaluannya. Sesekali dia juga ikut mengusap batang kemaluanku dengan air ludah yang dikeluarkannya lagi di telapak tangannya. Aku memandanginya dengan sayang. Dia juga seolah mengerti arti tatapanku itu. Aku segera mengecup bibirnya. Dia membalas. Kami berpagutan sesaat. Kurasakan batang kemaluanku bersentuhan dengan perutnya.
“Ayo dicoba lagi..”
Kali ini dipegangnya kepala kemaluanku. “Ah… Shhh”
Dan.., “Oogghhh… aaahhh… Shh…”
Kepala kemaluanku masuk perlahan. Sempit sekali lubang itu. Kusodok lagi perlahan. Dia hanya bisa menggigit bibir dan mencengkeram tanganku. Sesekali nafasnya kelihatan sesak. Namun ada juga desah liar terdengar lirih.
“Donnhh… aku benci.. kaaamu…”
Kusodok terus, sampai akhirnya semua batang kemaluanku terbenam di liang kewanitaannya. Aku tahu itu sakit. Namun mau bilang apa, nafsuku sudah di ujung tanduk.
“Brengsek… Donhh.. baajingann.. kamu.. shhh… oghh”,
Aku tak peduli lagi umpatannya. Yang kurasakan hanya nikmat persenggamaan yang benar-benar beda. “Shhh.. shhh… Donhh… Donhh…”
Kupeluk dia erat-erat. Goyanganku makin liar. Aku hanya bisa mendengar dia mengumpat. Sesekali kupandangi wajahnya di sela nafasku yang ngos-ngosan. Beragam ekspresi ada di sana. Ada kesakitan, ada dendam, tapi ada juga makna sayang, dan gairah yang hangat. Kulihat titik-titik darah mulai mendesak lubang sempit yang tercipta antara batang kemaluan dan liang kewanitaannya. Seketika tagisnya meledak. “Donhh… bajingann.. kamuu… jahatt.. kamu Don.. ahhh.. uhh…” dia memukul dadaku keras sekali.
Tangisnya makin menjadi. Aku iba juga. Kutarik kemaluanku dari liang kemaluannya. Darah segar mengalir memenuhi lubang yang memerah padam dan lecet. Kemaluanku kukocok sekuat tenaga ketika spermaku muncrat. “Ahhh… ahh…” Air maniku memancar keras membasahi dada dan sebagian wajahnya. Dia menangis sesenggukan.
“Nikmatnya memek perawan kamu Nin…” kataku tersenyum senang.
Aku langsung menjilati darah segar yang sudah membasahi pahanya. Segera kugendong dia menuju kamar mandi. Di bibir bak, kududukkan dia. Kuambil kertas toilet dan membasuhnya dengan air. Kuusap darah yang ada di sekitar kemaluannya dengan lembut. Darah di dadanya yang sudah mengering juga kulap dengan hati-hati.
“Kamu puas sekarang… bukan begitu Don?” ejeknya di sela tangisnya.
Aku terdiam. Aku merasa menyesal. Tapi mau bilang apa. Nasi sudah menjadi bubur. Kubersihkan semua darah itu sampai tidak berbekas. Kujilati lagi kemaluannya dengan lembut. Aku tahu, yang ini pasti tidak bisa ditolaknya. Benar, dia mulai bergetar. Dipegangnya tanganku dan diremasnya jariku. Tissue yang kupegang dibuangnya, malah jemariku dituntunnya ke sepasang dada montok miliknya. “Ahhh… shhh… sekalian ajaa.. Don.. hamili.. aku.. biar kamu.. lebih… puass…” katanya sambil mengangis lagi.
Aku sungguh tak mengerti. Terus terang di sana aku seperti orang bodoh. Tapi dengan santai kujilati terus kemaluannya. Diraihnya batang kemaluanku dan dikocok-kocoknya perlahan. Kemaluanku sudah terkulai. Lama dia mencengkeram kemaluanku sampai akhirnya bangkit. Nafsuku kembali membara. Kugendong lagi dia, dan jatuh bersama di ranjang empuk. Kami berpelukan dan berciuman lama sekali. Kumasukkan lidahku ke dalam mulutnya, dan menjilati rongga mulutnya. Entah berapa kali kami saling bertukaran air liur. Bagiku, air ludahnya nikmat sekali melebihi minuman ringan apapun. Ketika aku berada di bawah, aku juga menelan semua liurnya tatkala dia meludahi mulutku. Terserahlah, apakah dia marah atau bagaimana. Sepanjang dia merasa bebas, aku melayaninya. Hitung-hitung balas budi. Hehehe…
Aku bergerak ke bawah, menjilati tiap inci sel kulitnya. Lehernya bahkan kuberi tanda cupangan banyak sekali, walau aku tahu empat hari lagi dia akan menikah. Peduli setan.
“Ahh.. Don… hhhsshh.. yanghh.. itu.. nikhhmatt”, serunya tertahan ketika putingnya kusedot dan kujilati dengan bernafsu. Tanganku merayap ke bawah dan membelai lubang kemaluannya yang masih basah. Aku terus merangkak turun, menjilati perutnya dan mengelus pahanya dengan nakal. Sesampainya di sela paha kubuka lagi kedua kakinya, terkuaklah liang kemaluan yang kumakan tadi. Kali ini bentuknya sudah berbeda. Lubangnya agak menganga seperti luka lecet, namun tidak berdarah. Segera kujilati lagi untuk kesekian kalinya. “Donn.. enakhh.. nikmathh…”
Jari telunjukku kumasukkan lembut ke lubang itu sambil menjilati kemaluannya sesekali. “Aduhhh… duh… enaknyaa… Don.. jangan… berhenti”, serunya sambil menggelinjang hebat. Pinggul itu bergerak liar mendesak mulutku. Kutindih dia dan kuarahkan batang kemaluanku. “Uhhh… ssshh”, serunya sesak ketika batang kemaluanku kuhantamkan ke liang kenikmatan itu. Goyangan demi goyangan membuat erangannya semakin ganas. Tentu saja aku semakin beringas. Siapa tahan.
“Donhhh… bajiingann!” untuk kesekian kalinya dia mengumpatku.
Entah apa maksudnya. Kali ini dia sangat menikmati permainan (setidaknya secara fisik, entahlah kalau perasaannya). Kepalanya terlempar ke sana ke mari dan nafasnya mendesah hebat.
“Nin… punyaahh.. kamuu… assiikkh.. ahh”, seruku ketika denyutan liang kemaluannya terasa sekali menekan batang kemaluanku. Kubalik dia, sehingga sekarang posisinya di atas.
“Don.. aku.. akan.. bunuh… kamuu.. suatu.. saat..”
“Silakan.. saajahh…”
Kami berdua berbicara tak karuan.
“Oughhh… aihhh.. sshh”, teriaknya menggelinjang sambil mencabuti bulu-bulu dadaku. Aku merasa kesakitan. Tapi biarlah. Dia sepertinya sangat menyukai.
“Donh… kamu… kamu…” dia tidak melanjutkan kata-katanya.
Tiba-tiba.., “Donhhh… Donhhh… bajingan… ah…” serunya keras sekali, sambil menggoyang pantatnya dengan cepat dan menari-nari seperti kilat. Bunyi becek di bawah sana menandakan dia kembali orgasme. Tapi goyangannya tidak surut. Kucabut batang kemaluanku dan menyuruhnya membelakangiku sambil berpegangan pada sisi ranjang. Kuarahkan batang kemaluanku dari belakang dan, “Oughhh… oughhh… oughhh… oughhh…” tiap sodokanku ditanggapinya dengan seruan liar. Kugenjot terus sambil meremasi kedua susunya yang ikut bergoyang. Lama kami pada posisi itu, tiba-tiba aku didorongnya dan dia berdiri di hadapanku. Aku ditamparnya keras dan memelukku erat. Ditariknya aku ke ranjang dan memegang kemaluanku. Ditindihnya aku, dia sendiri yang menghunjamkan kemaluanku ke liang kewanitaannya.
“Rasakan nihhh… bajingan… shhhh”, teriaknya sambil menari-nari di atasku. Aku tahu dia akan orgasme lagi.
“Aduh..Nin..” pekikku tertahan ketika sekarang dia malah menggigit punggungku.
“Don… Don…” dia berseru kencang dan memeluk erat kepalaku di dadanya. Kupeluk juga dia dan mengangkatnya. Kami berdiri di lantai. Dengan posisi ini aku bisa menyodoknya dengan sangat keras. Kurapatkan ke dinding, dan kupompa sekuat tenaga.
“Nin… ahshhh…”
“Donhhh…”
Aku mengeluarkan sperma di dalam kemaluannya. Dia memelukku erat sekali. Kami berdua ngos-ngosan. Kuangkat dia ke ranjang. Kami terkulai lemas. Kutarik kemaluanku yang melemah dengan pelan. Kutarik sprei itu karena sudah berisi noda darah dan bercak cairan yang beragam. Kami tergeletak berdampingan, tanpa pakaian.
“Don… kamu berhutang padaku, suatu saat aku pasti menagihnya.”
“Hutang apa?” tanyaku.
Dia tidak menjawab. Dengan perlahan dia memejamkan mata dan tertidur. Kupandangi wajahnya yang cantik. Tampak lelah. Hmm… beruntung sekali calon suaminya. Kuelus rambutnya yang lurus indah dengan lembut. Kuciumi keningnya dan kupeluk dia. Aku membenamkan wajahku di dadanya dan terlelap bersama.
Besoknya kami bangun bersamaan, masih berpelukan. Aku sadar, dia tidak punya pakaian lagi. Segera aku keluar dan pergi ke toko terdekat. Kubeli T-shirt dan celana pendek. Ketika kembali ke kamar, dia membisu dan tak mau menjawab pertanyaanku. Didiamkan begitu aku tak ambil pusing. Kupakaikan T-shirt dan celana pendek ke tubuhnya. Dia masih tetap membisu.
“Ayo pulang…” ajakku. Dia melangkah lunglai. Kugandeng dia ke mobil, kududukkan di jok depan. Setelah isi kamar sudah kurapikan, aku langsung menyetir mobil. Sepanjang jalan dia hanya diam membisu.
“Nin… aku tahu apa yang kamu rasakan. Tapi, satu hal yang aku minta darimu… jangan membenciku untuk apa yang kuperbuat. Bencilah kepadaku karena aku bukanlah calon suamimu”, kataku agak kesal dengan sedikit berdiplomasi. Dia memandangku dengan gundah. Namun tetap membisu. Sampai di daerah rumahnya pun dia tetap diam.
“Oke.. Nin… aku tak tahu apa yang kamu inginkan. Jika ada yang ingin kamu utarakan, lakukanlah sekarang sebelum aku pergi.”
Dia hanya diam membisu. Dipandanginya aku agak lama. Karena tidak ada jawaban, kudekati dia dan kucium tangannya. Dia tidak bereaksi.
“Bye.. Nin..” Aku segera beranjak pergi.
