Cari Artikel Disini

Showing posts with label suku. Show all posts
Showing posts with label suku. Show all posts

Ritual Membersihkan Jenazah Suku Toraja



Tana Toraja di Sulawesi Selatan sudah lama terkenal dengan alam pegunungannya yang permai serta ritual adatnya yang unik. Yang paling tersohor, tentu saja, pesta Rambu Solo yang digelar menjelang pemakaman tokoh yang dihormati.

Tiap tahun pesta yang berlangsung di beberapa tempat di Toraja ini senantiasa mengundang kedatangan ribuan wisatawan.Selain Rambu Solo, sebenarnya ada satu ritual adat nan langka di Toraja, yakni Ma’ Nene’, yakni ritual membersihkan dan mengganti busana jenazah leluhur.

Ritual ini memang hanya dikenal masyarakat Baruppu di pedalaman Toraja Utara. Biasanya, Ma’ Nene’ digelar tiap bulan Agustus. Saat Ma’ Nene’ berlangsung, peti-peti mati para leluhur, tokoh dan orang tua, dikeluarkan dari makam-makam dan liang batu dan diletakkan di arena upacara.

Di sana, sanak keluarga dan para kerabat sudah berkumpul. Secara perlahan, mereka mengeluarkan jenazah (baik yang masih utuh maupun yang tinggal tulang-belulang) dan mengganti busana yang melekat di tubuh jenazah dengan yang baru.Mereka memperlakukan sang mayat seolah-olah masih hidup dan tetap menjadi bagian keluarga besar.

Ritual Ma’ Nene’ oleh masyarakat Baruppu dianggap sebagai wujud kecintaan mereka pada para leluhur, tokoh dan kerabat yang sudah meninggal dunia. Mereka tetap berharap, arwah leluhur menjaga mereka dari gangguan jahat, hama tanaman, juga kesialan hidup.

Asal Muasal Ritual Ma’ Nene’ di Baruppu

Kisah turun-temurun menyebutkan, pada zaman dahulu terdapatlah seorang pemburu binatang bernama Pong Rumasek. Saat sedang berburu di kawasan hutan pegunungan Balla, bukannya menemukan binatang hutan, ia malah menemukan jasad seseorang yang telah lama meninggal dunia. Mayat itu tergeletak di bawah pepohonan, terlantar, tinggal tulang-belulang.

Merasa kasihan, Pong Rumasek kemudian merawat mayat itu semampunya. Dibungkusnya tulang-belulang itu dengan baju yang dipakainya, lalu diletakkan di areal yang lapang dan layak. Setelah itu, Pong Rumasek melanjutkan perburuannya.

Tak dinyana, semenjak kejadian itu, setiap kali Pong Rumasek berburu, ia selalu memperoleh hasil yang besar. Binatang hutan seakan digiring ke dirinya. Bukan hanya itu, sesampainya di rumah, Pong Rumasek mendapati tanaman padi di sawahnya pun sudah menguning, bernas dan siap panen sebelum waktunya.

Pong Rumasek menganggap, segenap peruntungan itu diperolehnya berkat welas asih yang ditunjukkannya ketika merawat mayat tak bernama yang ditemukannya saat berburu. Sejak itulah, Pong Rumasek dan masyarakat Baruppu memuliakan mayat para leluhur, tokoh dan kerabat dengan upacara Ma’ Nene’.

Dalam ritual Ma’ Nene’ juga ada aturan tak tertulis yang mengikat warga. Misalnya, jika seorang istri atau suami meninggal dunia, maka pasangan yang ditinggal mati tak boleh kawin lagi sebelum mengadakan Ma’ Nene’ untuknya.

Ketika Ma’ Nene’ digelar, para perantau asal Baruppu yang bertebaran ke seantero negeri akan pulang kampung demi menghormati leluhurnya.