Empat hari kemudian aku memang secara diam-diam mendatangi daerah rumahnya. Benar, dari informasi yang kudapat dia memang sedang melangsungkan resepsi pernikahan di sebuah Resto mewah di pusat kota. Tapi aku tidak pergi melihatnya. Siapa tahu itu hanya akan jadi luka baru baginya. Pertemuanku terakhir dengannya terjadi di salah satu kafe di Surabaya. Saat group-ku manggung, aku melihatnya duduk di depan bersama seseorang (mungkin suaminya).
“Lagu ini kupersembahkan buat seorang wanita paling indah yang pernah mewarnai perjalanan hidupku”, aku pun segera menyanyikan tembang Mi Corazon dengan penghayatan yang dalam. Dia menikmatinya dengan tatapan syahdu ke arahku. Tentu saja tak seorang pun pernah tahu, bahwa sesuatu pernah terjadi di antara kami.
Sekarang setahun sudah lewat. Dia pernah juga meneleponku dan bilang kalau dia sedang hamil tujuh bulan. Ketika kutanya dimana dia saat itu, telepon segera ditutupnya. Well, ternyata aku pun sedang mengalami pemerkosaan darinya.
Aku berkeliling dengan menggunakan angkutan umum, ke tempat-tempat favorit dan belum pernah kujalani sebelumnya. Kali ini aku bersantai di Galaxy Mall, yang banyak dikunjungi WNI keturunan. Mataku liar melirik-lirik wanita putih mulus dan trendy. Entah kenapa sejak dulu aku terobsesi dengan wanita Chinese yang menurut pandanganku adalah tipikal sempurna dalam banyak hal. Di lantai paling atas, mataku tertuju kepada seorang gadis cantik dan seksi, sedang makan sendirian, tak ada teman. Dengan teknik yang biasa kulakukan, kudekati dia.
Kami berkenalan sejenak dan dia menawariku ikut makan. Aku bilang aku sudah kenyang. Dia bernama Nina **** (edited). Kami seumuran atau paling tidak dia lebih tua dua tahun dariku. Setelah ngobrol agak lama, dengan mengeluarkan jurus empuk tentunya, dia mengajakku pulang bersama, karena aku mengaku akan menunggu angkutan sampai hujan reda.
Akhirnya, aku pun setuju, dan segera berangkat bersamanya. Di dalam mobil, aku tak bisa tenang karena ketika menyetir, aku bisa melihat dadanya yang montok dan paha mulusnya bergerak gesit menguasai kemudi. Tapi dia tidak menyadari itu, karena aku tahu dia tidak akan suka. Hal itu kusadari dari pembicaraan sebelumnya. Dia kelihatannya wanita baik-baik. Tapi konsentrasiku sangat terganggu apalagi jalanan di kota Surabaya yang tidak rata membuat dada indah yang bersembunyi di balik bajunya bergoyang-goyang. Ditambah lagi harum tubuhnya yang sangat merangsang. Akhirnya timbul pikiran jahat di otakku.
“Aku pindah ke belakang ya..” kataku.
“Kenapa?”
“Aku ngantuk, mau tiduran, nanti turunkan aku di jalan Kertajaya”, kataku berpura-pura.
Saat itu sejuta rencana jahat sudah merasuki otakku.
“Ok, tapi kamu jangan terlalu pulas ya.. nanti ngebanguninnya susah”, katanya polos.
Di kala otakku sudah kesetanan, tiba-tiba…
“Jangan berisik atau pisau ini akan merobek lehermu”, ancamku seraya menempelkan pisau lipat yang biasa kubawa. Itu sudah menjadi kebiasaanku sejak di Medan dulu.
“Don… apa-apaan nihh..?” teriaknya gugup, karena terkejut.
“Aku peringatkan, diam, jangan macam-macam!” bentakku sambil menekan permukaan pisau lebih kuat.
Aku sudah kehilangan keseimbangan karena nafsu.
“Jalankan mobilnya dengan wajar, bawa ke daerah Petemon… cepat..!”
“Ehh.. iiya.. iyahh…” jawabnya dengan sangat ketakutan.
Tas yang tadi diletakkan di jok belakang segera kubuka. Seluruh uang dan kartu kreditnya langsung berpindah ke kantongku.
“Bawa ke Pinang Inn… cepat!” bentakku lagi.
Kali ini aku sudah pindah ke jok depan, dan pisau kutempelkan di pinggangnya. Sepanjang perjalanan wajahnya pucat dan sesekali memandangiku, seolah minta dikasihani.
“Jangan mencoba membuat gerakan macam-macam… atau kamu kulempar ke jalan… mengerti?” ancamku lagi sambil berganti posisi.
Aku mengambil alih kemudi. Entahlah, saat itu aku merasa bukan diriku lagi. Mungkin iblis sedang menari-nari di otakku. Dia hanya membisu, dengan tubuh gemetar menahan rasa takut. Tiba-tiba HP-nya berbunyi, kurebut HP itu dan kuhempaskan di jalan sampai pecah.
“Ingat… jangan bertindak aneh-aneh… kalau masih ingin hidup…” pesanku sesampainya di parkiran Pinang Inn.
Mobil langsung masuk garasi, dan aku menghubungi Front Officer. Kubayar, lalu kembali ke garasi.
“Keluar…!”
Dengan wajar kugandeng dia masuk kamar. Kukunci dan kusuruh dia telentang di kasur yang empuk. Kunyalakan TV channel yang memutar film-film biru. Pinang Inn memang disediakan untuk bermesum ria. Dia kelihatan semakin ketakutan, ketika melihatku langsung membuka baju dan celana. Dengan hanya menggunakan CD, kurebahkan tubuhku di sampingnya dengan posisi menyamping. Pisau itu kugesek-gesek di sekitar dadanya.
“Agar proses ini tidak menyakitkan, kamu jangan bertingkah.. atau besok mayatmu sudah ditemukan di laut sana… paham?”
“Don.. ke.. ke… napaa.. jadi be.. gii.. ni? Apa.. salahku?” dengan ketakutan dia berusaha membuatku luluh.
“Salahmu adalah… kamu memamerkan tubuhmu di hadapan singa lapar…”
Segera, seluruh bajunya kusobek dengan pisauku yang tajam. Mulai dari bagian luar sampai dalamnya. Kini dia telanjang bulat di antara serpihan pakaian mahal yang kusayat-sayat. Dia menagis, mata sipitnya bertambah sipit karena berusaha menahan air mata yang mulai mengalir deras ditingkahi isaknya yang sesenggukan. Sejenak aku tertegun menyaksikan keindahan yang terpampang di hadapanku. Dada putih mulus yang montok, tubuh langsing, dan… ups… liang kemaluannya yang merah muda bersembunyi malu-malu di antara paha yang dirapatkannya. Kubuka pahanya.
“Jangann Don… kumohon jangan…” pintanya memelas. Aku sudah tidak peduli.
“Hei… Nin… bisa diam nggak? Mau mati? Hah…?” ancamku sambil menampar pipinya. Wajahnya sampai terlempar karena aku menamparnya cukup keras.
“Silakan menjerit… ini ruangan kedap suara… ayo… menjeritlah…”, ejekku kesenangan.
Segera kulebarkan pahanya, kuelus permukaan kemaluannya dengan lembut dan berirama. Sesekali dia menatapku. Ada juga desah aneh di bibirnya yang tipis. Aku terus mengelus kemaluan itu, sambil dua jariku yang menganggur mempermainkan puting susunya bergantian. Dia hanya bisa mendesah dan menangis. Kudekatkan wajahku ke sela paha mulusnya. Dengan perasaan, kukuak liang kemaluannya, indah sekali. Seumur hidup, baru kali ini aku melihat kemaluan wanita seindah itu. Bentuknya agak membukit mungil, ditumbuhi bulu yang halus dan lemas. Bibir kemaluannya kupegang, kemudian lidahku kujulurkan memasuki lubang yang nikmat itu. Kujilati dengan perlahan, mengitari seluruh permukaannya.
“Shhh… Don… Donhh.. jangaaann… sshh…” Nina sampai terduduk.
Ada sesuatu yang lucu. Dalam situasi itu sempat-sempatnya dia menggoyang pinggulnya mendesak mulutku, dan menjambak rambutku sesekali. Dalam hati aku tertawa, “Dasar wanita… munafik.”
“Ayo… Nin… ayo…” kataku pelan mengharap cairan itu segera keluar membasahi kemaluan indahnya. Saat itu kesadaranku perlahan hadir. Perlakuanku kubuat selembut mungkin, namun tetap tegas agar Nina tidak bertindak ceroboh.
Kali ini lidahku mengait-ngait klitorisnya beraturan namun dengan arah lidah acak. Dia makin bergetar. Goyangan pinggulnya terasa sekali.
“Lho… diperkosa kok malah enjoy… ayo.. nangis lagi… mana…?” olokku.
“Don… jangannhh.. janganh…” balasnya malu-malu, berusaha menggeser kepalaku dari selangkangannya. Tapi setelah kepalaku digerakkan ke samping, malah ditariknya lagi hingga mulutku langsung terjatuh di bibir kemaluannya. Aku pun paham, dia ingin menunjukkan ketidaksudiannya, namun di lain pihak, dia sangat menginginkan sensasi itu.
“Nih.. aku kasih bonus.. silakan menikmati…” kataku sambil melanjutkan jilatanku.
Sementara tanganku yang kiri membelai payudaranya bergiliran secara adil. Kiri dan kanan. Sementara tangan kananku kuletakkan di bawah pantatnya. Pantat seksi itu kuremas sesekali.
“Oghhh… sshhh…”
Nina menggelinjang menahan nafsu yang mulai merasuki dirinya. Sesaat dia lupa kalau sekarang dia dalam keadaan terjajah. “Sshhh… terrusshh…”
Perlahan lahan, cairan yang kunanti keluar juga. Secara mantap, lendir bening itu mengalir membasahi liang kemaluannya yang semerbak.
“Donnhhh… Donhhh…” Dia berteriak di sela orgasmenya yang kuhadiahkan secara cuma-cuma.
“Aduh.. Nin.. yang benar aja dong…” ringisku karena saat orgasme tadi, kukunya yang lentik melukai pundakku.
“Maaf… maaf Donhh…”
Aku berhenti sesaat untuk memberinya waktu istirahat. Aku berdiri di samping ranjang. Dia terkulai lemas. Pahanya dibiarkan terbuka. Kemaluan genit itu sudah mengundang batang kemaluanku untuk beraksi. Namun aku berusaha menahan, agar pemerkosaan ini tidak terlalu menyakitkan. Kami berpandangan sejenak. Dia sudah tidak melakukan perlawanan apa-apa, pasrah.
“Don… aku tahu kamu sebenarnya baik, jangan sakiti aku yah… aku mau menemani kamu di sini, asal kamu tidak melukai aku…” pintanya sambil mengubah posisi telentangnya menjadi duduk melipat lututnya ke bawah pantat. Liang kemaluannya agak tersembunyi sekarang.
“Kamu masih perawan nggak?” tanyaku ketus.
“Iyah.. masih…”
“Nah.. sayang sekali, kalau mulai besok kamu sudah menyandang gelar tidak perawan lagi…”
“Ah…” dia tercekat.