Warga Baruppu percaya, jika Ma’ Nene’ tidak digelar maka leluhur juga akan luput menjaga mereka. Musibah akan melanda, penyakit akan menimpa warga, sawah dan kebun tak akan menghasilkan padi yang bernas dan tanaman yang subur.
Gambar :






http://forum.viva.co.id/showthread.php?t=379446

Inilah Ritual Kedewasaan Suku-suku Terpencil Yang Mengerikan

@Ikadanews - Inilah Ritual Kedewasaan Suku-suku Terpencil Yang Mengerikan - Jauh didalam pedalaman hutan Amazon ada sisi menarik dari ritual kedewasaan dari suku Satere-Mawe. Para pemuda dari suku Satere- mawe harus memasukkan tangan ke dalam "sarung tangan" yg terbuat dari anyaman yg penuh dengan semut peluru (bullet ant) untuk mencapai kedewasaan mereka. Dan hal itu dilakukan selama kurang lebih 10 menit tanpa boleh berteriak dan dilakukan selama berulang kali, bahkan bisa mencapai 20 kali.

Semut2 diletakkan di sarung tangan yang terbuat dari anyaman tumbuhan, dengan taring sengat mengarah ke dalam. Sebelumnya semut2 tsb telah di berikan cairan yg membuat semut2 tak sadarkan diri . Setelah semut2 tsb sadar, dimulailah ritual tsb.

Menurut "schmidt sting pain index" Semut peluru dari amazon terkenal mempunyai sengat paling menyakitkan di antara semua semut2 jenis lain yg ada di seluruh dunia. Kulit akan terasa terbakar apabila terkena sengatan semut ini dan rasa nyeri sengatan tersebut akan bertahan selama 24 jam.

Mardudjara circumcision - aborigin Australia

sunat!, agan2 disini pasti ada yg pernah merasakan di sunat, orang2 tua bilang rasanya mirip digigit semut(bohong nih...hehehe). Ritual sunat bagi suku Mardudjara agak sedikit berbeda dari biasanya. Ketika para pemuda suku Mardudjara sudah mendekati umur dewasa, para pemuda tersebut di haruskan bersunat, yaitu sekitar umur 15 - 16 tahun.

Dalam ritual sunat ini sang pemuda ditelentangkan di dekat api unggun, kemudian dada si pemuda tsb di duduki oleh kepala suku dgn menghadap ke arah kemaluan si pemuda tsb. Kemudian kulit anunya di potong dgn menggunakan pisau yg sudah dijampi2. Tapi Proses ritual tidak berhenti sampai disini Setelah proses pemotongan tsb selesai si kepala suku memerintahkan si pemuda untuk membuka mulut, dan kemudian si pemuda di haruskan menelan kulit anu nya sendiri tanpa harus dikunyah.

Maasai warrior – Kenya, Tanzania
Para pemuda suku Maasai Kenya dan Tanzania memiliki serangkaian Ritual peralihan yang membawa anak laki-laki menuju kedewasaan. sekitar umur 10 atau 15 tahun yg akan dijadikan prajurit2 yg baru.

Malam sebelum upacara, setiap anak laki-laki tsb akan dibawa tidur di hutan dan kembali pada waktu fajar.

Setelah kembali ke perkampungan, Mereka di haruskan minum susu yg di campur dgn darah sapi dan kemudian di sunat. Setelah disunat, semua suku Maasai akan menganggap dia seorang pria, pahlawan, dan pelindung dari desanya.

Land Diving Vanuatu, negara kepulauan pasifik selatan

Bungee jumping, semua orang pasti sudah mengenal olahraga ekstrem ini, tapi Di Vanuatu, bungee jumping tersaji lain dari yg biasanya kita jumpai.

Pada musim panen sekitar bulan2 april - mei, diselenggarakan Sebuah ritual kedewasaan oleh suku Vanuatu di pulau pasifik. Dimana Para pemuda yg beranjak dewasa diharuskan memanjat konstruksi tiang2 kayu setinggi 30 meter bahkan lebih, lalu melompat dari atas dengan kecepatan jatuh kurang lebih 72km/h. Yang menahan mereka hanyalah seutas tanaman merambat yg dibuat menjadi sebuah tali tambang panjang yg hanya di ikat di kedua kakinya. Salah perhitungan berarti nyawa melayang!

Parahnya lagi, dalam ritual ini KEPALA HARUS SETIDAKNYA MENYENTUH TANAH! Ritual ini telah ada setidaknya sejak 15 abad yg lalu, ritual ini bertujuan untuk persembahan bagi dewa2 mereka atas panen yg melimpah dan juga untuk mempersiapkan para pemuda2 matang menjadi laki2 sejati.

Sambia – Papua New Guinea
suku Sambia di pedalaman Papua new guinea memiliki ritual kedewasaan yg terbilang unik dan ekstrim.
Pada permulaan anak laki2 yg berumur 7 tahun akan di pisahkan dari ibunya dan di tempatkan di sebuah pondok yg semuanya adalah laki2.

Setelah dipisahkan dari wanita-wanita, anak2 muda akan mengikutii beberapa ritual yg terbilang berbahaya.

Yang pertama adalah penyedotan darah dari hidung dgn cara menusukan rumput tajam ke dalam hidung sang bocah sampai darah mengalir dgn deras. Dan kemudian anak2 tsb dipukuli oleh banyak orang laki2 dewasa. Yg kedua adalah anak2 tsb di haruskan meminum air sperma dari tetua2 adat suku Sambia. Tujuan dari ritual ini adalah untuk menguatkan anak-anak mereka dan mempersiapkan mereka untuk hidup sebagai prajurit.

Bull Jumping Hamar - Ethiopia
pernikahan adalah suatu peristiwa yg sangat didambakan bagi pasangan yg sedang di mabuk cinta.

bagi suku hamar di ethiopia, dalam ritual melamar calon pengantin wanita, para pria di wajibkan mengikuti syarat tertentu kepada calon mempelai pria. yaitu para pria diharuskan melompati kerbau2 yg sedang bergerak dalam keadaan tanpa busana. empat kerbau harus dilompati dan kemudian kembali lagi ke kerbau pertama, barulah setelah itu si ayah mertua merestui pernikahan mereka.

Mandan hook hanging – Native American

penduduk asli amerika yg disebut suku Indian memiliki ritual2 yg berbeda2 di setiap sukunya, dan yg agak menarik adalah dari suku Mandan. Sebelum ritual di selenggarakan, para laki2 suku Mandan di haruskan berpuasa selama 3 hari untuk membersihkan tubuh dari kotoran.

Kemudian pada hari ritual dilaksanakan, ketua suku akan mengaitkan dada mereka dengan 2 buah stik kayu dan diikat dgn dua buah tali kemudian di gantungkan di langit2 tenda dan tidak di perbolehkan berteriak maupun menangis sampai pemuda tersebut tak sadarkan diri. Setelah para ketua suku yakin bahwa si pemuda tsb tak sadarkan diri, barulah si pemuda tsb di lepaskan dari kait penyangganya.

Baca: Suku Karo, Sebuah Etnis Asli Indonesia

@Ikadanews - Baca: Suku Karo, Sebuah Etnis Asli Indonesia - Karo merupakan sebuah suku yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Sumatera Utara. Suku Karo yang dalam bahasa aslinya disebut Kalah Karo merupakan salah satu suku asli di Sumatera Utara. Suku ini memiliki bahasanya sendiri, yaitu bahasa Karo atau Cakap Karo dan aksaranya sendiri.

SEJARAH AWAL KARO
Kerajaan Haru-Karo (Kerajaan Aroe) mulai menjadi kerajaan besar di Sumatera, namun tidak diketahui secara pasti kapan berdirinya. Namun demikian, Brahma Putra, dalam bukunya "Karo dari Zaman ke Zaman" mengatakan bahwa pada abad 1 Masehi sudah ada kerajaan di Sumatera Utara yang rajanya bernama "Pa Lagan". Menilik dari nama itu merupakan bahasa yang berasal dari suku Karo (Darwan Prinst, SH :2004). Hal ini menjadi sebuah pertanyaan besar dikalangan peneliti.
Dalam sebuah naskah kuno mengenai suku Karo, diceritakan bahwa leluhur orang Karo adalah Putri Kerajaan Aroe dan Umang (mahluk yang diyakini memiliki fisik seperti manusia, tetapi tumit kakinya berada di depan). Namun, beberapa tetua Karo mengatakan bahwa suku Karo tidak berasal dari satu darah yang sama (berbeda dengan suku Batak Toba yang diyakini merupakan keturunan dari Si Raja Batak).