“Don… semua uang tadi boleh kamu ambil.. tapi mohon jangan yang kamu sebut barusan… empat hari lagi aku menikah Don… kumohon Don…”
“Ah… daripada cowok lain yang merasakan nikmatnya darah segar kamu, mending aku curi sekarang…” kataku cepat sambil mendekatinya lagi.
“Don… jangan… kumohon…”
“Diam!”
“Ingat… pisau ini sewaktu-waktu bisa mengeluarkan isi perutmu…” ancamku.
Nina terkejut sekali, karena menyangka aku sudah berbaik hati. Padahal aku juga tidak sungguh-sungguh marah padanya. Mungkin karena aku yang sudah terbiasa berteriak-teriak membuatnya ketakutan.
“Sekarang giliranmu”, kukeluarkan batang kemaluanku yang sudah agak terkulai.
“Kupikir aku nggak perlu menjelaskan lagi cara membangunkan preman yang satu ini…” kataku sambil mengarahkan kepalanya berhadapan dengan batang kemalauanku yang lumayan besar. Sejenak dipandanginya diriku. Tanpa berkata apa-apa dia memegang batang kemaluanku dan mengocoknya perlahan. Dikocoknya terus sampai perlahan, si batang andalanku naik.
“Cuma itu?” tanyaku lagi.
Dibuka mulutnya dengan ragu-ragu, kebetulan sekali adegan di TV channel juga sedang memperagakan hal yang sama. Aku sebenarnya ingin tertawa. Tapi kutahan, karena gengsi kalau dia tahu. Dikulumnya batang kemaluanku. Aku berdiri di atas ranjang. Dia berjongkok dan mulai menggerakkan kepalanya maju mundur.
“Ahhh…” aku mengerang merasa nikmat sekali.
Kulihat matanya sesekali melirik TV. Biar saja, pikirku dalam hati. Toh ini demi keuntunganku. Dijilatinya kepala kemaluanku. Tapi dia tidak berani menatap wajahku.
“Auhhgghh…”
“Jangan dilepas…” seruku tertahan.
Aku jongkok dengan mengarahkan kepala ke sela pahanya. Aku telentang di bawah. Posisi kami sekarang 69. Sewaktu berputar tadi dia menggigit kemaluanku agar tidak lepas dari mulutnya. Lucu memang. Dengan bibir kemaluan tepat di atas wajah, kujilati dengan mantap. Kali ini gerakan lidahku liar mengitari permukaan kemaluannya. Sesekali kusedot bukit kecil itu sambil memasukkan hidungku yang kebetulan mancung ke lubang senggamanya.
“Oghhh… Ahhh…” Kami berseru bersahutan. Kubalikkan tubuhnya. Sekarang dia ada di bawah, namun tetap 69. Kali ini aku lebih leluasa menjilati kemaluannya.
“Augghhh… Donhh… enakkhh… terusshh…” pintanya.
Lalu kembali menyantap batang kemaluanku dengan garang. Sesekali aku merasakan gigitan kecil di sekitar kepala kemaluan. Pintar juga dia, pikirku dalam hati.
Lidahku kujulurkan masuk ke lubang sempit itu dan menari di dalamnya. Pantatku kugoyang naik-turun agar sensasi batang kemaluan yang berada di kulumannya bertambah asyik. Sambil menjilat liang kemaluan itu, jari-jariku mempermainkan bibir kemaluannya.
“Ougghh… Don… enakkhh.. Donnhh.. ahhhh… Donnhh…” serunya dibarengi aliran hangat yang langsung membanjiri lembah merah muda itu.
“Sekarang waktunya Nin.”
Aku mengambil posisi duduk di antara belahan kedua kakinya. Dia masih telentang. Kugesek lagi kepala kemaluanku yang sudah mengeras sempurna beradu dengan klitorisnya yang menegang. Dia setengah duduk dengan menahan tubuhnya pakai siku tangan, dan ikut menyaksikan beradunya batang kemaluanku dengan klitorisnya yang sudah menjadi genit. Batang kemaluanku itu kuarahkan ke liang kemaluannya.
“Jangann… kumohon Donh… jangan..” serunya tertatih sambil mencengkeram batang kemaluanku.
“Aku bersedia memuaskan nafsumu, dengan cara apa saja, asal jangan mengorbankan pusakaku.”
“Oh ya? Kalau dari anus mau nggak?” tantangku.
Tapi sebenarnya aku tidak lagi perduli karena kemaluanku sudah minta dihantamkan melesak lubang kemaluannya.
“Yah.. terserah kamu Don..”
“Nggak.. mau… aku cuma mau yang ini, ini lebih enak..” teriakku sambil menunjuk liang kemaluannya.
“Nih.. pegang.. masukin….” Dengan ragu dipegangnya batang kemaluanku.
“Don… apa tidak ada cara lain?”
“Cara lain? Ada-ada saja kamu… Hei… kamu jangan bertingkah lagi ya… jangan sampai kesabaranku hilang. Kamu beri satu milyar pun sekarang aku nggak bakalan mau melepaskan punya kamu itu sekarang. Aku sudah nggak tahan… paham… paham? paham..?” bentakku dengan nada suara lebih meninggi. Pisau yang tadi kusembunyikan di bawah kasur kuacungkan dan kutekan kuat di dadanya.
“Donn… sakitt.. jangann…” rintihnya ketika pisau tadi melukai dada putihnya. Aku terkesiap. Namun tak peduli.
“Ayo.. dimasukin…” kali ini pisau kutekan lagi.
Darah segar mengalir perlahan dari luka yang kuperbesar, walau tidak begitu parah.
Dengan berat disertai ketakutan, dipegangnya kemaluanku. Diarahkannya ke liang kemaluannya.
“Sulit… sakitt.. Don.. ampunn.. Don…”
“Pegang ini”, kataku tidak sadar karena memberikan pisau itu ke tangannya. Dia juga tidak menyadari kalau sedang memegang pisau. Lucu sekali. Aku hanya bisa tersenyum kalau mengingat masa itu. Aku menunduk dan menjilati kemaluannya. Dia melihatku menjilati barangnya. Sesekali kami bertatapan. Entah apa artinya. Yang pasti aku merasa sudah memiliki mata sipit yang menggemaskan itu. Digerakkannya pinggul besarnya seirama jilatanku. Kuremas juga susunya yang segar merekah.
“Augghhh… Ahhh…” jilatanku kupercepat. Cairannya mengalir lagi walau tidak sebanyak yang tadi. Aku kembali duduk menghadap selangkangannya. Tiba-tiba aku sadar kalau sebilah pisau ada di tangannya. Segera kuambil dan kulempar ke lantai. Dia juga baru sadar setelah aku mengambil pisau itu. Namun sepertinya dia memang sudah takluk.
“Nin.. ludahin ke bawah.. yang banyak…” kataku sambil menunjuk kemaluannya. Kami sama-sama meludah. Kuoleskan liur yang menetes itu ke batang kemaluanku, juga ke kemaluannya. Sesekali dia juga ikut mengusap batang kemaluanku dengan air ludah yang dikeluarkannya lagi di telapak tangannya. Aku memandanginya dengan sayang. Dia juga seolah mengerti arti tatapanku itu. Aku segera mengecup bibirnya. Dia membalas. Kami berpagutan sesaat. Kurasakan batang kemaluanku bersentuhan dengan perutnya.
“Ayo dicoba lagi..”
Kali ini dipegangnya kepala kemaluanku. “Ah… Shhh”
Dan.., “Oogghhh… aaahhh… Shh…”
Kepala kemaluanku masuk perlahan. Sempit sekali lubang itu. Kusodok lagi perlahan. Dia hanya bisa menggigit bibir dan mencengkeram tanganku. Sesekali nafasnya kelihatan sesak. Namun ada juga desah liar terdengar lirih.
“Donnhh… aku benci.. kaaamu…”
Kusodok terus, sampai akhirnya semua batang kemaluanku terbenam di liang kewanitaannya. Aku tahu itu sakit. Namun mau bilang apa, nafsuku sudah di ujung tanduk.
“Brengsek… Donhh.. baajingann.. kamu.. shhh… oghh”,
Aku tak peduli lagi umpatannya. Yang kurasakan hanya nikmat persenggamaan yang benar-benar beda. “Shhh.. shhh… Donhh… Donhh…”
Kupeluk dia erat-erat. Goyanganku makin liar. Aku hanya bisa mendengar dia mengumpat. Sesekali kupandangi wajahnya di sela nafasku yang ngos-ngosan. Beragam ekspresi ada di sana. Ada kesakitan, ada dendam, tapi ada juga makna sayang, dan gairah yang hangat. Kulihat titik-titik darah mulai mendesak lubang sempit yang tercipta antara batang kemaluan dan liang kewanitaannya. Seketika tagisnya meledak. “Donhh… bajingann.. kamuu… jahatt.. kamu Don.. ahhh.. uhh…” dia memukul dadaku keras sekali.
Tangisnya makin menjadi. Aku iba juga. Kutarik kemaluanku dari liang kemaluannya. Darah segar mengalir memenuhi lubang yang memerah padam dan lecet. Kemaluanku kukocok sekuat tenaga ketika spermaku muncrat. “Ahhh… ahh…” Air maniku memancar keras membasahi dada dan sebagian wajahnya. Dia menangis sesenggukan.
“Nikmatnya memek perawan kamu Nin…” kataku tersenyum senang.
Aku langsung menjilati darah segar yang sudah membasahi pahanya. Segera kugendong dia menuju kamar mandi. Di bibir bak, kududukkan dia. Kuambil kertas toilet dan membasuhnya dengan air. Kuusap darah yang ada di sekitar kemaluannya dengan lembut. Darah di dadanya yang sudah mengering juga kulap dengan hati-hati.
“Kamu puas sekarang… bukan begitu Don?” ejeknya di sela tangisnya.
Aku terdiam. Aku merasa menyesal. Tapi mau bilang apa. Nasi sudah menjadi bubur. Kubersihkan semua darah itu sampai tidak berbekas. Kujilati lagi kemaluannya dengan lembut. Aku tahu, yang ini pasti tidak bisa ditolaknya. Benar, dia mulai bergetar. Dipegangnya tanganku dan diremasnya jariku. Tissue yang kupegang dibuangnya, malah jemariku dituntunnya ke sepasang dada montok miliknya. “Ahhh… shhh… sekalian ajaa.. Don.. hamili.. aku.. biar kamu.. lebih… puass…” katanya sambil mengangis lagi.
Aku sungguh tak mengerti. Terus terang di sana aku seperti orang bodoh. Tapi dengan santai kujilati terus kemaluannya. Diraihnya batang kemaluanku dan dikocok-kocoknya perlahan. Kemaluanku sudah terkulai. Lama dia mencengkeram kemaluanku sampai akhirnya bangkit. Nafsuku kembali membara. Kugendong lagi dia, dan jatuh bersama di ranjang empuk. Kami berpelukan dan berciuman lama sekali. Kumasukkan lidahku ke dalam mulutnya, dan menjilati rongga mulutnya. Entah berapa kali kami saling bertukaran air liur. Bagiku, air ludahnya nikmat sekali melebihi minuman ringan apapun. Ketika aku berada di bawah, aku juga menelan semua liurnya tatkala dia meludahi mulutku. Terserahlah, apakah dia marah atau bagaimana. Sepanjang dia merasa bebas, aku melayaninya. Hitung-hitung balas budi. Hehehe…
Aku bergerak ke bawah, menjilati tiap inci sel kulitnya. Lehernya bahkan kuberi tanda cupangan banyak sekali, walau aku tahu empat hari lagi dia akan menikah. Peduli setan.
“Ahh.. Don… hhhsshh.. yanghh.. itu.. nikhhmatt”, serunya tertahan ketika putingnya kusedot dan kujilati dengan bernafsu. Tanganku merayap ke bawah dan membelai lubang kemaluannya yang masih basah. Aku terus merangkak turun, menjilati perutnya dan mengelus pahanya dengan nakal. Sesampainya di sela paha kubuka lagi kedua kakinya, terkuaklah liang kemaluan yang kumakan tadi. Kali ini bentuknya sudah berbeda. Lubangnya agak menganga seperti luka lecet, namun tidak berdarah. Segera kujilati lagi untuk kesekian kalinya. “Donn.. enakhh.. nikmathh…”
Jari telunjukku kumasukkan lembut ke lubang itu sambil menjilati kemaluannya sesekali. “Aduhhh… duh… enaknyaa… Don.. jangan… berhenti”, serunya sambil menggelinjang hebat. Pinggul itu bergerak liar mendesak mulutku. Kutindih dia dan kuarahkan batang kemaluanku. “Uhhh… ssshh”, serunya sesak ketika batang kemaluanku kuhantamkan ke liang kenikmatan itu. Goyangan demi goyangan membuat erangannya semakin ganas. Tentu saja aku semakin beringas. Siapa tahan.
“Donhhh… bajiingann!” untuk kesekian kalinya dia mengumpatku.
Entah apa maksudnya. Kali ini dia sangat menikmati permainan (setidaknya secara fisik, entahlah kalau perasaannya). Kepalanya terlempar ke sana ke mari dan nafasnya mendesah hebat.
“Nin… punyaahh.. kamuu… assiikkh.. ahh”, seruku ketika denyutan liang kemaluannya terasa sekali menekan batang kemaluanku. Kubalik dia, sehingga sekarang posisinya di atas.
“Don.. aku.. akan.. bunuh… kamuu.. suatu.. saat..”
“Silakan.. saajahh…”
Kami berdua berbicara tak karuan.
“Oughhh… aihhh.. sshh”, teriaknya menggelinjang sambil mencabuti bulu-bulu dadaku. Aku merasa kesakitan. Tapi biarlah. Dia sepertinya sangat menyukai.
“Donh… kamu… kamu…” dia tidak melanjutkan kata-katanya.
Tiba-tiba.., “Donhhh… Donhhh… bajingan… ah…” serunya keras sekali, sambil menggoyang pantatnya dengan cepat dan menari-nari seperti kilat. Bunyi becek di bawah sana menandakan dia kembali orgasme. Tapi goyangannya tidak surut. Kucabut batang kemaluanku dan menyuruhnya membelakangiku sambil berpegangan pada sisi ranjang. Kuarahkan batang kemaluanku dari belakang dan, “Oughhh… oughhh… oughhh… oughhh…” tiap sodokanku ditanggapinya dengan seruan liar. Kugenjot terus sambil meremasi kedua susunya yang ikut bergoyang. Lama kami pada posisi itu, tiba-tiba aku didorongnya dan dia berdiri di hadapanku. Aku ditamparnya keras dan memelukku erat. Ditariknya aku ke ranjang dan memegang kemaluanku. Ditindihnya aku, dia sendiri yang menghunjamkan kemaluanku ke liang kewanitaannya.
“Rasakan nihhh… bajingan… shhhh”, teriaknya sambil menari-nari di atasku. Aku tahu dia akan orgasme lagi.
“Aduh..Nin..” pekikku tertahan ketika sekarang dia malah menggigit punggungku.
“Don… Don…” dia berseru kencang dan memeluk erat kepalaku di dadanya. Kupeluk juga dia dan mengangkatnya. Kami berdiri di lantai. Dengan posisi ini aku bisa menyodoknya dengan sangat keras. Kurapatkan ke dinding, dan kupompa sekuat tenaga.
“Nin… ahshhh…”
“Donhhh…”
Aku mengeluarkan sperma di dalam kemaluannya. Dia memelukku erat sekali. Kami berdua ngos-ngosan. Kuangkat dia ke ranjang. Kami terkulai lemas. Kutarik kemaluanku yang melemah dengan pelan. Kutarik sprei itu karena sudah berisi noda darah dan bercak cairan yang beragam. Kami tergeletak berdampingan, tanpa pakaian.
“Don… kamu berhutang padaku, suatu saat aku pasti menagihnya.”
“Hutang apa?” tanyaku.
Dia tidak menjawab. Dengan perlahan dia memejamkan mata dan tertidur. Kupandangi wajahnya yang cantik. Tampak lelah. Hmm… beruntung sekali calon suaminya. Kuelus rambutnya yang lurus indah dengan lembut. Kuciumi keningnya dan kupeluk dia. Aku membenamkan wajahku di dadanya dan terlelap bersama.
Besoknya kami bangun bersamaan, masih berpelukan. Aku sadar, dia tidak punya pakaian lagi. Segera aku keluar dan pergi ke toko terdekat. Kubeli T-shirt dan celana pendek. Ketika kembali ke kamar, dia membisu dan tak mau menjawab pertanyaanku. Didiamkan begitu aku tak ambil pusing. Kupakaikan T-shirt dan celana pendek ke tubuhnya. Dia masih tetap membisu.
“Ayo pulang…” ajakku. Dia melangkah lunglai. Kugandeng dia ke mobil, kududukkan di jok depan. Setelah isi kamar sudah kurapikan, aku langsung menyetir mobil. Sepanjang jalan dia hanya diam membisu.
“Nin… aku tahu apa yang kamu rasakan. Tapi, satu hal yang aku minta darimu… jangan membenciku untuk apa yang kuperbuat. Bencilah kepadaku karena aku bukanlah calon suamimu”, kataku agak kesal dengan sedikit berdiplomasi. Dia memandangku dengan gundah. Namun tetap membisu. Sampai di daerah rumahnya pun dia tetap diam.
“Oke.. Nin… aku tak tahu apa yang kamu inginkan. Jika ada yang ingin kamu utarakan, lakukanlah sekarang sebelum aku pergi.”
Dia hanya diam membisu. Dipandanginya aku agak lama. Karena tidak ada jawaban, kudekati dia dan kucium tangannya. Dia tidak bereaksi.
“Bye.. Nin..” Aku segera beranjak pergi.
Empat hari kemudian aku memang secara diam-diam mendatangi daerah rumahnya. Benar, dari informasi yang kudapat dia memang sedang melangsungkan resepsi pernikahan di sebuah Resto mewah di pusat kota. Tapi aku tidak pergi melihatnya. Siapa tahu itu hanya akan jadi luka baru baginya. Pertemuanku terakhir dengannya terjadi di salah satu kafe di Surabaya. Saat group-ku manggung, aku melihatnya duduk di depan bersama seseorang (mungkin suaminya).
“Lagu ini kupersembahkan buat seorang wanita paling indah yang pernah mewarnai perjalanan hidupku”, aku pun segera menyanyikan tembang Mi Corazon dengan penghayatan yang dalam. Dia menikmatinya dengan tatapan syahdu ke arahku. Tentu saja tak seorang pun pernah tahu, bahwa sesuatu pernah terjadi di antara kami.
Sekarang setahun sudah lewat. Dia pernah juga meneleponku dan bilang kalau dia sedang hamil tujuh bulan. Ketika kutanya dimana dia saat itu, telepon segera ditutupnya. Well, ternyata aku pun sedang mengalami pemerkosaan darinya.
Cerita Dewasa : Menikmati Jeritan Keperawanan Lenny ( Khusus Dewasa ) 17+
@Ikadanews - Cerita Dewasa : Menikmati Jeritan Keperawanan Lenny ( Khusus Dewasa ) 17+ - Namaku Nina, saat ini aku sedang kuliah semester akhir di salah satu
perguruan tinggi swasta di kota Bandung. Saat kejadian itu menimpaku,
aku sedang duduk di semester dua. Sebenarnya seluruh keluargaku tinggal
di kota Jakarta, dan mereka agak keberatan jika aku harus kuliah di
luar kota, tapi saat itu aku sudah bertekad untuk belajar hidup mandiri
hingga akhirnya mereka mengijinkan aku untuk melanjutkan studi di kota
tersebut.
Di Bandung aku tinggal di sebuah kos putri yang letaknya tidak
begitu jauh dari kampusku. Aku tinggal bersama seorang temanku yang aku
kenal di kampus. Namanya Lenny, dia gadis berdarah Sunda asli. Padahal
dia bisa saja tinggal di rumahnya yang juga berada di kota Bandung,
tapi menurutnya dia ingin lebih bisa berkonsentrasi dengan kuliahnya,
jadi dia memutuskan untuk tinggal di kos bersamaku.
Lenny adalah gadis yang sangat pintar dan juga sopan, begitu sopannya sampai-sampai dia tidak pernah mengenakan pakaian yang seksi atau sedikit terbuka saat bepergian atau berangkat kuliah, padahal menurutku wajah Lenny sangat cantik, rambutnya panjang dan hitam dengan kulit tubuh yang putih mulus, layaknya gadis gadis Sunda pada umumnya, sementara postur tubuhnya juga sangat bagus dan proporsional, pinggangnya ramping didukung oleh kedua belah kakinya yang jenjang, apalagi Lenny juga memiliki payudara yang besar, mungkin dua kali lebih besar daripada buah dadaku. Pokoknya, jika saja Lenny mau berdandan dan sedikit mengubah penampilannya, dia bisa menjadi salah satu gadis tercantik di tempat kuliahku.
Untuk memenuhi kebutuhanku agar tidak terlalu mengandalkan uang kiriman dari orang tuaku, aku memutuskan untuk kuliah sambil bekerja paruh waktu di salah satu club billiard yang cukup besar dan eksklusif di kota Bandung. Aku bekerja menjadi salah seorang penjaga meja, sekaligus merangkap pramusaji di club tersebut, kadang kadang aku merasa sangat lelah dan letih, apalagi jika aku harus terpaksa pulang larut malam dari tempat kerja. Tapi tidak apalah, yang penting aku bisa mempunyai cukup uang dan dapat memenuhi kebutuhanku sendiri tanpa harus mengandalkan kiriman uang dari orang tuaku, lagipula aku sudah bertekad untuk belajar hidup mandiri.