MARGA dan IKATAN PERSAUDARAAN
Dalam suku Karo terdapat marga yang bersifat patrineal (berasal dari pihak ayah/diturunkan dari ayah) namun tetap membawa marga ibu-nya(beru ibunya) yang disebut bere. Misalnya seorang anak ayahnya bermarga A, dan ibunya bermarga(berberu) B, maka si anak dikatakan bermarga A bere B. Dalam suku Karo marga disebut merga yang secara etimologis berasal dari kata meherga yang berarti berharga, jadi marga sangat berharga bagi masyarakat Karo.
Dalam suku Karo terdapat lima marga induk yang disebut MERGA SILIMA. Lima marga induk tersebut antara lain:
  1. Sembiring
  2. Ginting
  3. Tarigan
  4. Karo Karo
  5. Perangin-angin
Kelima marga induk tersebut juga memiliki beberapa sub-marga. Sub marga dalam Karo ada diyakini ada yang asli suku Karo dan ada pula yang berasal dari negara lain.Sub marga tersebut yaitu
1. Sembiring
Sembiring terdiri dari:
  1. Kembaren (boleh memakan anjing)
  2. Sinulaki (boleh memakan anjing)
  3. Keloko (boleh memakan anjing)
  4. Pandia (tidak boleh memakan anjing,diduga berasal dari India)
  5. Gurukinayan (tidak boleh memakan anjing)
  6. Brahmana (tidak boleh memakan anjing,diduga berasal dari India)
  7. Meliala (tidak boleh memakan anjing,diduga berasal dari India)
  8. Depari (tidak boleh memakan anjing)
  9. Pelawi (tidak boleh memakan anjing)
  10. Maha (tidak boleh memakan anjing)
  11. Sinupayung (boleh memakan anjing)
  12. Colia (tidak boleh memakan anjing)
  13. Pandebayang (tidak boleh memakan anjing)
  14. Tekang (tidak boleh memakan anjing,diduga berasal dari India)
  15. Muham (tidak boleh memakan anjing,diduga berasal dari India)
  16. Busok (tidak boleh memakan anjing)
  17. Sinukaban (tidak boleh memakan anjing)
  18. Keling (tidak boleh memakan anjing)
  19. Bunu Aji (tidak boleh memakan anjing)
  20. Sinukapar (tidak boleh memakan anjing)
2. Ginting
Ginting terdiri dari:
  1. Babi
  2. Sugihen
  3. Gurupatih
  4. Ajartambun
  5. Capah
  6. Beras
  7. Garamata
  8. Jadibata
  9. Suka
  10. Manik
  11. Sinusinga
  12. Jawak
  13. Seragih
  14. Tumangger
  15. Pase
3. Tarigan
Tarigan terdiri dari:
  1. Sibero
  2. Tambak
  3. Silangit
  4. Tua
  5. Tegur
  6. Gersang
  7. Gerneng
  8. Gana-gana
  9. Jampang
  10. Tambun
  11. Bondong
  12. Pekan
  13. Purba
4. Karo Karo
Karo Karo terdiri dari:
  1. Sinulingga
  2. Surbakti
  3. Kacaribu
  4. Sinukaban
  5. Barus
  6. Simbulan
  7. Jung
  8. Purba
  9. Ketaren
  10. Gurunsinga
  11. Kaban
  12. Sinuhaji
  13. Sekali
  14. Kemit
  15. Bukit
  16. Sinuraya
  17. Samura
  18. Sitepu
5. Perangin-angin
Perangin-angin terdiri dari:
  1. Namohaji
  2. Sukatendel
  3. Mano
  4. Sebayang
  5. Pencawa
  6. Sinurat
  7. Perbesi
  8. Ulunjandi
  9. Penggarus
  10. Pinem
  11. Uwir
  12. Laksa
  13. Singarimbun
  14. Keliat
  15. Kacinambun
  16. Bangun
  17. Tanjung
  18. Benjerang
Itulah keseluruhan marga yang terdapat dalam suku Karo.
Dalam ikatan persaudaraan dikenal istilah Rakut Sitelu, Tutur Siwaluh, dan Perkade-kaden si Sepuluh Dua tambah Sada.

1. Rakut Sitelu
Dalam suku Karo posisi Rakut Sitelu sangatlah penting. Rakut Sitelu dapat diumpamakan sebagai tungku kaki tiga. Jika salah satu unsur tidak ada maka akan terjadi ketimpangan. Rakut sitelu terdiri atas
  1. Kalimbubu, secara sederhana dapat diartikan keluarga istri.
  2. Anak Beru, secara sederhana dapat diartikan sebagai keluarga yang memperistri
  3. Senina, diartikan sebagai keluarga satu marga.
Dalam suku Karo, jika diadakan suatu aktivitas adat, maka yang menjalankan kegiatan adat tersebut adalah Rakut Sitelu.