Singkat cerita, hari itu aku sedang bingung, karena besok adalah hari terakhir waktu pembayaran uang semester, padahal kiriman dari orang tua belum juga sampai ke rekeningku, dan saat gajianku masih seminggu lagi, sementara uang tabunganku sudah habis untuk keperluan dan biaya hidupku sehari-hari hingga sore itu aku benar benar pusing memikirkannya. Akhirnya, kuberanikan diri untuk meminjam uang ke club tempat aku bekerja, tapi perusahaan tidak dapat mengabulkan permohonanku dengan alasan saat itu tidak ada dana yang tersedia karena seluruh uang yang ada sudah disetorkan ke pemiliknya.
Malam itu, dengan perasaan sedih dan bingung, aku berkemas untuk pulang kembali ke kosku. Saat itu jam kerjaku memang telah selesai. Aku berjalan lunglai dari ruangan karyawan, bingung memikirkan nasibku besok, saat kulihat Lenny sudah menungguku di ruang tunggu
“Gimana Nin? Dapat pinjaman uangnya?” tanya Lenny.
“Nggak bisa Len.. Nggak apa-apa deh, besok gua minta keringanan aja dari kampus” ujarku dengan nada lemas.
“Elu sendiri, dari mana.? Tumben mampir ke sini?” tambahku sambil melihat ke arah jam tanganku, saat itu sudah hampir jam sepuluh malam, tidak biasanya Lenny berani keluar malam-malam, pikirku heran.
“Gua abis dari mall di depan, ngecek ATM, siapa tahu kiriman gua udah sampai, buat nalangin bayaran elu, tapi ternyata belum sampai..” ujar Lenny dengan nada menyesal.
“Thanks banget untuk usaha lu Len.” ujarku sambil mengajaknya pulang.
Kami berdua berjalan melewati ruangan billiard. Saat itu di sana masih ada empat orang tamu yang sedang bermain ditemani oleh manajerku, mereka adalah teman-teman dari pemilik club tersebut, jadi walaupun club tersebut sudah tutup, mereka tetap dapat bebas bermain. Aku sempat berpamitan dengan mereka sebelum aku kembali berjalan menuju pintu keluar saat tiba-tiba salah seorang dari mereka memanggilku..
“Nin.., Temenin kita main dong..!” serunya.
“Kita taruhan. Berani nggak?” tambah temannya sambil melambaikan tangannya ke arahku.
Aku tertegun sejenak sambil menatap bengong ke arah mereka. Rupanya mereka sedang berjudi, dan mereka mengajakku untuk bergabung. Wah, boleh juga nih. Siapa tahu menang.., pikirku.
“Taruhannya apa? Saya lagi tidak bawa uang banyak..!” seruku, sementara kulihat Pak Dicky manajerku, berjalan menghampiriku.
“Gampang.., kalau kamu bisa menang, satu game kami bayar lima ratus ribu, tapi kalau kamu kalah, nggak perlu bayar, kamu cuma harus buka baju aja, kita main sepuluh game.. Setuju?” seru salah seorang dari mereka.
Aku terkesiap mendengar tantangannya, kulirik Lenny yang saat itu sudah berada di depan pintu keluar, dia tampak menggelengkan kepalanya, sambil memberi tanda kepadaku, agar aku cepat-cepat meninggalkan club tersebut.
“Brengsek! Nggak mau..!” ujarku sambil membalikkan tubuhku. Bisa-bisa aku telanjang kalau dalam sepuluh game itu aku kalah terus, pikirku dengan sebal. Tapi tiba-tiba langkahku terhenti saat tangan manajerku menahan pundakku.
“Terima aja Nin, kamu kan lagi butuh uang, lagipula mereka nggak begitu jago kok..!” ujar manajerku berusaha membujuk.
“Tapi Pak..!” jawabku dengan nada bingung, sebenarnya aku mulai tertarik untuk memenuhi tantangan mereka, dengan harapan aku bisa memenangkan seluruh game, lagipula aku benar benar membutuhkan uang tersebut.
“Sudahlah.! Kalau kamu bersedia nanti saya kasih tambahan uang, lagipula nggak enak menolak tamu-tamu bos..” ujarnya sambil terus membujukku.
“Oke.. Tapi kalau saya kalah terus gimana?” tanyaku kepada mereka.
“Tenang aja, kamu hanya lepas baju aja kok! Kami janji nggak akan berbuat macam macam..!” seru orang yang berada paling dekat denganku.
“Baik.. Tapi janji.. Tidak akan macam macam!” jawabku memastikan perkataan mereka, sementara Lenny langsung berjalan menghampiriku.
“Lu udah gila apa Nin..! Gua ngga setuju!” serunya dengan nada marah.
“Tenang aja Len, elu duduk aja di sana, nungguin gua..! Oke?” ujarku sambil menunjuk ke arah sofa yang berada di pojok ruangan.
“Tapi Nin?” ujar Lenny dengan wajah ketakutan.
“Udah, nggak apa-apa, elu nggak perlu takut..” sanggahku sambil tersenyum menenangkan hatinya, akhirnya Lenny pun berjalan dan duduk di sofa tersebut.
Sudah lima game berjalan, aku menang dua kali dan kalah tiga kali, membuat aku harus menanggalkan jaket, blouse dan celana panjang yang kukenakan hingga saat itu hanya tersisa bra dan celana dalam saja yang masih melekat di tubuhku. Jangan sampai kalah lagi, ujarku dalam hati, dua kali lagi aku kalah, maka aku akan benar-benar bugil. Pikiranku mulai panik, sementara di pojok ruangan, Lenny sudah tampak mulai resah melihat keadaanku.
Tapi naas. Udara dingin dari AC di ruangan tersebut membuat aku sulit untuk berkonsentrasi sehingga aku kembali kalah pada game keenam, membuat mereka langsung bersorak riuh, memintaku untuk segera menanggalkan bra yang kukenakan. Aku sudah hampir menangis saat itu, tapi mereka terus memaksaku, maka dengan perasaan berat dan malu, akhirnya kulepaskan juga bra yang melekat di tubuhku, membuat buah dadaku langsung mencuat dan terbuka di hadapan mata mereka yang tampak melotot saat memandang tubuh telanjangku.
“Sudah.. Sudah, kita berhenti saja, saya menyerah!” seruku memelas sambil berusaha menutupi tubuh bagian atasku, saat itu aku sudah merasa sangat malu dan tidak lagi berminat untuk meneruskan taruhan itu.
“Nggak bisa..! Perjanjiannya kan sampai kamu telanjang, baru permainannya selesai..!” protes lawan mainku, akhirnya aku hanya bisa menuruti kemauannya.
“Buka.. Buka..!” sorak mereka saat pada game berikutnya aku kembali kalah dan harus melepas celana dalamku.
“Sudah.. Kita batalkan saja taruhannya..!” jeritku sambil meraih pakaianku dan berlari menjauhi mereka, tapi salah seorang dari mereka dengan sigap menubrukku dari belakang, membuatku terhempas di atas meja billiard dengan posisi menelungkup dan laki-laki itu menindihku dari atas.
“Lepaskan..!” teriakku kaget sambil meronta dengan sekuat tenaga, tapi laki laki itu terus menindihku dengan kuat, membuat aku benar benar tidak bisa bergerak sama sekali, akhirnya aku terkulai lemah tak berdaya sambil terus menangis.
“Pak dicky..! Tolong saya Pak..!” jeritku sambil menyapukan pandangan mencari manajerku.
Betapa terkejutnya aku saat kulihat Pak Dicky sedang mendekap tubuh Lenny sambil tangannya berusaha melucuti pakaian yang melekat di tubuhnya dibantu oleh tiga orang temannya. Bersamaan dengan itu kurasakan sesuatu mendesak masuk ke dalam liang kemaluanku. Rupanya saat itu laki-laki yang berada di atas tubuhku, sudah akan memperkosaku. Dia menyelipkan batang penisnya dari sela-sela celana dalam yang kukenakan dan terus menekannya dengan keras, membuat batang kemaluannya makin terhunjam masuk melewati bibir vaginaku.
“Jangan.. Ouh..!!” jeritku sambil berusaha menahan pahanya dengan kedua tanganku, tapi batang kemaluannya terus melesak masuk, sehingga akhirnya benar-benar terbenam seluruhnya di dalam liang vaginaku.
“Jangan keluar di dalam, Pak..!” gumamku pelan sambil menahan tubuhku yang berguncang saat laki-laki itu mulai memompaku.
“Oke.. Uh.. Ssh.. Kamu cantik Nina..!” ceracau laki laki itu saat mulai bergerak di dalam tubuhku.
“Ouh.. Hh..!” desahku lirih.
Aku memejamkan mataku, merasakan getaran yang mulai menjalari seluruh tubuhku, saat pemerkosaku menghentakkan tubuhnya dengan makin cepat, membuat aku mulai terangsang saat itu, dan tanpa sadar aku pun ikut menggerakkan pinggulku, berusaha mengimbangi gerakannya.
Aku memang sudah sering melakukan hubungan badan dengan pacarku sejak aku masih duduk di bangku SMU, malah kegadisanku telah terenggut oleh pacarku saat aku masih di kelas satu SMA, dan sejak saat itu kami rutin melakukan aktifitas seks, sampai akhirnya aku pergi melanjutkan studi di Bandung, dan sekarang aku kembali merasakan kenikmatan itu setelah selama satu tahun aku tidak pernah lagi bersetubuh.
“Ouh.. Shh. Ah.” desahku sambil terus menggoyangkan pinggulku.
Sementara di pojok ruangan, kulihat Lenny sedang berjuang dengan sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari keempat orang yang sedang menggumulinya. Saat itu keadaan Lenny benar benar sudah sangat berantakan, kemeja lengan panjang yang di kenakannya sudah terbuka lebar dan hampir lepas dari tubuhnya, sementara bra yang dikenakannya sudah tampak setengah terbuka hingga membuat satu payudaranya menyembul keluar.
“Jangan.. Jangan.. Lepaskan.. Tolong..!” jeritnya keras sambil berusaha meronta dan melawan dengan gigih saat seseorang dari mereka mulai mengangkat rok panjang yang dikenakan oleh Lenny.
“Jangan..! Toloong..!” jerit Lenny makin keras sambil menendang-nendangkan kedua belah kakinya saat mereka mulai menggerayangi tubuh bagian bawahnya dengan buas.
“Hentikann..! Hentikan.!” teriak Lenny putus asa sambil menangis sejadi-jadinya sementara tangannya berusaha menggapai ke arah bawah, mencoba menahan tangan-tangan yang sedang melolosi celana dalamnya, tapi gerakannya tertahan oleh tangan Pak Dicky yang saat itu terus mendekap tubuh Lenny dari belakang.
Manajerku itu terus memaksanya untuk tetap berada di dalam pangkuannya, sambil sesekali meremas dan mempermainkan puting buah dada Lenny. Beberapa saat kemudian, dua orang dari mereka mengangkat tubuh Lenny sambil merenggangkan kedua belah kakinya, sementara Pak Dicky tetap mendekap tubuh Lenny sambil mulai mengarahkan batang kemaluannya ke sela-sela bibir kemaluan temanku itu.
Saat itu keadaan Lenny sungguh sangat mengenaskan, pakaian bagian atasnya sudah terbuka dengan lebar, sementara roknya pun telah tersingkap sampai sebatas perutnya, dan aku dapat melihat jelas, saat tubuh Lenny tampak menggeliat hebat ketika kedua orang yang mengangkat tubuhnya itu mulai menurunkannya dengan perlahan, membuat batang kemaluan Pak Dicky melesak masuk ke dalam liang vaginanya.
“Ough..! Jangaan..!” jerit Lenny parau sambil meringis kesakitan ketika vaginanya mulai dijejali oleh kemaluan Pak Dicky.
Perlahan, kulihat batang kemaluan itu terus melesak masuk sampai akhirnya lenyap dan terbenam seluruhnya di dalam liang rahim Lenny, saat itu tubuh Lenny benar-benar telah menyatu dengan tubuh Pak Dicky. Dan Lenny tampak mengerang kesakitan sambil menggeliatkan tubuhnya.
“Arghh.. Sakitt.., perihh, lepaskan itu dari tubuhku..!” jerit Lenny dengan nafas yang tersengal-sengal, dia masih berusaha meronta, ketika Pak Dicky mulai bergerak di dalam tubuhnya, membuat Lenny makin menjerit-jerit kesakitan, sampai akhirnya tubuhnya terkulai lemas tak sadarkan diri di dalam dekapan Pak Dicky.
Pak Dicky masih terus memompa tubuh Lenny yang pingsan itu dengan kasar, begitu kasarnya hingga membuat tubuh temanku itu ikut berguncang dengan hebat. Buah dadanya yang besar tampak menggeletar dan terlempar kesana kemari saat tubuhnya bergerak naik turun, sementara saat itu aku pun masih terus digarap oleh laki-laki yang sedang memperkosaku, sampai akhirnya tubuhku menegang dengan keras.
“Ohh..!” aku mendesah keras saat telah mencapai orgasme, seluruh sumsum di tulangku serasa ditarik keluar ketika aku benar-benar telah mencapai puncak kenikmatan, tapi tiba-tiba aku menjadi panik luar biasa saat kurasakan penis laki-laki itu berdenyut keras di dalam liang rahimku.
“Jangan.. Jangan di dalam..! Lepaskan.. Bajingan..!” jeritku putus asa saat kurasakan cairan hangat membanjiri rongga kemaluanku. Laki-laki itu telah menyemburkan cairan spermanya di dalam liang rahimku.
Sesaat kemudian posisinya sudah digantikan oleh temannya, dan aku kembali diperkosa. Sementara di pojok ruangan, Lenny pun masih terus digarap oleh mereka, kulihat darah keperawanannya meleleh keluar dari sela-sela bibir vaginanya, bercampur dengan cairan sperma, saat seorang dari mereka mulai kembali melesakkan liang vagina Lenny dengan batang penisnya.
Lenny adalah gadis yang sangat pintar dan juga sopan, begitu sopannya sampai-sampai dia tidak pernah mengenakan pakaian yang seksi atau sedikit terbuka saat bepergian atau berangkat kuliah, padahal menurutku wajah Lenny sangat cantik, rambutnya panjang dan hitam dengan kulit tubuh yang putih mulus, layaknya gadis gadis Sunda pada umumnya, sementara postur tubuhnya juga sangat bagus dan proporsional, pinggangnya ramping didukung oleh kedua belah kakinya yang jenjang, apalagi Lenny juga memiliki payudara yang besar, mungkin dua kali lebih besar daripada buah dadaku. Pokoknya, jika saja Lenny mau berdandan dan sedikit mengubah penampilannya, dia bisa menjadi salah satu gadis tercantik di tempat kuliahku.
Untuk memenuhi kebutuhanku agar tidak terlalu mengandalkan uang kiriman dari orang tuaku, aku memutuskan untuk kuliah sambil bekerja paruh waktu di salah satu club billiard yang cukup besar dan eksklusif di kota Bandung. Aku bekerja menjadi salah seorang penjaga meja, sekaligus merangkap pramusaji di club tersebut, kadang kadang aku merasa sangat lelah dan letih, apalagi jika aku harus terpaksa pulang larut malam dari tempat kerja. Tapi tidak apalah, yang penting aku bisa mempunyai cukup uang dan dapat memenuhi kebutuhanku sendiri tanpa harus mengandalkan kiriman uang dari orang tuaku, lagipula aku sudah bertekad untuk belajar hidup mandiri.
Singkat cerita, hari itu aku sedang bingung, karena besok adalah hari terakhir waktu pembayaran uang semester, padahal kiriman dari orang tua belum juga sampai ke rekeningku, dan saat gajianku masih seminggu lagi, sementara uang tabunganku sudah habis untuk keperluan dan biaya hidupku sehari-hari hingga sore itu aku benar benar pusing memikirkannya. Akhirnya, kuberanikan diri untuk meminjam uang ke club tempat aku bekerja, tapi perusahaan tidak dapat mengabulkan permohonanku dengan alasan saat itu tidak ada dana yang tersedia karena seluruh uang yang ada sudah disetorkan ke pemiliknya.
Malam itu, dengan perasaan sedih dan bingung, aku berkemas untuk pulang kembali ke kosku. Saat itu jam kerjaku memang telah selesai. Aku berjalan lunglai dari ruangan karyawan, bingung memikirkan nasibku besok, saat kulihat Lenny sudah menungguku di ruang tunggu
“Gimana Nin? Dapat pinjaman uangnya?” tanya Lenny.
“Nggak bisa Len.. Nggak apa-apa deh, besok gua minta keringanan aja dari kampus” ujarku dengan nada lemas.
“Elu sendiri, dari mana.? Tumben mampir ke sini?” tambahku sambil melihat ke arah jam tanganku, saat itu sudah hampir jam sepuluh malam, tidak biasanya Lenny berani keluar malam-malam, pikirku heran.
“Gua abis dari mall di depan, ngecek ATM, siapa tahu kiriman gua udah sampai, buat nalangin bayaran elu, tapi ternyata belum sampai..” ujar Lenny dengan nada menyesal.
“Thanks banget untuk usaha lu Len.” ujarku sambil mengajaknya pulang.
Kami berdua berjalan melewati ruangan billiard. Saat itu di sana masih ada empat orang tamu yang sedang bermain ditemani oleh manajerku, mereka adalah teman-teman dari pemilik club tersebut, jadi walaupun club tersebut sudah tutup, mereka tetap dapat bebas bermain. Aku sempat berpamitan dengan mereka sebelum aku kembali berjalan menuju pintu keluar saat tiba-tiba salah seorang dari mereka memanggilku..
“Nin.., Temenin kita main dong..!” serunya.
“Kita taruhan. Berani nggak?” tambah temannya sambil melambaikan tangannya ke arahku.
Aku tertegun sejenak sambil menatap bengong ke arah mereka. Rupanya mereka sedang berjudi, dan mereka mengajakku untuk bergabung. Wah, boleh juga nih. Siapa tahu menang.., pikirku.
“Taruhannya apa? Saya lagi tidak bawa uang banyak..!” seruku, sementara kulihat Pak Dicky manajerku, berjalan menghampiriku.
“Gampang.., kalau kamu bisa menang, satu game kami bayar lima ratus ribu, tapi kalau kamu kalah, nggak perlu bayar, kamu cuma harus buka baju aja, kita main sepuluh game.. Setuju?” seru salah seorang dari mereka.
Aku terkesiap mendengar tantangannya, kulirik Lenny yang saat itu sudah berada di depan pintu keluar, dia tampak menggelengkan kepalanya, sambil memberi tanda kepadaku, agar aku cepat-cepat meninggalkan club tersebut.
“Brengsek! Nggak mau..!” ujarku sambil membalikkan tubuhku. Bisa-bisa aku telanjang kalau dalam sepuluh game itu aku kalah terus, pikirku dengan sebal. Tapi tiba-tiba langkahku terhenti saat tangan manajerku menahan pundakku.
“Terima aja Nin, kamu kan lagi butuh uang, lagipula mereka nggak begitu jago kok..!” ujar manajerku berusaha membujuk.
“Tapi Pak..!” jawabku dengan nada bingung, sebenarnya aku mulai tertarik untuk memenuhi tantangan mereka, dengan harapan aku bisa memenangkan seluruh game, lagipula aku benar benar membutuhkan uang tersebut.
“Sudahlah.! Kalau kamu bersedia nanti saya kasih tambahan uang, lagipula nggak enak menolak tamu-tamu bos..” ujarnya sambil terus membujukku.
“Oke.. Tapi kalau saya kalah terus gimana?” tanyaku kepada mereka.
“Tenang aja, kamu hanya lepas baju aja kok! Kami janji nggak akan berbuat macam macam..!” seru orang yang berada paling dekat denganku.
“Baik.. Tapi janji.. Tidak akan macam macam!” jawabku memastikan perkataan mereka, sementara Lenny langsung berjalan menghampiriku.
“Lu udah gila apa Nin..! Gua ngga setuju!” serunya dengan nada marah.
“Tenang aja Len, elu duduk aja di sana, nungguin gua..! Oke?” ujarku sambil menunjuk ke arah sofa yang berada di pojok ruangan.
“Tapi Nin?” ujar Lenny dengan wajah ketakutan.
“Udah, nggak apa-apa, elu nggak perlu takut..” sanggahku sambil tersenyum menenangkan hatinya, akhirnya Lenny pun berjalan dan duduk di sofa tersebut.
Sudah lima game berjalan, aku menang dua kali dan kalah tiga kali, membuat aku harus menanggalkan jaket, blouse dan celana panjang yang kukenakan hingga saat itu hanya tersisa bra dan celana dalam saja yang masih melekat di tubuhku. Jangan sampai kalah lagi, ujarku dalam hati, dua kali lagi aku kalah, maka aku akan benar-benar bugil. Pikiranku mulai panik, sementara di pojok ruangan, Lenny sudah tampak mulai resah melihat keadaanku.
Tapi naas. Udara dingin dari AC di ruangan tersebut membuat aku sulit untuk berkonsentrasi sehingga aku kembali kalah pada game keenam, membuat mereka langsung bersorak riuh, memintaku untuk segera menanggalkan bra yang kukenakan. Aku sudah hampir menangis saat itu, tapi mereka terus memaksaku, maka dengan perasaan berat dan malu, akhirnya kulepaskan juga bra yang melekat di tubuhku, membuat buah dadaku langsung mencuat dan terbuka di hadapan mata mereka yang tampak melotot saat memandang tubuh telanjangku.
“Sudah.. Sudah, kita berhenti saja, saya menyerah!” seruku memelas sambil berusaha menutupi tubuh bagian atasku, saat itu aku sudah merasa sangat malu dan tidak lagi berminat untuk meneruskan taruhan itu.
“Nggak bisa..! Perjanjiannya kan sampai kamu telanjang, baru permainannya selesai..!” protes lawan mainku, akhirnya aku hanya bisa menuruti kemauannya.
“Buka.. Buka..!” sorak mereka saat pada game berikutnya aku kembali kalah dan harus melepas celana dalamku.
“Sudah.. Kita batalkan saja taruhannya..!” jeritku sambil meraih pakaianku dan berlari menjauhi mereka, tapi salah seorang dari mereka dengan sigap menubrukku dari belakang, membuatku terhempas di atas meja billiard dengan posisi menelungkup dan laki-laki itu menindihku dari atas.