2. Tutur Siwaluh
Tutur siwaluh adalah konsep kekerabatan masyarakat Karo, yang berhubungan dengan penuturan. Tutur Siwaluh terdiri dari:
  1. Puang kalimbubu adalah kalimbubu dari kalimbubu seseorang atau Puang kalimbubu adalah kelompok kalimbubu dari kelompok pemberi dara
  2. Kalimbubu adalah kelompok pemberi isteri kepada keluarga tertentu, kalimbubu ini dapat dikelompokkan lagi menjadi: Kalimbubu bena-bena atau kalimbubu tua, yaitu kelompok pemberiisteri kepada kelompok tertentu yang dianggap sebagai kelompok pemberi isteri adal dari keluarga tersebut. Misalnya A bermerga Sembiring bere-bere Tarigan, maka Tarigan adalah kalimbubu Si A. Jika A mempunyai anak, maka merga Tarigan adalah kalimbubu bena-bena/kalimbubu tua dari anak A. Jadi kalimbubu bena-bena atau kalimbubu tua adalah kalimbubu dari ayah kandung.
    a. Kalimbubu simada dareh adalah berasal dari ibu kandung seseorang. Kalimbubu simada dareh adalah saudara laki-laki dari ibu kandung seseorang. Disebut kalimbubu simada dareh karena merekalah yang dianggap mempunyai darah, karena dianggap darah merekalah yang terdapat dalam diri keponakannya.
    b. Kalimbubu iperdemui, berarti kalimbubu yang dijadikan kalimbubu oleh karena seseorang mengawini putri dari satu keluarga untuk pertama kalinya. Jadi seseorang itu menjadi kalimbubu adalah berdasarkan perkawinan.
  3. Senina, yaitu mereka yang bersadara karena mempunyai merga dan submerga yang sama.
  4. Sembuyak, secara harfiah se artinya satu dan mbuyak artinya kandungan, jadi artinya adalah orang-orang yang lahir dari kandungan atau rahim yang sama. Namun dalam masyarakat Karo istilah ini digunakan untuk senina yang berlainan submerga juga, dalam bahasa Karo disebut sindauh ipedeher (yang jauh menjadi dekat).
  5. Sipemeren, yaitu orang-orang yang ibu-ibu mereka bersaudara kandung. Bagian ini didukung lagi oleh pihak siparibanen, yaitu orang-orang yang mempunyai isteri yang bersaudara.
  6. Senina Sepengalon atau Sendalanen, yaitu orang yang bersaudara karena mempunyai anak-anak yang memperisteri dari beru yang sama.
  7. Anak beru, berarti pihak yang mengambil isteri dari suatu keluarga tertentu untuk diperistri. Anak beru dapat terjadi secara langsung karena mengawini wanita keluarga tertentu, dan secara tidak langsung melalui perantaraan orang lain, seperti anak beru menteri dan anak beru singikuri. Anak beru ini terdiri lagi atas:
    a. Anak beru tua, adalah anak beru dalam satu keluarga turun temurun. Paling tidak tiga generasi telah mengambil isteri dari keluarga tertentu (kalimbubunya). Anak beru tua adalah anak beru yang utama, karena tanpa kehadirannya dalam suatu upacara adat yang dibuat oleh pihak kalimbubunya, maka upacara tersebut tidak dapat dimulai. Anak beru tua juga berfungsi sebagai anak beru singerana (sebagai pembicara), karena fungsinya dalam upacara adat sebagai pembicara dan pemimpin keluarga dalam keluarga kalimbubu dalam konteks upacara adat.
    b. Anak beru cekoh baka tutup, yaitu anak beru yang secara langsung dapat mengetahui segala sesuatu di dalam keluarga kalimbubunya. Anak beru sekoh baka tutup adalah anak saudara perempuan dari seorang kepala keluarga. Misalnya Si A seorang laki-laki, mempunyai saudara perempuan Si B, maka anak Si B adalah anak beru cekoh baka tutup dari Si A. Dalam panggilan sehari-hari anak beru disebut juga bere-bere mama.
  8. Anak beru menteri, yaitu anak berunya anak beru. Asal kata menteri adalah dari kata minteri yang berarti meluruskan. Jadi anak beru minteri mempunyai pengertian yang lebih luas sebagai petunjuk, mengawasi serta membantu tugas kalimbubunya dalam suatu kewajiban dalam upacara adat. Ada pula yang disebut anak beru singkuri, yaitu anak berunya anak beru menteri. Anak beru ini mempersiapkan hidangan dalam konteks upacara adat.

3. Perkaden-kaden Si Sepuluh Dua tambah Sada
Perkaden-kaden Si Sepuluh Dua tambah Sada ialah bentuk kekerabatan saudara terdekat dalam bentuk panggilan, yaitu:
  1. Nini
  2. Bulang
  3. Kempu
  4. Bapa
  5. Nande
  6. Anak
  7. Bengkila
  8. Bibi
  9. Permen
  10. Mama
  11. Mami
  12. Bere-bere
  13. Tambah Sada ialah mereka orang-orang terdekat diluar lingkup keluarga seperti sahabat.

Sumber

Belajar Kesederhanaan dari Suku Kajang di Sulawesi

@Ikadanews - Belajar Kesederhanaan dari Suku Kajang di Sulawesi - Suku Kajang, salah satu suku tradisional, yang terletak di Sulawesi Selataan, tepatnya sekitar 200 km arah timur kota Makassar. Suku ini mempunyai ciri khas khusus dengan pakaian serba hitam, memakai sorban warna hitam, dan tanpa alas kaki, walau panas terik matahari, atau berjalan ke kota sekalipun.
Mereka memegang tradisi nenek moyang yang disebut dengan “pappasang”, semacam hukum tidak tertulis yang tidak boleh dilanggar. Siapa yang melanggar akan kena “pangellai”, teguran atau hukuman. Salah satu bunyi hukum yang ada dalam “pappasang” adalah “Kajang, tana kamase-masea”, yang artinya tidak jauh dengan, “Kajang tanah yang sederhana/miskin”.
Dengan adanya “pappasang” ini, sehingga orang-orang yang berdiam dalam kompleks adat suku kajang, tidak mau menerima yang namanya kemegahan dunia. Siapa yang mau kaya, harus keluar dari kompleks adat, karena tanah Kajang sendiri tidak menyiapkan kekeyaan itu, karena sudah disebutkan dalam “pappasang”.

Kemegahan dunia yang dimaksud berdasarkan interpretasi “amma toa” (Kepala Adat Suku Kajang) dan orang-orang suku kajang adalah menolak paham dari luar ataupun program-promgam pemerintah yang dianggap dapat mengancam keberadaan mereka, atau akan melanggar ”pappasang, Kajang tana kamase-masea”. Di kompleks adat Kajang, jangan anda mencari tempat untuk cash HP kalau baterai HP anda lagi low bet, karena di situ tidak tersedia listrik. Ketidakadaan listrik di dalam kompleks adat, bukan karena tidak tersentuh oleh program pemerintah, tetapi “amma toa” sendiri yang menolak di pasang listrik, karena dianggap akan melanggar “pappasang”, karena listrik di anggap sebuah kemewahan. Padahal keberadaan listrik di Kajang Luar sudah ada sejak tahun 1980-an. Perlu di ketahui, Kajang di bagi dua secara geografis, yaitu kajang dalam (suku kajang, mereka di sebut “tau Kajang”) dan kajang luar (orang-orang yang berdiam di sekitar suku kajang yang relatif lebih modern, mereka di sebut “tau Lembang”).

Bukan hanya listrik yang dilarang masuk di suku Kajang, tetapi segala sesuatu yang dianggap melanggar “pappasang, Kajang, tana kamase-masea”. Contoh lainnya adalah pembangunan jalan raya, kendaraan, sekolah, bahkan cara berpakain sekalipun. Memasuki kompleks adat, anda akan dilarang untuk memakai pakaian yang mencolak, yang mencerminkan kemewahan, misalnya dengan warna merah, atau memakai sandal atau sepatu, anda akan di kenakan sanksi adat ataupun tidak dibiarkan masuk ke kompleks adat.
Ciri khas lain, suku Kajang yang dapat dilihat adalah dari bentuk rumah yang unik. Bangunan rumah khas Sulawesi Selatan secara umum adalah rumah panggung. Tapi suku Kajang mempunyai ke unikan bentuk rumah panggung tersendiri yakni, dapurnya terletak di depan, menghadap jalan utama. Jadi, kalau anda memasuki salah satu rumah “tau Kajang”, yang pertama nampak adalah dapur. Ini melambangkan kesederhaan, dan mau menunjukkan apa adanya.