“Lepaskan..!” teriakku kaget sambil meronta dengan sekuat tenaga, tapi laki laki itu terus menindihku dengan kuat, membuat aku benar benar tidak bisa bergerak sama sekali, akhirnya aku terkulai lemah tak berdaya sambil terus menangis.
“Pak dicky..! Tolong saya Pak..!” jeritku sambil menyapukan pandangan mencari manajerku.
Betapa terkejutnya aku saat kulihat Pak Dicky sedang mendekap tubuh Lenny sambil tangannya berusaha melucuti pakaian yang melekat di tubuhnya dibantu oleh tiga orang temannya. Bersamaan dengan itu kurasakan sesuatu mendesak masuk ke dalam liang kemaluanku. Rupanya saat itu laki-laki yang berada di atas tubuhku, sudah akan memperkosaku. Dia menyelipkan batang penisnya dari sela-sela celana dalam yang kukenakan dan terus menekannya dengan keras, membuat batang kemaluannya makin terhunjam masuk melewati bibir vaginaku.
“Jangan.. Ouh..!!” jeritku sambil berusaha menahan pahanya dengan kedua tanganku, tapi batang kemaluannya terus melesak masuk, sehingga akhirnya benar-benar terbenam seluruhnya di dalam liang vaginaku.
“Jangan keluar di dalam, Pak..!” gumamku pelan sambil menahan tubuhku yang berguncang saat laki-laki itu mulai memompaku.
“Oke.. Uh.. Ssh.. Kamu cantik Nina..!” ceracau laki laki itu saat mulai bergerak di dalam tubuhku.
“Ouh.. Hh..!” desahku lirih.
Aku memejamkan mataku, merasakan getaran yang mulai menjalari seluruh tubuhku, saat pemerkosaku menghentakkan tubuhnya dengan makin cepat, membuat aku mulai terangsang saat itu, dan tanpa sadar aku pun ikut menggerakkan pinggulku, berusaha mengimbangi gerakannya.
Aku memang sudah sering melakukan hubungan badan dengan pacarku sejak aku masih duduk di bangku SMU, malah kegadisanku telah terenggut oleh pacarku saat aku masih di kelas satu SMA, dan sejak saat itu kami rutin melakukan aktifitas seks, sampai akhirnya aku pergi melanjutkan studi di Bandung, dan sekarang aku kembali merasakan kenikmatan itu setelah selama satu tahun aku tidak pernah lagi bersetubuh.
“Ouh.. Shh. Ah.” desahku sambil terus menggoyangkan pinggulku.
Sementara di pojok ruangan, kulihat Lenny sedang berjuang dengan sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari keempat orang yang sedang menggumulinya. Saat itu keadaan Lenny benar benar sudah sangat berantakan, kemeja lengan panjang yang di kenakannya sudah terbuka lebar dan hampir lepas dari tubuhnya, sementara bra yang dikenakannya sudah tampak setengah terbuka hingga membuat satu payudaranya menyembul keluar.
“Jangan.. Jangan.. Lepaskan.. Tolong..!” jeritnya keras sambil berusaha meronta dan melawan dengan gigih saat seseorang dari mereka mulai mengangkat rok panjang yang dikenakan oleh Lenny.
“Jangan..! Toloong..!” jerit Lenny makin keras sambil menendang-nendangkan kedua belah kakinya saat mereka mulai menggerayangi tubuh bagian bawahnya dengan buas.
“Hentikann..! Hentikan.!” teriak Lenny putus asa sambil menangis sejadi-jadinya sementara tangannya berusaha menggapai ke arah bawah, mencoba menahan tangan-tangan yang sedang melolosi celana dalamnya, tapi gerakannya tertahan oleh tangan Pak Dicky yang saat itu terus mendekap tubuh Lenny dari belakang.
Manajerku itu terus memaksanya untuk tetap berada di dalam pangkuannya, sambil sesekali meremas dan mempermainkan puting buah dada Lenny. Beberapa saat kemudian, dua orang dari mereka mengangkat tubuh Lenny sambil merenggangkan kedua belah kakinya, sementara Pak Dicky tetap mendekap tubuh Lenny sambil mulai mengarahkan batang kemaluannya ke sela-sela bibir kemaluan temanku itu.
Saat itu keadaan Lenny sungguh sangat mengenaskan, pakaian bagian atasnya sudah terbuka dengan lebar, sementara roknya pun telah tersingkap sampai sebatas perutnya, dan aku dapat melihat jelas, saat tubuh Lenny tampak menggeliat hebat ketika kedua orang yang mengangkat tubuhnya itu mulai menurunkannya dengan perlahan, membuat batang kemaluan Pak Dicky melesak masuk ke dalam liang vaginanya.
“Ough..! Jangaan..!” jerit Lenny parau sambil meringis kesakitan ketika vaginanya mulai dijejali oleh kemaluan Pak Dicky.
Perlahan, kulihat batang kemaluan itu terus melesak masuk sampai akhirnya lenyap dan terbenam seluruhnya di dalam liang rahim Lenny, saat itu tubuh Lenny benar-benar telah menyatu dengan tubuh Pak Dicky. Dan Lenny tampak mengerang kesakitan sambil menggeliatkan tubuhnya.
“Arghh.. Sakitt.., perihh, lepaskan itu dari tubuhku..!” jerit Lenny dengan nafas yang tersengal-sengal, dia masih berusaha meronta, ketika Pak Dicky mulai bergerak di dalam tubuhnya, membuat Lenny makin menjerit-jerit kesakitan, sampai akhirnya tubuhnya terkulai lemas tak sadarkan diri di dalam dekapan Pak Dicky.
Pak Dicky masih terus memompa tubuh Lenny yang pingsan itu dengan kasar, begitu kasarnya hingga membuat tubuh temanku itu ikut berguncang dengan hebat. Buah dadanya yang besar tampak menggeletar dan terlempar kesana kemari saat tubuhnya bergerak naik turun, sementara saat itu aku pun masih terus digarap oleh laki-laki yang sedang memperkosaku, sampai akhirnya tubuhku menegang dengan keras.
“Ohh..!” aku mendesah keras saat telah mencapai orgasme, seluruh sumsum di tulangku serasa ditarik keluar ketika aku benar-benar telah mencapai puncak kenikmatan, tapi tiba-tiba aku menjadi panik luar biasa saat kurasakan penis laki-laki itu berdenyut keras di dalam liang rahimku.
“Jangan.. Jangan di dalam..! Lepaskan.. Bajingan..!” jeritku putus asa saat kurasakan cairan hangat membanjiri rongga kemaluanku. Laki-laki itu telah menyemburkan cairan spermanya di dalam liang rahimku.
Sesaat kemudian posisinya sudah digantikan oleh temannya, dan aku kembali diperkosa. Sementara di pojok ruangan, Lenny pun masih terus digarap oleh mereka, kulihat darah keperawanannya meleleh keluar dari sela-sela bibir vaginanya, bercampur dengan cairan sperma, saat seorang dari mereka mulai kembali melesakkan liang vagina Lenny dengan batang penisnya.
Unik Inilah Tradisi Melepas Keperawanan di Afrika
@Ikadanews - Unik Inilah Tradisi Melepas Keperawanan di Afrika - Entah ini karena kemajuan, atau memang kebablasan. Afrika Selatan sudah
menjadi negara demokratis, tapi juga negara bebas yang perkembangannya
menyerupai Amerika Serikat. Bahkan, soal hubungan seks pun cenderung
bebas sehingga timbul beberapa ekses sosial. Sebuah film remaja diputar
di SABC, televisi terbesar di Afsel, pada pukul 21.00 waktu setempat.
Intinya, sinetron itu berkisah tentang siswa-siswa high school(setingkat SMA). Di Afsel hanya ada elementary school yang terdiri dari kelas I sampai VII. Kemudian, sekolah dilanjutkan ke high school dari kelas VIII sampai XII.
Dalam kisah itu, para siswa menyiapkan pesta kelulusan. Mereka akan mengadakan pesta di rumah salah satu siswa yang besar dan luas. Namun, sebelum pesta tiba-tiba ada tulisan-tulisan di sekolah yang mengejek para siswa yang masih perjaka dan perawan. Seolah, hal sakral dan terpuji itu justru dianggap aneh oleh orang Afsel, manakala mereka sudah menginjak usia 18 tahun.
Lalu, terjadilah pesta kelulusan itu. Dan, siswi yang tadinya perawan dan siswa yang tadinya perjaka berusaha melepasnya di malam itu. Di lantai atas sudah tersedia beberapa kamar untuk melepas keperawanan dan keperjakaan itu. Siswa yang menemukan pasangan atau pasangan lama bisa bergantian memakai kamar untuk melakukan hubungan seks.
Menurut orang-orang Afsel, pesta itu selalu terjadi di bulan Juni atau awal Juli, ketika datang masa kelulusan high school. Biasanya, pesta dilakukan secara sembunyi-sembunyi atau dikemas seperti pesta kelulusan biasa.
Tahun ini, banyak pesta sembunyi-sembunyi, baik secara berkelompok maupun berdua dilakukan sebelum Piala Dunia 2010. Tentu, pesta melepas keperawanan dan keperjakaan. Dengan demikian, mereka akan bisa menikmati Piala Dunia 2010 dengan status “membanggakan” bagi pendapat mereka.
“Ya, di sini ada tradisi seperti itu. Sepertinya pengaruh dari Amerika. Biasanya sehabis kelulusan. Bagi yang masih menjaga norma, ini tentu mengkhawatirkan,” kata Djaka Widyatmadja, staf KBRI di Pretoria, yang sudah tinggal di Afsel selama 15 tahun.
Hal itu dibenarkan oleh Lesogo, seorang sukarelawan Piala Dunia yang bermarkas di FIFA Fan Fest Inner Free Park, Johannesburg. Menurutnya, di Afsel jika sudah berumur 18 tahun bebas menentukan pilihan dan bertindak. Bahkan, mereka juga bebas berhubungan seks, atau memutuskan menikah, karena sudah dianggap bisa bertanggung jawab dan mandiri.
“Terus terang, saya juga melakukan hal itu dan itu sudah lumrah. Tapi, saya melakukannya setelah berumur 18 tahun. Di Afsel, berhubungan seks dengan gadis di bawah 18 tahun merupakan pelanggaran hukum dan bisa didakwa dengan pasal pemerkosaan yang hukumannya sangat berat,” kata Lesogo.
Meski begitu, kasus hilangnya keperawanan di Afsel bisa terjadi saat masih kecil di bawah 18 tahun. Ini berhubungan dengan keyakinan lokal. Dan, praktik seperti ini masih sering terjadi. Bahkan, praktik ini sempat ngetren karena ada isu bahwa AIDS bisa hilang jika berhubungan seks dengan balita.
Sebagai catatan, kasus HIV/AIDS di Afsel masih tinggi. Bahkan, Afsel termasuk negeri paling banyak pengidap AIDS-nya. Menurut catatan UNAIDS pada 2007, jumlah penderita AIDS di Afsel mencapai 5.700.000 orang. Artinya, Afsel menjadi negeri paling tinggi dalam hal jumlah penderita AIDS.