Melihat keadaan alam suku Kajang, masih sangat asli. Di dalam kompleks adat ada sebuah hutan, dimana masyarakat di larang mengambil kayunya, walau itu hanya untuk kayu bakar sekalipun, yaitu hutan “Karanjang”. Kalau ada yang melanggar, akan di kenakan sanksi adat. Hutan “Karanjang” sendiri adalah tempat untuk ber-haji-nya orang-orang Kajang (tau Kajang). Sehingga hutan “Karanjang” tidak lepas dari penjagaan adat dan penuh dengan bau mistic.

Suku unik, alami, sederhana, alam yang masih asri, hutan yang masih terjaga, dan lain-lain, menjadikan Kajang adalah salah satu pavorit wisata budaya. Salah satu yang membuat terhambatnya wisata kesana adalah, ketakutan orang luar memasuki Kajang. Karena mendengar orang Kajang sendiri orang akan takut akan “dotinya”, semacam sihir dan kekuatan ghaib yang bisa mematikan. Selain itu, “tau kajang” sendiri agak tertutup dengan orang-orang luar.

Orang-orang Eropa yang berwisata ke pasir putih, daerah wisata tanjung Bira, Bulukumba sekitar 30 km dari Kajang, biasanya tidak melewatkan suku Kajang sebagai salah satu favorite wisata budaya mereka. Apalagi jika orang Eropa itu adalah orang-orang Belanda, secara khusus mempunyai nama tersendiri di dalam “pappasang” suku Kajang. Di dalam “pappasang” hubungan antara orang-orang Kajang dan orang-orang Belanda ada hubungan “saudara”. Hubungan antara “tau Kajang” dengan Belanda sangat erat dalam ikatan darah dan budaya.

Daftar Suku-Suku di Dunia yang Memiliki Sihir Paling Kuat

1. Gypsy
Kata Gypsy adalah berasal dari lepasan Mesir, tetapi paling baik diterapkan untuk dipahami adalah Gypsy sebagai pengembara, ras misterius, tersebar di seluruh Eropa dan bagian Asia, Afrika, dan Amerika.

Sebenarnya suku Gypsy adalah orang yang tidak mempunyai rumah permanen, atau disebut nomaden. Tetapi jika saja kita mempermalukan mereka, maka mereka pun tidak segan-segan mengeluarkan kata-kata berbau kematian kepada kita.

Sihir :
Mungkin Lamia merupakan sihir paling buruk yang digunakan orang Gypsy. Biasanya sihir ini digunakan untuk hukuman.

Cara kerjanya adalah dengan mengambil sesuatu milik kita, entah kancing, pena, dll, dan mengucapkan mantra kepada benda tersebut. Lamia mengambil jiwanya setelah beberapa hari, dan membawanya ke siksaan tak berujung. Satu hal yang perlu diingat, jangan tertipu oleh dandanan mereka.



2. Indian
Suku Indian adalah historis suku, bangsa, atau kelompok lain atau komunitas masyarakat adat di Amerika. Beberapa suku Indian diakui di tingkat negara bagian dengan menggunakan prosedur yang didefinisikan oleh berbagai negara, tanpa memperhatikan pengakuan federal.

Suku-suku lain yang tidak dikenal karena mereka sudah tidak ada lagi sebagai suatu kelompok yang terorganisir atau karena mereka belum menyelesaikan proses sertifikasi yang didirikan oleh badan pemerintah yang bersangkutan.


Sihir :
Sihir terjahat masyarakat pedalaman Amerika ini adalah Na Munda. Ini berbeda dengan voodoo yang ada di Haiti. Biasanya suku Indian melakukan sihir ini dengan memanggil arwah dengan menggunakan badan mereka dengan nyanyian atau mantra dan tarian-tarian khusus.