Menyambut Piala Dunia tahun 2010 lalu, kabarnya pesta melepas keperawanan dan keperjakaan cukup banyak. Memang dua hal itu tak ada hubungannya. Namun, mereka ingin menikmati Piala Dunia bersama pacarnya dan sudah dalam status sering berhubungan seks.
Yang pasti, hubungan antara pemuda dan pemudi di Afsel memang bebas. Bahkan, tak jarang mereka mempertontonkan kemesraan, baik pelukan maupun ciuman bibir, di depan umum tanpa rasa risih. Orang-orang di sekitarnya pun juga cuek saja, seolah sudah menjadi pemandangan biasa.
Intinya, sinetron itu berkisah tentang siswa-siswa high school(setingkat SMA). Di Afsel hanya ada elementary school yang terdiri dari kelas I sampai VII. Kemudian, sekolah dilanjutkan ke high school dari kelas VIII sampai XII.
Dalam kisah itu, para siswa menyiapkan pesta kelulusan. Mereka akan mengadakan pesta di rumah salah satu siswa yang besar dan luas. Namun, sebelum pesta tiba-tiba ada tulisan-tulisan di sekolah yang mengejek para siswa yang masih perjaka dan perawan. Seolah, hal sakral dan terpuji itu justru dianggap aneh oleh orang Afsel, manakala mereka sudah menginjak usia 18 tahun.
Lalu, terjadilah pesta kelulusan itu. Dan, siswi yang tadinya perawan dan siswa yang tadinya perjaka berusaha melepasnya di malam itu. Di lantai atas sudah tersedia beberapa kamar untuk melepas keperawanan dan keperjakaan itu. Siswa yang menemukan pasangan atau pasangan lama bisa bergantian memakai kamar untuk melakukan hubungan seks.
Menurut orang-orang Afsel, pesta itu selalu terjadi di bulan Juni atau awal Juli, ketika datang masa kelulusan high school. Biasanya, pesta dilakukan secara sembunyi-sembunyi atau dikemas seperti pesta kelulusan biasa.
Tahun ini, banyak pesta sembunyi-sembunyi, baik secara berkelompok maupun berdua dilakukan sebelum Piala Dunia 2010. Tentu, pesta melepas keperawanan dan keperjakaan. Dengan demikian, mereka akan bisa menikmati Piala Dunia 2010 dengan status “membanggakan” bagi pendapat mereka.
“Ya, di sini ada tradisi seperti itu. Sepertinya pengaruh dari Amerika. Biasanya sehabis kelulusan. Bagi yang masih menjaga norma, ini tentu mengkhawatirkan,” kata Djaka Widyatmadja, staf KBRI di Pretoria, yang sudah tinggal di Afsel selama 15 tahun.
Hal itu dibenarkan oleh Lesogo, seorang sukarelawan Piala Dunia yang bermarkas di FIFA Fan Fest Inner Free Park, Johannesburg. Menurutnya, di Afsel jika sudah berumur 18 tahun bebas menentukan pilihan dan bertindak. Bahkan, mereka juga bebas berhubungan seks, atau memutuskan menikah, karena sudah dianggap bisa bertanggung jawab dan mandiri.
“Terus terang, saya juga melakukan hal itu dan itu sudah lumrah. Tapi, saya melakukannya setelah berumur 18 tahun. Di Afsel, berhubungan seks dengan gadis di bawah 18 tahun merupakan pelanggaran hukum dan bisa didakwa dengan pasal pemerkosaan yang hukumannya sangat berat,” kata Lesogo.
Meski begitu, kasus hilangnya keperawanan di Afsel bisa terjadi saat masih kecil di bawah 18 tahun. Ini berhubungan dengan keyakinan lokal. Dan, praktik seperti ini masih sering terjadi. Bahkan, praktik ini sempat ngetren karena ada isu bahwa AIDS bisa hilang jika berhubungan seks dengan balita.
Sebagai catatan, kasus HIV/AIDS di Afsel masih tinggi. Bahkan, Afsel termasuk negeri paling banyak pengidap AIDS-nya. Menurut catatan UNAIDS pada 2007, jumlah penderita AIDS di Afsel mencapai 5.700.000 orang. Artinya, Afsel menjadi negeri paling tinggi dalam hal jumlah penderita AIDS.
Menyambut Piala Dunia tahun 2010 lalu, kabarnya pesta melepas keperawanan dan keperjakaan cukup banyak. Memang dua hal itu tak ada hubungannya. Namun, mereka ingin menikmati Piala Dunia bersama pacarnya dan sudah dalam status sering berhubungan seks.
Yang pasti, hubungan antara pemuda dan pemudi di Afsel memang bebas. Bahkan, tak jarang mereka mempertontonkan kemesraan, baik pelukan maupun ciuman bibir, di depan umum tanpa rasa risih. Orang-orang di sekitarnya pun juga cuek saja, seolah sudah menjadi pemandangan biasa.
Inilah 4 fakta seputar selaput dara dan keperawanan
@Ikadanews.info - Inilah 4 Fakta seputar selaput dara dan keperawanan - Hymen merupakan kata dalam bahasa Yunani dan diartikan sebagai membran. Dalam sebuah buku yaitu 'Menjaga Organ Intim' karya dr. Maria Dwikarya, DSKK, jika di Indonesia hymen ini disebut dengan selaput dara. Selaput dara merupakan selaput yang berada di dalam vagina wanita tepatnya sepertiga dalam lubang. Selaput dara ini biasanya dijadikan patokan sebagai keperawanan wanita.
Banyak sekali beredar mitos atau anggapan yang tidak benar secara keseluruhan. Michael Castleman dalam Psychology Today menjelaskan fakta-fakta terkait dengan keperawanan wanita terkait dengan selaput dara.
Berikut adalah beberapa fakta seputar selaput dara dan keperawanan
1. Selaput dara menipis
Pada saat bayi, selaput dara ini sangat tebal dan besar. Semakin dewasa maka selaput dara ini semakin menipis, lebih lebar dan juga membuka. Ini terjadi secara normal pada wanita sebab ia akan selalu melakukan aktifitas bersih-bersih, berjalan, atau bahkan berolahraga.
2. Rasa sakit ketika berhubungan seks pertama kali bukan karena selaput dara robek
Jika wanita melakukan hubungan seks pertama kali maka akan muncul rasa sakit, dan hal ini bukan dikarenakan robeknya selaput dara atau selaput keperawanan wanita. Justru kadang selaput dara ini robek sebelum berhubungan seks pertama kali. Hal ini disebabkan oleh lubang tipis tempat darah menstruasi keluar.
3. Darah muncul bukan karena robeknya selaput dara
Ketika melakukan hubungan seks pertama kali dan keluar darah, maka ini buka karena selaput dara atau selaput keperawanan yang robek. Ini biasanya terjadi karena mereka lebih untuk mengeksplorasi, bahkan terlihat tergesa-gesa dan sangat kurang melakukan foreplay. Akibatnya jaringan vagina menjadi sangat sensitif dan darah keluar, jadi bukan karena selaput dara robek.
4. Selaput dara tidak menutup organ intim wanita
Perlu diketahui bahwa selaput dara ini tidak menutupi semua lubang vagina secara keseluruhan. Tetapi ada lubang kecil yang berfungsi untuk mengeluarkan darah menstruasi.
Kisah Tragis Wanita Yang Direnggut Keperawanannya oleh JFK
@Ikadanews.info - Kisah Tragis Wanita Yang Direnggut Keperawanannya oleh JFK - Mimi Alford, kini 69 tahun, mengaku masih ingat betul apa yang terjadi malam itu. Saat pegawai lain tengah menikmati pesta usai jam kerja, ia diajak John F Kennedy, presiden Amerika Serikat saat itu, ke 'ruang Mrs Kennedy'. Di kamar itulah, keperawannya direnggut Tuan Presiden itu. Setelah itu, keduanya kembali ke aula. "Saya sangat terkejut. Dia, di sisi lain, tampak tenang saja, seolah apa yang baru saja terjadi adalah hal paling alami di dunia. Pada perjalanan pulang, apa yang baru saja terjadi itu terus bergema di kepala saya: 'Aku tidak perawan lagi'," katanya, seperti tertulis dalam memoarnya, berjudul 'Once Upon a Secret: My Affair with President John F Kennedy and Its Aftermath'.
Saat itu usianya masih 19 tahun, dan tengah magang di Gedung Putih. Menurut Daily Mail, saat diperawani, ia baru empat hari magang di bagian pers. Dalam memoarnya ia mengaku menjalin hubungan cinta terlarang dengan JFK selama 18 bulan. Pada bagian lain momoarnya, ia menceritakan pernah disuruh melakukan hubungan intim dengan teman prianya sementara JFK menonton. Ia juga pernah diminta menyedot nitrit amil, satu jenis narkoba, dengan hidungnya yang disebut pria yang saat itu berusia 45 tahun itu akan meningkatkan kehidupan seks mereka.
Memoar Alford menceritakan secara detil, termasuk percakapan 'intim' dengan JFK. Ia menyatakan, setiap kali keduanya berenang, semua akan berakhir di tempat tidur. Wanita yang mengaku pernah hamil anak JFK ini mengatakan dirinya sebagai "pihak yang pasif" dalam hubungan terlarang itu. Ia sering dipesan untuk tetap berada di kamar hotel sampai JFK memanggilnya.
Ia mengaku tidak bisa berkata 'tidak' pada JFK. "Faktanya, saya tertarik pada orang yang paling terkenal dan berkuasa di Amerika," kata wanita yang mengaku satu sekolah dengan Jackie Kennedy ini.
Saat itu usianya masih 19 tahun, dan tengah magang di Gedung Putih. Menurut Daily Mail, saat diperawani, ia baru empat hari magang di bagian pers. Dalam memoarnya ia mengaku menjalin hubungan cinta terlarang dengan JFK selama 18 bulan. Pada bagian lain momoarnya, ia menceritakan pernah disuruh melakukan hubungan intim dengan teman prianya sementara JFK menonton. Ia juga pernah diminta menyedot nitrit amil, satu jenis narkoba, dengan hidungnya yang disebut pria yang saat itu berusia 45 tahun itu akan meningkatkan kehidupan seks mereka.
Memoar Alford menceritakan secara detil, termasuk percakapan 'intim' dengan JFK. Ia menyatakan, setiap kali keduanya berenang, semua akan berakhir di tempat tidur. Wanita yang mengaku pernah hamil anak JFK ini mengatakan dirinya sebagai "pihak yang pasif" dalam hubungan terlarang itu. Ia sering dipesan untuk tetap berada di kamar hotel sampai JFK memanggilnya.
Ia mengaku tidak bisa berkata 'tidak' pada JFK. "Faktanya, saya tertarik pada orang yang paling terkenal dan berkuasa di Amerika," kata wanita yang mengaku satu sekolah dengan Jackie Kennedy ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)