Sihir ini akan menyebabkan kematian tanpa bekas. Belakangan ini, sihir ini juga digunakan untuk menyembuhkan dan peramalan.



3. Bulgarian Mystery
Bulgarian Mystery merupakan kumpulan orang dari Bulgaria yang memiliki sihir tingkat tinggi jarak jauh. Sihir ini digunakan untuk perebutan wilayah pada zaman pembagian daerah di Eropa Timur.


Sihir :
Sihir paling mengerikan masyarakat Bulgaria adalah nyanyian. Malka Moma yang dinyanyikan dengan nada tinggi merupakan sihir yang unik dan berbeda dari suku lainnya.

Tetapi, sekarang sihir ini sudah tidak ada lagi. Sekarang sudah dijadikan budaya masyarakat Bulgaria dalam menyanyi, karna sihir ini termaksud sihir nyanyian yang indah.



4. Kiyuku
Kiyuku adalah nama dari sebuah suku di Afrika, merupakan pecahan dari Murci dan Dassanech. Kiyuku mencari tempat dengan cara berpindah-pindah dari kawasan Afrika sampai ke Ethiopia.

Sihir :
Sihir yang dimiliki adalah Kiyuku Dancer atau tarian Kiyuku. Masyarakat setempat sendiri belum mengetauhi dengan jelas apa yang dimaksud dengan tarian tersebut.

Ada yang bilang menurunkan hujan, santet, bahkan ada beberapa yang mengatakan orang-orang ini dapat mengubah gurun menjadi salju



5. Mayan
Mayan merupakan kumpulan orang-orang luar biasa yang berada di pedalaman hutan Mexico dan Guatemala. Merupakan suku yang paling modern pada zaman tersebut karena sudah dapat menghitung kalender bintang, dan merupakan ahli matematika.


Sihir :
Jangan berpikir bahwa Maya hanya suku yang mempunyai kemampuan berhitung saja, Toltec adalah nama, atau julukan kepada tetua Maya, atau bisa disebut orang bijak.

Mereka memiliki kemampuan dapat memanggil hujan, kekuatan dalam perang, dan memunculkan matahari dengan melakukan sesembahan berupa jantung manusia yang tidak lain berasal dari suku mereka atau musuh. Suku inilah yang memerangi bangsa Indian.



6. Maasai
Maasai merupakan suku yang berasal dari Kenya. Arrogant, Fearless, dan Free, merupakan julukan yang cocok bagi mereka. Selama 100 tahun, Maasai tidak mengambil atau terpaku kepada aturan, damai dalam berperang, uang untuk hidup, dsb.


Sihir :
Maasai tidak berdasarkan kepada sihir dan guna-guna. Mereka cenderung berdoa dan memiliki dewa yang bernama Enkai. Tidak heran kenapa suku Maasai dinamakan “Warriors”. Konon dengan bantuan dari Enkai, mereka dapat berlari secepat singa dan juga menjadi kebal.

Sebuah Jalan Kuno Suku Maya di El Salvador Ditemukan

@Ikadanews.info - Sebuah Jalan Kuno Suku Maya di El Salvador Ditemukan - Arkeolog kembali melakukan penggalian di sebuah desa Maya yang terkubur gunung api 1.400 tahun lalu di El Salvador. Di sana, mereka menemukan jalan kuno menuju kota Maya.

University of Colorado di Boulder (CU-Boulder), Kolorado, mengatakan, jalan yang disebut ‘sacbe’ ini selebar 1,8 meter dan terbuat dari debu vulkanik putih dari letusan terdahulu yang menopang ujung-ujungnya seperti ditulis UPI.

Para warga Maya di desa yang dulu disebut Ceren membuat jalan itu pada 600. Profesor antropologi Payson Sheets di CU-Boulder mengatakan, dalam Yucatan Maya, kata ‘sacbe’ berarti ‘jalan putih’ dan digambarkan sebagai jalan kuno tinggi yang dibangun dengan plester gamping yang menghubungkan kuil, plaza, dan kota.

“Hingga temuan ini, jalan ini hanya dikenal dari area Yucatan di Meksiko dan semuanya dibangun dengan garis batu. Butuh preservasi luar biasa di Ceren untuk memberitahu kita, Maya juga membuat jalannya dari batu,” paparnya.